Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

#Girlhood, Tren yang Memaknai Perjuangan Sesama Perempuan




by Bincang Perempuan

Kalau Puan aktif di social media, mungkin tren ini ga asing lagi buat Puan. Tren dengan foto-foto tone hangat, barang-barang serba pink yang girly, atau foto pertemanan khas anak muda dengan tagar #Girlhood. Tren ini bukan cuma tentang foto-foto visual yang cantik tapi sebenarnya mengangkat sisi emosional dan perjuangan perempuan dalam menjalani hidup mereka.

Apa sih sebenernya Girlhood itu? 

Menurut Cambridge Dictionary, girlhood merujuk pada fase kehidupan remaja perempuan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, seorang perempuan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, fase ini juga diwarnai dengan pergolakan batin, rasa bingung dan bahkan krisis identitas.

Lalu kenapa tren #Girlhood bisa relevan? 

Tren ini hadir di tengah kebutuhan banyak remaja perempuan untuk dapat dipahami dan divalidasi perasaannya oleh orang sekitar. Di balik unggahan-unggahan manis berisi foto estetik di social media, tersimpan keresahan yang kerap kali tidak terdengar, sering kali ini tentang perasaan tidak cukup, tentang tubuh yang selalu dibandingkan, atau tentang tekanan untuk selalu tampil "baik-baik saja".

Lewat tren girlhood, banyak perempuan akhirnya merasa  punya ruang berbagi cerita yang dulu sulit diucapkan dan ternyata banyak yang merasakan hal sama. “Oh, ternyata bukan aku sendiri yang ngerasa gini.” Dari sanalah muncul kekuatan di atas rasa lega karena akhirnya dimengerti.

Tren ini juga merepresentasikan pergeseran cara perempuan memandang diri mereka sendiri. Dulu, mungkin kita sibuk mengejar standar "perempuan ideal" yang ditentukan orang lain. Tapi sekarang, girlhood mengajak kita untuk berdamai dengan kegagalan, mengakui rasa lelah, dan mencintai versi diri kita yang sedang belajar tumbuh dengan baik dan bukan yang sempurna.

Tren #GirlHood sebagai dukungan sesama Perempuan

Salah satu hal yang menjadi kekuatan dari Girlhood adalah bagaimana tren ini menumbuhkan rasa solidaritas dan dukungan kepada sesama perempuan. Contohnya bisa Puan rasakan ketika seseorang berani bercerita, orang lain merasa terwakili. Saat satu perempuan membagikan pengalamannya tentang kecemasan, misalnya, banyak yang akhirnya merasa, "Aku nggak sendirian." Dari sinilah tumbuh empati. Empati ini tidak hanya hadir di kolom komentar atau fitur repost, tetapi juga di hati, bahwa sesama perempuan saling paham betapa rumitnya tumbuh dalam dunia yang sering kali terlalu menuntut.

Dukungan ini tidak harus besar. Terkadang cuma berupa pesan singkat seperti “kamu nggak salah,” atau sekadar “aku pernah juga.” Tapi efeknya bisa sangat berarti. Girlhood mengingatkan kita bahwa perempuan bukanlah kompetitor, melainkan teman seperjalanan. Perjalanan ini jadi jauh lebih ringan saat dijalani bersama.

Jadi, ketika Puan melihat tagar lain  di media sosial selain #Girlhood yang memaknai perjalanan dari diri perempuan, semoga Puan ingat bahwa ini lebih dari sekadar tren. Ini adalah suara kolektif perempuan yang sedang berusaha memahami diri mereka sendiri dan dalam proses itu, mereka menemukan satu sama lain.

Karena pada akhirnya, girlhood bukan tentang siapa yang paling kuat, paling cantik, atau paling benar. Tapi tentang bagaimana kita saling menemani, saling menerima, dan tumbuh bersama dengan baik.




Referensi

Author : Keisha Najwa Dwi Anggraeni

Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...