Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Stop Justifying, Start Improving: Mengubah Alasan Menjadi Pembelajaran



Images by: Relational Riffs


Pernah nggak sih Puan ngalamin momen kayak gini:
 “Aku telat ngerjain tugas karena emang sibuk banget.”  
“Yaudah lah, gagal lagi… mungkin emang bukan jalanku.” 
“Aku kerja lebih bagus kalau mepet deadline kok.”

Kedengeran familiar? Yup, itu contoh self-justification alias kebiasaan membenarkan diri biar Puan nggak ngerasa bersalah. Dalam hidup, kita semua pasti pengen keliatan baik-baik aja. Jadi ketika bikin kesalahan, otak kita sering buru-buru nyari alasan biar rasa nggak nyaman nya hilang. Itu wajar banget, manusiawi. Tapi kalau keseringan, kita malah jadi nggak belajar apa-apa.

Apa sih Self-Justification itu?
Nah, Self-justification adalah proses ketika seseorang berusaha membenarkan diri supaya tetap merasa benar, meskipun tindakannya sebenarnya bertentangan dengan nilai atau keyakinannya sendiri. Dalam kata lain, dia sadar telah melakukan kesalahan. Menurut Leon Festinger dengan teorinya cognitive dissonance, self-justification muncul karena otak kita nggak nyaman saat ada konflik antara perilaku dan keyakinan. Jadi, untuk mengurangi rasa nggak nyaman itu, kita bikin alasan yang sering kali tanpa sadar, agar tetap bikin diri kita merasa benar dan baik-baik aja. 
 
Tapi, Kenapa Self-Justification Bisa Bahaya? 
1. Stuck di Zona Nyaman 
Karena selalu punya alasan, Puan nggak pernah beneran coba keluar dan berkembang. 
2. Sulit Terima Kritik 
Kritik jadi terasa kayak serangan, padahal sebenarnya bisa jadi bahan belajar buat bikin Puan lebih baik lagi kedepannya. 
3. Kehilangan Peluang 
Kesempatan bisa lewat karena Puan sibuk cari alasan, bukan solusi. 
4. Growth Terhambat
Puan nggak sadar udah lama jalan di tempat, sementara orang lain udah melangkah jauh karena belajar dari kesalahan. 

Nah, Jadi Gimana Cara Ngatasinnya? 
1. Sadari Polanya 
Setiap kali mau cari alasan, berhenti sebentar dan coba tanya ke diri sendiri: “Aku lagi cari pembenaran karena aku emang benar atau aku cuma nggak mau terlihat salah?” 
2. Ubah Alasan jadi Rencana 
Daripada bilang “Aku gagal karena nggak cocok,” Puan bisa ubah jadi “Aku gagal karena kurang persiapan. Next time aku bakal belajar lebih awal.” Ini bakal bikin kita jauh lebih berkembang kedepannya. 
3. Terima Kesalahan 
Kesalahan bukan akhir dari segalanya. Semakin cepat Puan terima, semakin cepat juga Puan bisa refleksi dan perbaiki. 
4. Fokus ke Progress, Bukan Ego 
Nggak apa-apa keliatan salah atau kurang. Yang penting, Puan tumbuh dan terus naik level. 

Self-justification itu wajar dan manusiawi, bahkan menurut teori Leon Festinger, itu bagian dari usaha otak kita buat mengurangi rasa nggak nyaman saat ada benturan nilai dan tindakan. Tapi kalau kebiasaan ini terlalu sering dipelihara, justru bisa jadi penghalang buat kita berkembang. Jadi, yuk belajar lebih jujur sama diri sendiri. Bukan sibuk cari alasan, melainkan lebih fokus ke solusi. Karena setiap kali kita berani mengakui kekurangan, itu sebenarnya langkah pertama menuju versi diri yang lebih kuat.



Referensi: 

Author & Editor: Anisa Zahara

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...