Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Burnout, Sibuk, Tapi Gak Produktif? Mungkin Puan Terjebak Time Poverty

 


Sumber: chubb.com

Puan pernah enggak merasa kalau waktu 24 jam dalam sehari enggak cukup? Bangun pagi dengan daftar tugas yang panjang, bekerja atau kuliah, mengurus keperluan pribadi, lalu tiba-tiba hari sudah berakhir tanpa sempat beristirahat. Ini namanya Puan mengalami fenomena yang disebut time poverty atau"kemiskinan waktu".

    Ini bukan sekadar soal sibuk, tapi lebih ke perasaan tidak punya cukup waktu untuk diri sendiri. Tekanan multitasking dalam karier, pendidikan, dan kehidupan sosial sering bikin Puan terjebak dalam siklus tanpa akhir. Tapi, kenapa ini lebih sering dialami perempuan? Dan, yang lebih penting, gimana cara keluar dari jebakan ini?

Apa Itu Time Poverty?

Time poverty adalah kondisi ketika seseorang merasa kekurangan waktu karena banyaknya tanggung jawab. Ini bukan hanya soal pekerjaan atau studi, tapi juga ekspektasi sosial yang menuntut Puan untuk sukses di semua lini kehidupan—karier, keluarga, dan penampilan.

Kenapa Kita Rentan Terjebak Time Poverty?

  1. Tuntutan Ganda
    Selain bekerja atau kuliah, perempuan masih sering diharapkan mengurus rumah, keluarga, dan hubungan sosial. Tugas-tugas ini sering terasa tak ada habisnya.
  2. Tekanan untuk Selalu Produktif
    Media sosial makin memperkuat bahwa perempuan harus "punya semuanya": karier cemerlang, tubuh sehat, kehidupan sosial aktif, dan tetap tampil prima. Akibatnya, banyak dari Puan merasa bersalah jika tidak sibuk.
  3. Kesulitan Mengontrol Waktu Sendiri
    Banyak perempuan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bukan pilihannya sendiri, seperti membantu orang lain atau terjebak dalam tugas-tugas kecil enggak ada habisnya.

Dampak Yang Bisa Time Poverty Timbulkan Untuk Diri Sendiri

  • Burnout & Stres Kronis → Terus-terusan bekerja dan berkegiatan tanpa istirahat bisa menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
  • Produktivitas Turun → Semakin sibuk bukan berarti semakin produktif. Kurangnya istirahat justru bikin kerja jadi lebih lambat dan banyak salahnya.
  • Hidup Jadi Tidak Menyenangkan → Waktu luang untuk diri sendiri jadi barang langka. Padahal, hidup ini harus dinikmati, lho!

Cara Puan Bisa Bebas dari Time Poverty

1. Prioritaskan yang Penting & Delegasikan yang Bisa Terlebih Dahulu

Tidak semua hal harus Puan kerjakan sendiri. Fokuslah pada yang benar-benar penting, dan jangan ragu meminta bantuan dari orang lain.

2. Gunakan Time Blocking

Alokasikan waktu khusus untuk kerja, istirahat, dan aktivitas pribadi. Misalnya, setelah jam kerja, jangan buka laptop lagi!

3. Belajar Berkata "Tidak"

Sering kali, Puan merasa harus selalu menyenangkan orang lain. Padahal, berkata "tidak" pada tugas yang tidak penting itu perlu lho.

4. Manfaatkan Teknologi

Gunakan aplikasi seperti Google Calendar untuk mengatur jadwal Puan agar lebih efisien.

5. Luangkan Waktu untuk Self-Care

Me-time bukan kemewahan, tapi kebutuhan. Luangkan waktu untuk hal-hal yang membuat kamu bahagia tanpa merasa bersalah.

      Jadi, kapan terakhir kali Puan benar-benar meluangkan waktu untuk diri sendiri? Jika terus sibuk tanpa henti, siapa yang akan peduli dengan kesejahteraanmu kalau bukan dirimu sendiri? Saatnya istirahat sejenak, menetapkan prioritas, dan berkata “tidak” pada hal yang enggak penting. Waktu Puan berharga—jangan dibiarkan habis gitu aja yaa! 💪⏳✨

 

REFERENSI

Can We Afford to be Time Poor? The Hidden Tax of Time Poverty

A Psychologist Explains The Concept Of ‘Time Poverty’—And Offers 4 Fixes


Penulis & Editor

Diinaar F. Berlian

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...