Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Yuk, Kenali 5 Tanda Compulsive Buying!



Siapa di sini yang gemar membeli barang-barang baik melalui online store atau offline store? Pernah gak sih, Puan tergiur sama diskon di event-event tertenstu seperti 9.9, Harbolnas, atau event lainnya?

Belanja memang menyenangkan apalagi jika ada diskon, bisa menjadi salah satu cara untuk menghemat pengeluaran. Namun, alih-alih menghemat uang gak jarang beberapa orang malah menjadi kalap dan malah berakhir menjadi boros!

Sesekali memang gak apa-apa ya, Puan! Akan tetapi, jika polanya berulang terus menerus dan menjadi sebuah adiksi, hal tersebut bisa jadi salah satu tanda penyakit mental, loh! Hal ini disebut pula sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD).

Apa sih Compulsive Buying Disorder Itu?

Compulsive Buying Disorder atau CBD ini merupakan perilaku berbelanja yang tidak normal. Di mana perilaku tersebut dilakukan secara berulang, tidak terkontrol, serta memiliki dorongan kuat untuk berbelanja.

Korban biasanya menganggap hal tersebut sebagai cara untuk menghilangkan stres dan kecemasan (Edwards, 1993). Dikutip dari CESI Solutions, para ahlu mengakui bahwa penyebab dari perilaku tersebut berasal dari rasa sakit emosional sehingga korban melakukan hal tersebut untuk mengurangi rasa sakit.

Pola Compulsive Buying Disorder

Menurut Heshmat (2018) terdapat lima pola yang terjadi pada individu yang mengalami Compulsive Buying Disorder (CBD).

1. Impulse Purchase

Pada pola ini biasanya individu akan cenderung melakukan pembelian barang secara impulsif. Ia dapat menjadi seorang penimbun barang disebabkan dirinya akan terus berbelanja. Tanpa menyadari bahwa masih banyak barang yang belum dipakai atau digunakan sama sekali.

2. Buyers High

Individu akan merasa gembira yang berlebihan ketika sedang menimang-nimang dan membeli barang, bukan pada saat memiliki barang tersebut.

3. Shopping to Dampen Unpleasant Emotions

Tujuan dari pembelian barang secara impulsif adalah untuk mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan seperti kecemasan atau hal lainnya.

4. Guilt and Remorse

Di pola ini, individu akan merasa bersalah dan menyesal. Namun, akan timbul rasa untuk melakukan “perbaikan” yang tidak lain tidak bukan adalah dengan membeli suatu jenis barang yang lain.

5. The Pain of Paying

Individu yang memiliki kebiasaan seperti ini biasanya lebih menjadi cashless person alias bergantung pada kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai. Ini karena ia menganggap membayar dengan uang tunai adalah suatu hal yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan membayar menggunakan kartu kredit (Ariely & Kreisler dalam Heshmat, 2018).

Konsekuensi Pembelian Impulsif

Terdapat beberapa konsekuensi dari pembelian impulsif yang dipaparkan oleh Retno dalam Agung (2014).

1. Konsekuensi Jangka Pendek Bersifat Positif

Meliputi mengurangi stres, meningkatkan konsep diri, dan meningkatkan hubungan interpersonal.

2. Konsekuensi Jangka Panjang Bersifat Negatif

Meningkatkan tunggakan kartu kredit, keadaan ekonomi dan psikologi yang terganggu, tidak memiliki tabungan, dan munculnya konflik interpersonal.


Nah, setelah membaca penjelasan di atas, bagi Puan yang gemar membeli barang baik secara online maupun offline alangkah baiknya untuk mengontrol diri sebelum menjadi sebuah adiksi dan candu. Namun, jika merasa sudah terjebak dalam CBD, Puan dapat mengonsultasikannya dengan para ahli demi menghindari konsekuensi jangka panjang yang dipaparkan tadi.


Penulis: Namratul Ulya
Editor: Clarisa Amelia Putri


Referensi

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/4565/2/BAB%20II.PDF

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...