Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Self-Discipline di Era Distraksi: Gimana Bisa Fokus Saat Dunia Menuntut Kita Multitasking Terus?

Image by: lishawnsconsulting.com

Di era digital ini, hampir semua hal bisa mengalihkan perhatian kita. Pekerjaan harus cepat, informasi terus berdatangan, dan media sosial seperti tidak pernah tidur. Tidak heran jika banyak dari kita merasa susah sekali untuk fokus dan konsisten. Padahal, justru di tengah dunia yang sibuk dan bising ini, self-discipline bukan lagi sekadar teori yang hanya kita ketahui, melainkan sesuatu yang kita butuhkan.


Apa Itu Self-Discipline?


Self-discipline adalah kemampuan untuk mengontrol diri, tetap berkomitmen pada tujuan, dan menunda kesenangan sesaat demi hasil jangka panjang. Namun, jangan bayangkan ini sebagai sesuatu yang keras atau kaku. Disiplin bukan berarti Puan harus selalu “produktif”, melainkan tahu kapan harus mulai dan kapan harus berhenti.


Kenapa Kita Gampang Terdistraksi?


Di era yang serba digital, otak kita secara alami lebih tertarik pada hal-hal yang mudah, cepat, dan memberi kesenangan instan. Itulah sebabnya aktivitas seperti scrolling media sosial terasa lebih menggoda dibandingkan dengan menyelesaikan tugas penting yang membutuhkan fokus. Rata-rata perhatian kita juga mudah terpecah, belum satu menit berlalu, pikiran sudah meloncat ke hal lain. 

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Daniel Christian dan Yohanes Budiarto dalam karya berjudul Hubungan “Durasi TikTok dan Rentang Perhatian pada Pengguna Aktif di Usia Dewasa Muda”. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara durasi penggunaan TikTok dan kemampuan mempertahankan perhatian. Semakin lama seseorang mengonsumsi konten video berdurasi pendek, semakin rendah rentang fokus yang dimilikinya.


Jadi, Gimana Priska Cara Membangun Disiplin Diri?


Berikut beberapa langkah realistis yang bisa Puan coba:


1. Kenali Pola Distraksi Pribadi

Apa pemicu utama Puan terdistraksi? Notifikasi? Kebiasaan buka Instagram saat bosan? Mulai dari kesadaran seperti ini.


2. Bangun Sistem, Bukan Harapan

Motivasi itu tidak bisa diandalkan setiap hari, tetapi sistem bisa. Gunakan habit tracker, alarm, atau aplikasi pemblokir distraksi seperti Forest atau Focus To-Do.


3. Terapkan Aturan 5 Menit

Jika merasa malas untuk memulai, coba trik sederhana: "Saya hanya akan melakukannya selama 5 menit." Terkadang, hal yang terasa berat di awal justru menjadi lebih mudah ketika mulai dari hal sederhana. Lima menit mungkin terdengar sepele, tetapi cukup untuk memecah rasa malas atau enggan memulai.


4. Pilih Konsisten daripada Sempurna

Lebih baik 10 menit membaca setiap hari daripada 1 jam membaca tapi cuma seminggu sekali. Disiplin dibangun dari langkah kecil yang terus berulang-berulang.


5. Beri Ruang untuk Gagal, Tapi Jangan Jadikan Itu Alasan untuk Menyerah

Hari ini Puan gagal untuk bangun pagi atau melewatkan satu tugas? Wajar. Semua orang pernah tidak konsisten, yang penting, jangan berhenti. Maafkan diri sendiri, lalu mulai lagi besok, karena disiplin bukan tentang sempurna setiap hari, melainkan tentang bangkit setiap kali jatuh.


Di dunia yang terus menuntut kita untuk serba cepat, multitasking, dan selalu aktif, punya self-discipline bukan soal jadi paling sibuk, Puan. Ini tentang bagaimana kita menjaga fokus, memilih energi yang sehat, dan tetap setia pada nilai-nilai diri sendiri. Disiplin bukan berarti Puan harus selalu produktif setiap waktu, melainkan tahu kapan harus melangkah, kapan berhenti, dan terus belajar agar arah hidup tidak ditentukan orang lain, tetapi diri sendiri.




Referensi:

Christian, D., & Budiarto, Y. (2023). Hubungan Durasi TikTok dan Rentang Perhatian Pada Pengguna Aktif di Usia Dewasa Muda. Paedagogy: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 4(4), 1074–1080. https://doi.org/10.51878/paedagogy.v4i4.3804 

Clear, J. (2021). Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa (A. T. K. Widodo, Penerjemah.). Gramedia Pustaka Utama.


Author & Editor:

Sarah Ardelia

Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...