Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Yuk, Kenali 5 Tanda Compulsive Buying!



Siapa di sini yang gemar membeli barang-barang baik melalui online store atau offline store? Pernah gak sih, Puan tergiur sama diskon di event-event tertenstu seperti 9.9, Harbolnas, atau event lainnya?

Belanja memang menyenangkan apalagi jika ada diskon, bisa menjadi salah satu cara untuk menghemat pengeluaran. Namun, alih-alih menghemat uang gak jarang beberapa orang malah menjadi kalap dan malah berakhir menjadi boros!

Sesekali memang gak apa-apa ya, Puan! Akan tetapi, jika polanya berulang terus menerus dan menjadi sebuah adiksi, hal tersebut bisa jadi salah satu tanda penyakit mental, loh! Hal ini disebut pula sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD).

Apa sih Compulsive Buying Disorder Itu?

Compulsive Buying Disorder atau CBD ini merupakan perilaku berbelanja yang tidak normal. Di mana perilaku tersebut dilakukan secara berulang, tidak terkontrol, serta memiliki dorongan kuat untuk berbelanja.

Korban biasanya menganggap hal tersebut sebagai cara untuk menghilangkan stres dan kecemasan (Edwards, 1993). Dikutip dari CESI Solutions, para ahlu mengakui bahwa penyebab dari perilaku tersebut berasal dari rasa sakit emosional sehingga korban melakukan hal tersebut untuk mengurangi rasa sakit.

Pola Compulsive Buying Disorder

Menurut Heshmat (2018) terdapat lima pola yang terjadi pada individu yang mengalami Compulsive Buying Disorder (CBD).

1. Impulse Purchase

Pada pola ini biasanya individu akan cenderung melakukan pembelian barang secara impulsif. Ia dapat menjadi seorang penimbun barang disebabkan dirinya akan terus berbelanja. Tanpa menyadari bahwa masih banyak barang yang belum dipakai atau digunakan sama sekali.

2. Buyers High

Individu akan merasa gembira yang berlebihan ketika sedang menimang-nimang dan membeli barang, bukan pada saat memiliki barang tersebut.

3. Shopping to Dampen Unpleasant Emotions

Tujuan dari pembelian barang secara impulsif adalah untuk mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan seperti kecemasan atau hal lainnya.

4. Guilt and Remorse

Di pola ini, individu akan merasa bersalah dan menyesal. Namun, akan timbul rasa untuk melakukan “perbaikan” yang tidak lain tidak bukan adalah dengan membeli suatu jenis barang yang lain.

5. The Pain of Paying

Individu yang memiliki kebiasaan seperti ini biasanya lebih menjadi cashless person alias bergantung pada kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai. Ini karena ia menganggap membayar dengan uang tunai adalah suatu hal yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan membayar menggunakan kartu kredit (Ariely & Kreisler dalam Heshmat, 2018).

Konsekuensi Pembelian Impulsif

Terdapat beberapa konsekuensi dari pembelian impulsif yang dipaparkan oleh Retno dalam Agung (2014).

1. Konsekuensi Jangka Pendek Bersifat Positif

Meliputi mengurangi stres, meningkatkan konsep diri, dan meningkatkan hubungan interpersonal.

2. Konsekuensi Jangka Panjang Bersifat Negatif

Meningkatkan tunggakan kartu kredit, keadaan ekonomi dan psikologi yang terganggu, tidak memiliki tabungan, dan munculnya konflik interpersonal.


Nah, setelah membaca penjelasan di atas, bagi Puan yang gemar membeli barang baik secara online maupun offline alangkah baiknya untuk mengontrol diri sebelum menjadi sebuah adiksi dan candu. Namun, jika merasa sudah terjebak dalam CBD, Puan dapat mengonsultasikannya dengan para ahli demi menghindari konsekuensi jangka panjang yang dipaparkan tadi.


Penulis: Namratul Ulya
Editor: Clarisa Amelia Putri


Referensi

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/4565/2/BAB%20II.PDF

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...