Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Ditolak Magang? Yuk, Bangkit dan Coba Lagi!


Puan, pernahkah menerima email seperti ini?

"Terima kasih telah melamar posisi ini. Namun, setelah pertimbangan, kami memutuskan untuk melanjutkan dengan kandidat lain. Semoga sukses untuk perjalanan karirmu!"

Membaca kalimat itu bisa terasa seperti pukulan telak, bukan? Apalagi kalau Puan sudah menunggu berhari-hari, penuh harap, dan merasa cocok dengan posisi yang dilamar. Namun, apakah penolakan ini berarti Puan kurang berbakat atau tidak cukup baik?

Belum tentu, Puan! Banyak faktor yang membuat lamaran magang ditolak, dan sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan atau potensi. Bisa jadi, perusahaan mencari kandidat dengan pengalaman spesifik yang saat ini belum Puan miliki. Atau proses seleksinya sangat kompetitif, dan Puan kalah tipis dari kandidat lain.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal penting yang perlu Puan tahu: ditolak itu bukan akhir dari segalanya. Penolakan adalah bagian dari perjalanan menuju sukses. Nah, daripada tenggelam dalam overthinking, lebih baik gunakan kesempatan ini untuk refleksi diri dan mencoba lagi dengan strategi yang lebih matang.

Berikut ini adalah 4 langkah yang bisa membantu Puan bangkit setelah ditolak magang.

1. Take a Deep Breath
Hal pertama yang harus Puan lakukan adalah mengambil napas panjang. Rasanya memang menyakitkan ketika harapan tidak sesuai kenyataan, tapi tidak apa-apa untuk merasa kecewa. Beri diri sendiri waktu untuk menerima emosi ini. Menangis? Boleh. Menyendiri sebentar? Tidak masalah. Setelah itu, fokus pada hal-hal yang bisa Puan kendalikan. Penolakan hanyalah tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki atau peluang yang lebih baik menunggumu.

2. Ask for Feedback
Langkah berikutnya adalah mencari tahu kenapa Puan ditolak. Jika memungkinkan, hubungi HR atau pihak yang bertanggung jawab atas proses seleksi. Tanyakan dengan sopan, “Bolehkah saya tahu area yang perlu saya tingkatkan?”. Feedback ini bisa memberikan insight berharga. Misalnya, apakah CV kurang menarik, atau ada hal yang perlu ditingkatkan dari cara Puan menjawab pertanyaan wawancara? Kalau HR tidak memberikan feedback, jangan khawatir. Puan bisa meminta teman, mentor, atau dosen untuk membantu mengevaluasi CV dan persiapan wawancara.

3. Perbaiki CV dan Portofolio
CV dan portofolio adalah representasi diri Puan di mata recruiter. Jadi, pastikan keduanya benar-benar menunjukkan pengalaman dan skill terbaik. Sesuaikan isi CV dengan deskripsi pekerjaan yang dilamar. Misalnya, jika perusahaan mencari seseorang yang terampil di bidang desain grafis, pastikan Puan menonjolkan proyek-proyek desain yang pernah dikerjakan. Selain itu, jika belum punya portofolio, mulailah membangun dari sekarang. Bisa dengan mengikuti proyek kecil, lomba, atau bahkan kerja sukarela. Portofolio yang kuat akan meningkatkan peluang untuk diterima di kesempatan berikutnya.

4. Kunjungi Pusat Karir Universitas
Sebagai mahasiswa, Puan punya akses ke pusat karir kampus, yang sering kali menjadi sumber daya berharga. Mereka biasanya menawarkan berbagai layanan, seperti konsultasi karir, bantuan memperbaiki CV, hingga informasi tentang peluang magang terbaru. Jangan ragu untuk memanfaatkan fasilitas ini. Bahkan, mereka bisa membantu Puan menemukan peluang magang yang mungkin belum Puan temukan di platform umum seperti LinkedIn atau Jobstreet. Siapa tahu, peluang emas ada di sana!

Puan, ditolak magang bukanlah hal yang memalukan. Justru, ini adalah bagian dari proses untuk belajar dan berkembang. Semua orang sukses pasti pernah menghadapi penolakan, tapi mereka memilih untuk bangkit dan terus mencoba. Semangat, Puan! Magang impianmu masih ada di depan mata. 🌟


REFERENSI:

Rejected in Internship? WHY?

How to deal with internship rejection

Bagaimana Menghadapi Penolakan dalam Mencari Magang dan Menemukan Peluang Lain?


Penulis: Cut Desyanti

Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...