Langsung ke konten utama

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

850 Beauty Enthusiasts Ramaikan Glow Fest 2.0 by Geng Glowing

 



Keseruan Glow Fest 2.0 mempertemukan beauty enthusiasts, creators, dan brand

Jakarta, 8 Maret 2026 – Geng Glowing, komunitas beauty enthusiast yang aktif menghadirkan ruang berbagi seputar skincare dan kecantikan, kembali sukses menyelenggarakan Glow Fest 2.0. Bertempat di The Hub Sinarmas Land Kuningan, acara ini berhasil menarik antusiasme lebih dari 850 partisipan yang terdiri dari anggota komunitas, beauty enthusiasts, serta content creators.

Selama satu hari penuh, para pengunjung yang dikenal sebagai Glowers menikmati berbagai aktivitas menarik. Mulai dari eksplorasi booth brand, talkshow inspiratif, hingga pengalaman mencoba produk kecantikan secara langsung bersama brand-brand ternama.

Pengalaman Interaktif Bersama Berbagai Brand

Glow Fest 2.0 dibuka dengan sambutan dan penyampaian apresiasi kepada seluruh peserta, brand sponsor, partner, serta pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini.

Setelah pembukaan, para pengunjung langsung memadati berbagai booth brand sponsor yang hadir di area event. Brand seperti Ovale, Sanwoo, Alamin Skincare, Eudora Aesthetic Clinic, dan Skinjuve menghadirkan berbagai aktivitas menarik di booth mereka.


Booth brand sponsor di Glow Fest 2.0 ramai dikunjungi para peserta sepanjang acara.

Para pengunjung dapat mencoba produk secara langsung, mendapatkan freebies, mengikuti berbagai fun games, serta menikmati promo khusus yang hanya tersedia selama acara berlangsung. Interaksi langsung antara brand dan pengunjung menjadi salah satu daya tarik utama Glow Fest 2.0.

Rangkaian Aktivitas Seru Sepanjang Hari

Glow Fest 2.0 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang menggabungkan edukasi, hiburan, dan pengalaman langsung di dunia kecantikan. Sepanjang hari, para pengunjung dapat mengikuti berbagai interactive stage talkshow dan workshop yang dipersembahkan oleh brand-brand ternama.

Sesi pertama dibuka oleh WRP melalui talkshow bertema “Mulai dari Serat untuk Bisa Bergerak Bebas” bersama Citra Tanani, S.Gz selaku Nutritionist. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya keseimbangan nutrisi, asupan serat, serta gaya hidup sehat untuk mendukung kepercayaan diri perempuan modern.

Salah satu momen seru dan edukatif di Talkshow WRP, Glow Fest 2.0 2026.

Selanjutnya, Airnderm menghadirkan talkshow bertajuk “AIRNDERM – Where Healthy Skin Begins” bersama Apt. Metta Luriana, S.Farm. Sesi ini membahas pentingnya membangun fondasi kulit sehat melalui perawatan skin barrier yang tepat, serta bagaimana memulai rutinitas skincare yang lebih sederhana namun efektif.

Memasuki sesi berikutnya, Noroid x Asthin menghadirkan talkshow bertema “The Secret of 3G Beauty Formula: Glow Outside, Glow Inside, Glow Beyond” bersama dr. Sandi Perutama Gani dari SOHO. Melalui sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya pendekatan perawatan kulit dari dalam dan luar, termasuk peran skin barrier, antioksidan, serta konsistensi dalam menjaga kesehatan kulit.

Keseruan berlanjut dengan sesi dari OMG yang membahas lebih dalam tentang dunia serum dan ingredients skincare. Bersama Nindia Ageng selaku Brand Manager OMG dan Meti dari tim R&D Paragon, peserta mendapatkan insight tentang berbagai jenis serum, cara memilih serum yang sesuai dengan kebutuhan kulit, serta pemahaman mengenai kandungan aktif dalam skincare.

Peserta mengikuti sesi talkshow OMG tentang berbagai jenis serum.

Tidak kalah menarik, Pucelle menghadirkan sesi bertema “From Scent to Story: How to Create Perfume Content That Converts”. Dipandu oleh Annisa Rizky selaku Product Development dan Amanda Farica selaku Advertising Head Pucelle, peserta diajak mempelajari cara menggambarkan karakter parfum melalui story telling serta membuat konten parfum yang lebih engaging bagi audiens.

