Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

In This Economy? Ternyata Begini Cara Gen Z Jaga Kualitas Diri dan Waktu!

 





Image by in.pinterest.com 


              Puan pernah nggak sih, lihat orang di media sosial bilang “In this economy?”

Kalimat ini biasanya dipakai untuk menggambarkan betapa sulitnya melakukan sesuatu di tengah kondisi ekonomi yang nggak bersahabat. Harga kebutuhan terus naik, tapi pendapatan segitu-segitu aja.

              Dilansir dari kumparan.com, frasa ini sering digunakan dengan nada sarkas atau humor untuk mengekspresikan frustrasi terhadap ekspektasi sosial yang terasa nggak realistis di situasi seperti sekarang. Sebagai Gen Z, Puan mungkin sering merasakan pengeluaran yang nggak ada habisnya, tuntutan kerja yang semakin tinggi, dan waktu yang terasa sempit. Di satu sisi, Puan ingin upgrade diri, ikut kursus, atau merawat tubuh. Namun di sisi lain, dompet dan energi kadang nggak mendukung.

            

                Di sinilah Priska mau berbagi tips supaya Puan tetap bisa menjaga kualitas diri (self-quality) dan mengelola waktu dengan cerdas, meski di tengah ekonomi yang bikin kita geleng-geleng kepala. Yuk, simak sampai akhir!


Tips Jaga Kualitas Diri dan Waktu di tengah “In This Economy”


  1. Bikin priority map supaya nggak semua terasa mendesak

Pisahkan mana yang urgent (harus segera) dan mana yang important (penting tapi bisa dijadwalkan). Fokus pada hal-hal penting dan utama setiap hari, sisanya anggap sebagai bonus rutinitas. Puan bisa pakai aplikasi gratis seperti Google Kalender atau Notion supaya lebih terstruktur.


  1. Self-care hemat tanpa bikin dompet seret

Self-care nggak harus skincare mahal atau liburan mewah. Puan juga bisa mulai dari journaling, jalan sore, atau masak meal prep yang sehat dan hemat. Kalau mau, coba juga perawatan homemade yang aman dan sesuai dengan kebutuhan kulit, karena yang terpenting dari self-care itu adalah soal konsistensi, bukan gengsi.


  1. Upgrade skill dari sumber gratisan

Banyak kursus gratis yang bisa Puan akses, seperti Coursera, Google Digital Garage, YouTube, atau platform seperti Myskill dan RevoU yang sering mengadakan kelas gratis. Pilih skill yang langsung bisa Puan terapkan di pekerjaan atau side project. Terapkan prinsip 80/20: fokus pada 20% skill yang memberi 80% hasil.


  1. Atur waktu sesuai energi, bukan sekadar jadwal kosong

Coba metode time blocking untuk mengatur jam kerja sesuai ritme energi tubuh Puan. Sisipkan micro-break lima sampai sepuluh menit setiap 90 menit kerja. Hindari multitasking berlebihan karena justru bikin pekerjaan lebih lama selesai.


  1. Bangun support system yang sehat

Temukan lingkungan yang saling mendukung, entah itu teman, komunitas, atau partner kerja. Jangan ragu bilang “tidak” untuk kegiatan yang menyita waktu dan energi tanpa manfaat jelas.


  1. Luangkan waktu untuk hobi

Hobi bisa jadi cara sederhana untuk menjaga kewarasan di tengah kesibukan. Nggak harus mahal, Puan bisa belajar hobi baru lewat TikTok, Instagram, atau YouTube, mulai dari melukis, merajut, masak, sampai berkebun.


Nah, itu dia Puan, sederet langkah kecil yang bisa menjaga kualitas diri dan waktu tanpa bikin kantong jebol. Mungkin terlihat sederhana, tapi kalau dilakukan konsisten, dampaknya bisa besar.


Ekonomi mungkin nggak selalu ramah, Puan.

Namun, arah hidup tetap bisa kita kemudikan.

Langkah kecil yang konsisten akan jadi pijakan, dan hati yang tekun akan jadi kekuatan.

In this economy, we rise, we adapt, we thrive!



Referensi:

Kumparan. (2024, Juni 20). Apa Itu In This Economy? Ini Penjelasannya. Diakses pada 10 Agustus 2025. https://m.kumparan.com/berita-terkini/apa-itu-in-this-economy-ini-penjelasannya-25akQUdEOXV/full


Author & Editor:

Sarah Ardelia

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...