Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Yuk, Kenali 5 Tanda Compulsive Buying!



Siapa di sini yang gemar membeli barang-barang baik melalui online store atau offline store? Pernah gak sih, Puan tergiur sama diskon di event-event tertenstu seperti 9.9, Harbolnas, atau event lainnya?

Belanja memang menyenangkan apalagi jika ada diskon, bisa menjadi salah satu cara untuk menghemat pengeluaran. Namun, alih-alih menghemat uang gak jarang beberapa orang malah menjadi kalap dan malah berakhir menjadi boros!

Sesekali memang gak apa-apa ya, Puan! Akan tetapi, jika polanya berulang terus menerus dan menjadi sebuah adiksi, hal tersebut bisa jadi salah satu tanda penyakit mental, loh! Hal ini disebut pula sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD).

Apa sih Compulsive Buying Disorder Itu?

Compulsive Buying Disorder atau CBD ini merupakan perilaku berbelanja yang tidak normal. Di mana perilaku tersebut dilakukan secara berulang, tidak terkontrol, serta memiliki dorongan kuat untuk berbelanja.

Korban biasanya menganggap hal tersebut sebagai cara untuk menghilangkan stres dan kecemasan (Edwards, 1993). Dikutip dari CESI Solutions, para ahlu mengakui bahwa penyebab dari perilaku tersebut berasal dari rasa sakit emosional sehingga korban melakukan hal tersebut untuk mengurangi rasa sakit.

Pola Compulsive Buying Disorder

Menurut Heshmat (2018) terdapat lima pola yang terjadi pada individu yang mengalami Compulsive Buying Disorder (CBD).

1. Impulse Purchase

Pada pola ini biasanya individu akan cenderung melakukan pembelian barang secara impulsif. Ia dapat menjadi seorang penimbun barang disebabkan dirinya akan terus berbelanja. Tanpa menyadari bahwa masih banyak barang yang belum dipakai atau digunakan sama sekali.

2. Buyers High

Individu akan merasa gembira yang berlebihan ketika sedang menimang-nimang dan membeli barang, bukan pada saat memiliki barang tersebut.

3. Shopping to Dampen Unpleasant Emotions

Tujuan dari pembelian barang secara impulsif adalah untuk mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan seperti kecemasan atau hal lainnya.

4. Guilt and Remorse

Di pola ini, individu akan merasa bersalah dan menyesal. Namun, akan timbul rasa untuk melakukan “perbaikan” yang tidak lain tidak bukan adalah dengan membeli suatu jenis barang yang lain.

5. The Pain of Paying

Individu yang memiliki kebiasaan seperti ini biasanya lebih menjadi cashless person alias bergantung pada kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai. Ini karena ia menganggap membayar dengan uang tunai adalah suatu hal yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan membayar menggunakan kartu kredit (Ariely & Kreisler dalam Heshmat, 2018).

Konsekuensi Pembelian Impulsif

Terdapat beberapa konsekuensi dari pembelian impulsif yang dipaparkan oleh Retno dalam Agung (2014).

1. Konsekuensi Jangka Pendek Bersifat Positif

Meliputi mengurangi stres, meningkatkan konsep diri, dan meningkatkan hubungan interpersonal.

2. Konsekuensi Jangka Panjang Bersifat Negatif

Meningkatkan tunggakan kartu kredit, keadaan ekonomi dan psikologi yang terganggu, tidak memiliki tabungan, dan munculnya konflik interpersonal.


Nah, setelah membaca penjelasan di atas, bagi Puan yang gemar membeli barang baik secara online maupun offline alangkah baiknya untuk mengontrol diri sebelum menjadi sebuah adiksi dan candu. Namun, jika merasa sudah terjebak dalam CBD, Puan dapat mengonsultasikannya dengan para ahli demi menghindari konsekuensi jangka panjang yang dipaparkan tadi.


Penulis: Namratul Ulya
Editor: Clarisa Amelia Putri


Referensi

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/4565/2/BAB%20II.PDF

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...