Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...
Images by: Relational Riffs
Pernah nggak sih Puan ngalamin momen kayak gini:
“Aku telat ngerjain tugas karena emang sibuk banget.”
“Yaudah lah, gagal lagi… mungkin emang bukan jalanku.”
“Aku kerja lebih bagus kalau mepet deadline kok.”
Kedengeran familiar? Yup, itu contoh self-justification alias kebiasaan membenarkan diri biar Puan nggak ngerasa bersalah. Dalam hidup, kita semua pasti pengen keliatan baik-baik aja. Jadi ketika bikin kesalahan, otak kita sering buru-buru nyari alasan biar rasa nggak nyaman nya hilang. Itu wajar banget, manusiawi. Tapi kalau keseringan, kita malah jadi nggak belajar apa-apa.
Apa sih Self-Justification itu?
Nah, Self-justification adalah proses ketika seseorang berusaha membenarkan diri supaya tetap merasa benar, meskipun tindakannya sebenarnya bertentangan dengan nilai atau keyakinannya sendiri. Dalam kata lain, dia sadar telah melakukan kesalahan.
Menurut Leon Festinger dengan teorinya cognitive dissonance, self-justification muncul karena otak kita nggak nyaman saat ada konflik antara perilaku dan keyakinan. Jadi, untuk mengurangi rasa nggak nyaman itu, kita bikin alasan yang sering kali tanpa sadar, agar tetap bikin diri kita merasa benar dan baik-baik aja.
Tapi, Kenapa Self-Justification Bisa Bahaya?
1. Stuck di Zona Nyaman
Karena selalu punya alasan, Puan nggak pernah beneran coba keluar dan berkembang.
2. Sulit Terima Kritik
Kritik jadi terasa kayak serangan, padahal sebenarnya bisa jadi bahan belajar buat bikin Puan lebih baik lagi kedepannya.
3. Kehilangan Peluang
Kesempatan bisa lewat karena Puan sibuk cari alasan, bukan solusi.
4. Growth Terhambat
Puan nggak sadar udah lama jalan di tempat, sementara orang lain udah melangkah jauh karena belajar dari kesalahan.
Nah, Jadi Gimana Cara Ngatasinnya?
1. Sadari Polanya
Setiap kali mau cari alasan, berhenti sebentar dan coba tanya ke diri sendiri: “Aku lagi cari pembenaran karena aku emang benar atau aku cuma nggak mau terlihat salah?”
2. Ubah Alasan jadi Rencana
Daripada bilang “Aku gagal karena nggak cocok,” Puan bisa ubah jadi “Aku gagal karena kurang persiapan. Next time aku bakal belajar lebih awal.” Ini bakal bikin kita jauh lebih berkembang kedepannya.
3. Terima Kesalahan
Kesalahan bukan akhir dari segalanya. Semakin cepat Puan terima, semakin cepat juga Puan bisa refleksi dan perbaiki.
4. Fokus ke Progress, Bukan Ego
Nggak apa-apa keliatan salah atau kurang. Yang penting, Puan tumbuh dan terus naik level.
Self-justification itu wajar dan manusiawi, bahkan menurut teori Leon Festinger, itu bagian dari usaha otak kita buat mengurangi rasa nggak nyaman saat ada benturan nilai dan tindakan. Tapi kalau kebiasaan ini terlalu sering dipelihara, justru bisa jadi penghalang buat kita berkembang.
Jadi, yuk belajar lebih jujur sama diri sendiri. Bukan sibuk cari alasan, melainkan lebih fokus ke solusi. Karena setiap kali kita berani mengakui kekurangan, itu sebenarnya langkah pertama menuju versi diri yang lebih kuat.
Referensi:
Author & Editor: Anisa Zahara

Komentar
Posting Komentar