Langsung ke konten utama

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber: aventislearning.com

Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak?

Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak.

Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “positivity berlebihan”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility.

Apa Itu Emotional Agility?

Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan David. Singkatnya, emotional agility adalah kemampuan untuk mengenali, menerima, dan merespons emosi dengan cara yang sehat dan fleksibel. Artinya, alih-alih menganggap emosi sebagai masalah, kita bisa menjadikannya petunjuk untuk lebih mengenali diri.

Kenapa Emotional Agility Penting?

  • Untuk kesehatan mental
    Saat bisa menerima emosi apa adanya, kita jadi lebih ringan dan nggak mudah stres.

  • Untuk karier
    Keluwesan emosi membuat kita lebih tahan banting, adaptif, dan tidak mudah terbawa drama di dunia yang identik dengan perubahan, target, dan tekanan. 

  • Untuk pengembangan diri
    Emosi membantu kita mengenali apa yang benar-benar penting, sehingga keputusan lebih sesuai dengan nilai diri.

Cara Puan Untuk Melatih Emotional Agility

  • Kenali dan beri nama emosi
    Daripada cuma bilang “lagi bad mood”, coba jujur sama diri sendiri, sebenarnya Puan lagi marah, cemas, kecewa, atau takut? Saat emosi diidentifikasi rasanya lebih gampang dikelola.

  • Pisahkan diri dari emosi
    Bedakan antara “aku lagi sedih” dan “aku orang yang sedih”. Dengan cara ini, emosi jadi bagian dari pengalaman, bukan label yang menempel di identitas Puan.

  • Terima tanpa menghakimi
    Nggak ada emosi yang salah. Semua valid. Daripada menolak atau merasa bersalah, coba Puan tanyakan lagi, “Emosi ini sebenarnya mau kasih tahu apa sih ke aku?”

  • Kembali ke nilai diri
    Kalau Puan lagi bingung harus gimana, tanyakan ke diri sendiri: “Apa yang paling penting buatku sekarang?” Jawaban itu bisa jadi kompas buat Puan menentukan langkah selanjutnya.

Kita memang nggak bisa mengatur semua hal dalam hidup, tapi kita selalu bisa mengatur cara meresponsnya. Emotional agility membantu Puan berdamai dengan emosi, Bukan dengan melawan atau larut di dalamnya, tapi dengan menerima dan berjalan berdampingan.

Dengan keterampilan ini, kita bisa menghadapi tantangan dengan lebih tenang, tetap jadi diri sendiri, dan pelan-pelan bertumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat.


Referensi

Author & Editor
Diinaar F. Berlian

Komentar

Rubik Puan Popular

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Teknik Tiga Skenario, Cara untuk Mengurangi Planning Fallacy

  Ilustrasi Perencanaan. Photo by cottonbro (Sumber:  Pexels.com ) Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy . Apa itu Planning Fallacy ?  Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala. Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy .  Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif Untuk mengurangi bias ini, P...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

  Sumber:  istockphoto.com P uan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata? Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill. Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu? Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi. Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill. B...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...