Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Burnout, Sibuk, Tapi Gak Produktif? Mungkin Puan Terjebak Time Poverty

 


Sumber: chubb.com

Puan pernah enggak merasa kalau waktu 24 jam dalam sehari enggak cukup? Bangun pagi dengan daftar tugas yang panjang, bekerja atau kuliah, mengurus keperluan pribadi, lalu tiba-tiba hari sudah berakhir tanpa sempat beristirahat. Ini namanya Puan mengalami fenomena yang disebut time poverty atau"kemiskinan waktu".

    Ini bukan sekadar soal sibuk, tapi lebih ke perasaan tidak punya cukup waktu untuk diri sendiri. Tekanan multitasking dalam karier, pendidikan, dan kehidupan sosial sering bikin Puan terjebak dalam siklus tanpa akhir. Tapi, kenapa ini lebih sering dialami perempuan? Dan, yang lebih penting, gimana cara keluar dari jebakan ini?

Apa Itu Time Poverty?

Time poverty adalah kondisi ketika seseorang merasa kekurangan waktu karena banyaknya tanggung jawab. Ini bukan hanya soal pekerjaan atau studi, tapi juga ekspektasi sosial yang menuntut Puan untuk sukses di semua lini kehidupan—karier, keluarga, dan penampilan.

Kenapa Kita Rentan Terjebak Time Poverty?

  1. Tuntutan Ganda
    Selain bekerja atau kuliah, perempuan masih sering diharapkan mengurus rumah, keluarga, dan hubungan sosial. Tugas-tugas ini sering terasa tak ada habisnya.
  2. Tekanan untuk Selalu Produktif
    Media sosial makin memperkuat bahwa perempuan harus "punya semuanya": karier cemerlang, tubuh sehat, kehidupan sosial aktif, dan tetap tampil prima. Akibatnya, banyak dari Puan merasa bersalah jika tidak sibuk.
  3. Kesulitan Mengontrol Waktu Sendiri
    Banyak perempuan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bukan pilihannya sendiri, seperti membantu orang lain atau terjebak dalam tugas-tugas kecil enggak ada habisnya.

Dampak Yang Bisa Time Poverty Timbulkan Untuk Diri Sendiri

  • Burnout & Stres Kronis → Terus-terusan bekerja dan berkegiatan tanpa istirahat bisa menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
  • Produktivitas Turun → Semakin sibuk bukan berarti semakin produktif. Kurangnya istirahat justru bikin kerja jadi lebih lambat dan banyak salahnya.
  • Hidup Jadi Tidak Menyenangkan → Waktu luang untuk diri sendiri jadi barang langka. Padahal, hidup ini harus dinikmati, lho!

Cara Puan Bisa Bebas dari Time Poverty

1. Prioritaskan yang Penting & Delegasikan yang Bisa Terlebih Dahulu

Tidak semua hal harus Puan kerjakan sendiri. Fokuslah pada yang benar-benar penting, dan jangan ragu meminta bantuan dari orang lain.

2. Gunakan Time Blocking

Alokasikan waktu khusus untuk kerja, istirahat, dan aktivitas pribadi. Misalnya, setelah jam kerja, jangan buka laptop lagi!

3. Belajar Berkata "Tidak"

Sering kali, Puan merasa harus selalu menyenangkan orang lain. Padahal, berkata "tidak" pada tugas yang tidak penting itu perlu lho.

4. Manfaatkan Teknologi

Gunakan aplikasi seperti Google Calendar untuk mengatur jadwal Puan agar lebih efisien.

5. Luangkan Waktu untuk Self-Care

Me-time bukan kemewahan, tapi kebutuhan. Luangkan waktu untuk hal-hal yang membuat kamu bahagia tanpa merasa bersalah.

      Jadi, kapan terakhir kali Puan benar-benar meluangkan waktu untuk diri sendiri? Jika terus sibuk tanpa henti, siapa yang akan peduli dengan kesejahteraanmu kalau bukan dirimu sendiri? Saatnya istirahat sejenak, menetapkan prioritas, dan berkata “tidak” pada hal yang enggak penting. Waktu Puan berharga—jangan dibiarkan habis gitu aja yaa! 💪⏳✨

 

REFERENSI

Can We Afford to be Time Poor? The Hidden Tax of Time Poverty

A Psychologist Explains The Concept Of ‘Time Poverty’—And Offers 4 Fixes


Penulis & Editor

Diinaar F. Berlian

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...