Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

#Girlhood, Tren yang Memaknai Perjuangan Sesama Perempuan




by Bincang Perempuan

Kalau Puan aktif di social media, mungkin tren ini ga asing lagi buat Puan. Tren dengan foto-foto tone hangat, barang-barang serba pink yang girly, atau foto pertemanan khas anak muda dengan tagar #Girlhood. Tren ini bukan cuma tentang foto-foto visual yang cantik tapi sebenarnya mengangkat sisi emosional dan perjuangan perempuan dalam menjalani hidup mereka.

Apa sih sebenernya Girlhood itu? 

Menurut Cambridge Dictionary, girlhood merujuk pada fase kehidupan remaja perempuan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, seorang perempuan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, fase ini juga diwarnai dengan pergolakan batin, rasa bingung dan bahkan krisis identitas.

Lalu kenapa tren #Girlhood bisa relevan? 

Tren ini hadir di tengah kebutuhan banyak remaja perempuan untuk dapat dipahami dan divalidasi perasaannya oleh orang sekitar. Di balik unggahan-unggahan manis berisi foto estetik di social media, tersimpan keresahan yang kerap kali tidak terdengar, sering kali ini tentang perasaan tidak cukup, tentang tubuh yang selalu dibandingkan, atau tentang tekanan untuk selalu tampil "baik-baik saja".

Lewat tren girlhood, banyak perempuan akhirnya merasa  punya ruang berbagi cerita yang dulu sulit diucapkan dan ternyata banyak yang merasakan hal sama. “Oh, ternyata bukan aku sendiri yang ngerasa gini.” Dari sanalah muncul kekuatan di atas rasa lega karena akhirnya dimengerti.

Tren ini juga merepresentasikan pergeseran cara perempuan memandang diri mereka sendiri. Dulu, mungkin kita sibuk mengejar standar "perempuan ideal" yang ditentukan orang lain. Tapi sekarang, girlhood mengajak kita untuk berdamai dengan kegagalan, mengakui rasa lelah, dan mencintai versi diri kita yang sedang belajar tumbuh dengan baik dan bukan yang sempurna.

Tren #GirlHood sebagai dukungan sesama Perempuan

Salah satu hal yang menjadi kekuatan dari Girlhood adalah bagaimana tren ini menumbuhkan rasa solidaritas dan dukungan kepada sesama perempuan. Contohnya bisa Puan rasakan ketika seseorang berani bercerita, orang lain merasa terwakili. Saat satu perempuan membagikan pengalamannya tentang kecemasan, misalnya, banyak yang akhirnya merasa, "Aku nggak sendirian." Dari sinilah tumbuh empati. Empati ini tidak hanya hadir di kolom komentar atau fitur repost, tetapi juga di hati, bahwa sesama perempuan saling paham betapa rumitnya tumbuh dalam dunia yang sering kali terlalu menuntut.

Dukungan ini tidak harus besar. Terkadang cuma berupa pesan singkat seperti “kamu nggak salah,” atau sekadar “aku pernah juga.” Tapi efeknya bisa sangat berarti. Girlhood mengingatkan kita bahwa perempuan bukanlah kompetitor, melainkan teman seperjalanan. Perjalanan ini jadi jauh lebih ringan saat dijalani bersama.

Jadi, ketika Puan melihat tagar lain  di media sosial selain #Girlhood yang memaknai perjalanan dari diri perempuan, semoga Puan ingat bahwa ini lebih dari sekadar tren. Ini adalah suara kolektif perempuan yang sedang berusaha memahami diri mereka sendiri dan dalam proses itu, mereka menemukan satu sama lain.

Karena pada akhirnya, girlhood bukan tentang siapa yang paling kuat, paling cantik, atau paling benar. Tapi tentang bagaimana kita saling menemani, saling menerima, dan tumbuh bersama dengan baik.




Referensi

Author : Keisha Najwa Dwi Anggraeni

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...