Langsung ke konten utama

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Hidup Tanpa FOPO: Rahasia Menjadi Lebih Percaya Diri

 

    Image by pngtree.com

Puan pernah enggak sih saat ketika sudah rapi lalu berdiri di depan cermin sambil bertanya ke diri sendiri, seperti “Penampilan aku udah OK belum ya?”, “Make up aku berlebihan enggak ya?”, atau “Aku kelihatan aneh enggak ya pakai baju ini?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena Puan khawatir dengan pandangan orang lain? Kalau iya, bisa saja Puan sedang mengalami FOPO atau Fear of Other People’s Opinions.

Apa itu FOPO?

Mengutip dari laman Harvard Business Review, Fear of Other People’s Opinions atau FOPO merupakan istilah yang mengarah pada perasaan cemas yang berlebihan terhadap pandangan orang lain. Alasan timbulnya perasaan cemas, takut, atau tegang ketika akan melakukan suatu aktivitas yang melibatkan banyak orang ialah karena khawatir terhadap ketidaksetujuan sosial pada diri sendiri.


Istilah FOPO dicetuskan oleh Michael Gervais, PhD seorang psikolog sekaligus penulis, yang memiliki pandangan bahwa rasa ketakutan ini merupakan bagian dari kondisi manusia karena kita beroperasi dengan otak yang kuno. Keinginan untuk selalu diterima dan mendapatkan pengakuan menyebabkan Puan menjadi menjalani kehidupan bergerak sesuai dengan pandangan atau keputusan orang lain. Puan menjadi takut untuk terlihat berbeda dari orang lain, sulit mengatakan tidak, dan menjadi sering meminta maaf walaupun tidak melakukan kesalahan.


Penyebab terjadinya FOPO

Ketakutan terhadap pandangan orang lain dapat menghambat kebebasan Puan dalam berekspresi, menjadi kurang percaya diri, bahkan bisa memengaruhi kondisi kesehatan mental. Tentunya ketakutan ini tidak muncul begitu saja, ada sejumlah penyebab yang menimbulkan FOPO.


  1. Lingkungan sosial dan budaya

Psikolog UGM, T. Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa budaya feodalisme dan konformitas yang masih cukup melekat di beberapa wilayah di Indonesia memiliki peranan penting dalam memicu terbentuknya FOPO pada masyarakat Indonesia.


Di lingkungan masyarakat masih sangat menghargai akan persetujuan sosial dan keberagaman. Sejak kecil kita sering dianggap aneh ketika memiliki pemikiran yang berbeda dan selalu diajari untuk memiliki pemikiran yang sama dengan anak yang lainnya, dengan dalih keseragaman. Ini menyebabkan seseorang menjadi tidak mengenal secara baik dirinya sendiri. Seseorang yang kurang memiliki kesadaran terhadap diri sendiri menjadi sering mengalami kecemasan terhadap pendapat orang lain dan takut ketika memiliki pemikiran yang berbeda


  1. Pendidikan

Sistem pendidikan yang cenderung lebih berfokus pada nilai dan peringkat juga dapat meningkatkan FOPO pada seseorang. Sebab siswa akan merasa bahwa harga diri mereka bergantung pada penilaian orang lain yang dilihat dari nilai atau peringkat yang diperoleh bukan dari usaha yang selama ini diupayakan, seperti perkembangan pribadi.


  1. Media sosial

Dibalik berbagai kemudahan yang ditawarkan, ternyata media sosial menjadi salah satu faktor terbesar dalam perkembangan FOPO. Melalui media sosial seseorang bisa bebas untuk mengekspresikan dirinya. Namun, ternyata ini menjadikan seseorang membandingkan diri mereka dengan orang lain. Akibatnya muncul perasaan ketakutan akan pandangan negatif dari orang lain karena merasa bahwa hidupnya tidak cukup baik dengan kehidupan orang yang ada di media sosial.