Sebagai penutup rangkaian interactive stage, Ovale menghadirkan sesi bertema “Slay Your Raya Look! Kenali Makeup-mu, Bersihkan & Hidrasi Kulitmu” bersama makeup artist profesional Puti Hadiwijoyo. Dalam sesi ini, peserta belajar melakukan face analysis, mengenal konsep low visual face dan high visual face, hingga praktik langsung makeup untuk tampilan Lebaran, sekaligus mempelajari cara membersihkan makeup dengan benar menggunakan micellar water.

Sesi interactive stage Ovale bersama makeup artist Puti Hadiwijoyo yang membahas makeup look Lebaran.

Selain mengikuti berbagai sesi edukatif, pengunjung juga dapat mengunjungi berbagai booth brand sponsor yang menghadirkan aktivitas menarik seperti product trial, mini games, promo eksklusif, hingga kesempatan mendapatkan berbagai freebies.

Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya setiap booth sepanjang acara. Para peserta tidak hanya datang untuk mencoba produk, tetapi juga menikmati pengalaman komunitas yang hangat dan interaktif bersama sesama beauty enthusiasts.

Selain itu, pengunjung juga berkesempatan membawa pulang grand prize hingga 2 juta rupiah, berupa Fragrance Hair Dryer dari Elona Mochii dan Hair Dryer dari Sanwoo. Hadiah ini dapat diperoleh melalui aktivitas belanja di booth sponsor dengan minimum transaksi yang ditentukan selama acara berlangsung.

Dukungan Brand Sponsor, Partner, dan Media Partner

Kesuksesan Glow Fest 2.0 tentunya tidak lepas dari dukungan berbagai brand yang berpartisipasi dalam acara ini.

Brand sponsor yang terlibat antara lain OMG, Ovale, Airnderm, WRP, Noroid, Pucelle, Sanwoo, Alamin Skincare, Eudora Aesthetic Clinic, dan Skinjuve.

Selain itu, Glow Fest 2.0 juga didukung oleh berbagai brand partner yang menghadirkan pengalaman tambahan bagi pengunjung, yaitu Color Key, BRASOV, Herborist, Nacific, Easyday, Elona World, Exoticon, Glomore, Deorex, Geut, Na-Young Arencia, Mistku, Serasoft, Natur, Riman, Serea Beauty, Diane, Mutouch, Softymo, Suncut, Magani Fragrance, Beauty Now, Skin Theory, Skin Genius, dan OMG Bowl.

Acara ini juga mendapat dukungan publikasi dari berbagai media partner, di antaranya Lilie Agency, Sis Project, Petik Indonesia, CPFluence, BeautyChannel, TFR News, Scarf Media, Dreamher, Whiff Media, Marsha Media, Info Brand, Pretty Privilege, Sevenhub, MPN Indonesia, Rumor Media, UMN Radio, Media Indonesia, Jelita, dan Puan.

Kolaborasi antara komunitas, brand, dan media ini menjadi faktor penting dalam menghadirkan pengalaman event yang relevan, interaktif, dan berdampak bagi para beauty enthusiasts.


Tentang Geng Glowing

Geng Glowing merupakan beauty community yang berdiri sejak Juli 2021. Komunitas ini dibentuk sebagai ruang bagi para beauty enthusiast untuk saling berbagi informasi, tips, dan rekomendasi produk seputar perawatan kulit dan wajah, termasuk berbagi pengalaman serta review skincare secara jujur dan personal.

Geng Glowing beranggotakan individu dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja 18 tahun hingga para ibu berusia 40 tahun, yang semuanya memiliki ketertarikan kuat pada dunia kecantikan. Melalui Instagram dan WhatsApp Group, komunitas ini menjadi tempat bertukar insight serta ruang belajar dan berkegiatan bersama melalui program online maupun offline.

 

Untuk Informasi dan Kolaborasi Selanjutnya:

Email: busdev@bertsolution.com

WhatsApp: +6281-1567-4433

Instagram: @geng.glowing

Website: www.bertsolution.com


Komentar

Rubik Puan Popular

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...