  1. Pengalaman masa kecil

Anak-anak yang sering dikritik atau dipermalukan oleh orang tua atau teman sebayanya cenderung akan memiliki ketakutan pada penilaian orang lain saat dewasa. Sebab pengalaman-pengalaman tersebut bisa membentuk pola pikir bahwa pandangan orang lain merupakan hal yang penting. Kritikan menjadi hal yang harus dihindari, sehingga seseorang akan cenderung bersikap sesuai dengan persetujuan dari orang lain.


Cara mengatasi FOPO

FOPO dapat mengakibatkan gangguan kecemasan sosial dan ini tentunya tidak baik bagi kesehatan mental Puan. Sebab Puan bisa menjadi mudah stres ketika melakukan kesalahan atau kegagalan. Selain itu, bisa saja jadi tidak mengetahui secara pasti keinginan diri sendiri karena terlalu mengikuti pemikiran orang lain. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung seperti itu. Puan bisa mencoba melakukan beberapa hal berikut untuk mengatasinya.


  1. Tumbuhkan kesadaran diri sendiri

Mulailah dengan mengenali diri sendiri lebih mendalam. Puan bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk diri sendiri, seperti apa yang membuat bahagia, hal apa yang dapat membuat kamu cemas atau takut, kapan biasanya hal itu terjadi, dan pertanyaan lainnya. Dengan begitu Puan dapat mulai mengidentifikasi apa saja yang dapat memperkuat munculnya FOPO diri.


  1. Bangun rasa percaya diri

Coba temukan filosofi pribadi sesuai dengan prinsip atau nilai hidup yang bisa menjadi pedoman hidup. Puan juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dengan mengucapkan afirmasi positif pada diri sendiri. Lakukan hal-hal tersebut dengan komitmen sehingga bisa menjadi diri sendiri dan lebih menghargai diri sendiri.


  1. Ingatlah semua orang dapat membuat kesalahan

Tidak ada makhluk yang sempurna, setiap orang pernah melakukan kesalahan, baik besar maupun kecil. Jadikan kesalahan sebagai sebuah pelajaran untuk bisa lebih baik kedepannya. Lupakan perkataan-perkataan negatif dengan fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.


  1. Cari lingkungan yang positif

Berada diantara orang-orang yang bisa menerima keberadaan Puan, termasuk kekurangan ataupun kelebihan, memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan mental. Sehingga bisa mengurangi rasa takut terhadap penilaian orang lain. 


  1. Hubungi ahli profesional

Keberadaan ahli profesional, seperti psikolog, tentunya dapat membantu Puan untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan terhadap penilaian orang lain. Bahkan mereka juga dapat membantu dalam menemukan akar masalah dari permasalahan yang sedang dihadapi.



Setiap orang mungkin pernah memiliki ketakutan terhadap penilaian orang lain pada dirinya yang membedakan ialah bagaimana mereka menyikapi hal tersebut. Cobalah untuk mencari lingkungan yang positif yang dapat membantu Puan untuk mengatasi ketakutan tersebut. Perlu diingat bahwa tidak semua kritik atau penilaian negatif merupakan hal yang tidak bermanfaat. Jangan sampai justru diri sendirilah yang terlalu menghakimi dengan keras. Jadi jangan ragu untuk meminta bantuan dari para profesional yang ahli dibidang kesehatan mental.



REFERENSI:



Penulis: Farah Unzuria S

Editor: Farah Unzuria S


Komentar

Rubik Puan Popular

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Teknik Tiga Skenario, Cara untuk Mengurangi Planning Fallacy

  Ilustrasi Perencanaan. Photo by cottonbro (Sumber:  Pexels.com ) Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy . Apa itu Planning Fallacy ?  Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala. Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy .  Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif Untuk mengurangi bias ini, P...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

  Sumber:  istockphoto.com P uan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata? Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill. Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu? Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi. Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill. B...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...