Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Hidup Tanpa FOPO: Rahasia Menjadi Lebih Percaya Diri

 

    Image by pngtree.com

Puan pernah enggak sih saat ketika sudah rapi lalu berdiri di depan cermin sambil bertanya ke diri sendiri, seperti “Penampilan aku udah OK belum ya?”, “Make up aku berlebihan enggak ya?”, atau “Aku kelihatan aneh enggak ya pakai baju ini?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena Puan khawatir dengan pandangan orang lain? Kalau iya, bisa saja Puan sedang mengalami FOPO atau Fear of Other People’s Opinions.

Apa itu FOPO?

Mengutip dari laman Harvard Business Review, Fear of Other People’s Opinions atau FOPO merupakan istilah yang mengarah pada perasaan cemas yang berlebihan terhadap pandangan orang lain. Alasan timbulnya perasaan cemas, takut, atau tegang ketika akan melakukan suatu aktivitas yang melibatkan banyak orang ialah karena khawatir terhadap ketidaksetujuan sosial pada diri sendiri.


Istilah FOPO dicetuskan oleh Michael Gervais, PhD seorang psikolog sekaligus penulis, yang memiliki pandangan bahwa rasa ketakutan ini merupakan bagian dari kondisi manusia karena kita beroperasi dengan otak yang kuno. Keinginan untuk selalu diterima dan mendapatkan pengakuan menyebabkan Puan menjadi menjalani kehidupan bergerak sesuai dengan pandangan atau keputusan orang lain. Puan menjadi takut untuk terlihat berbeda dari orang lain, sulit mengatakan tidak, dan menjadi sering meminta maaf walaupun tidak melakukan kesalahan.


Penyebab terjadinya FOPO

Ketakutan terhadap pandangan orang lain dapat menghambat kebebasan Puan dalam berekspresi, menjadi kurang percaya diri, bahkan bisa memengaruhi kondisi kesehatan mental. Tentunya ketakutan ini tidak muncul begitu saja, ada sejumlah penyebab yang menimbulkan FOPO.


  1. Lingkungan sosial dan budaya

Psikolog UGM, T. Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa budaya feodalisme dan konformitas yang masih cukup melekat di beberapa wilayah di Indonesia memiliki peranan penting dalam memicu terbentuknya FOPO pada masyarakat Indonesia.


Di lingkungan masyarakat masih sangat menghargai akan persetujuan sosial dan keberagaman. Sejak kecil kita sering dianggap aneh ketika memiliki pemikiran yang berbeda dan selalu diajari untuk memiliki pemikiran yang sama dengan anak yang lainnya, dengan dalih keseragaman. Ini menyebabkan seseorang menjadi tidak mengenal secara baik dirinya sendiri. Seseorang yang kurang memiliki kesadaran terhadap diri sendiri menjadi sering mengalami kecemasan terhadap pendapat orang lain dan takut ketika memiliki pemikiran yang berbeda


  1. Pendidikan

Sistem pendidikan yang cenderung lebih berfokus pada nilai dan peringkat juga dapat meningkatkan FOPO pada seseorang. Sebab siswa akan merasa bahwa harga diri mereka bergantung pada penilaian orang lain yang dilihat dari nilai atau peringkat yang diperoleh bukan dari usaha yang selama ini diupayakan, seperti perkembangan pribadi.


  1. Media sosial

Dibalik berbagai kemudahan yang ditawarkan, ternyata media sosial menjadi salah satu faktor terbesar dalam perkembangan FOPO. Melalui media sosial seseorang bisa bebas untuk mengekspresikan dirinya. Namun, ternyata ini menjadikan seseorang membandingkan diri mereka dengan orang lain. Akibatnya muncul perasaan ketakutan akan pandangan negatif dari orang lain karena merasa bahwa hidupnya tidak cukup baik dengan kehidupan orang yang ada di media sosial.


  1. Pengalaman masa kecil

Anak-anak yang sering dikritik atau dipermalukan oleh orang tua atau teman sebayanya cenderung akan memiliki ketakutan pada penilaian orang lain saat dewasa. Sebab pengalaman-pengalaman tersebut bisa membentuk pola pikir bahwa pandangan orang lain merupakan hal yang penting. Kritikan menjadi hal yang harus dihindari, sehingga seseorang akan cenderung bersikap sesuai dengan persetujuan dari orang lain.


Cara mengatasi FOPO

FOPO dapat mengakibatkan gangguan kecemasan sosial dan ini tentunya tidak baik bagi kesehatan mental Puan. Sebab Puan bisa menjadi mudah stres ketika melakukan kesalahan atau kegagalan. Selain itu, bisa saja jadi tidak mengetahui secara pasti keinginan diri sendiri karena terlalu mengikuti pemikiran orang lain. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung seperti itu. Puan bisa mencoba melakukan beberapa hal berikut untuk mengatasinya.


  1. Tumbuhkan kesadaran diri sendiri

Mulailah dengan mengenali diri sendiri lebih mendalam. Puan bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk diri sendiri, seperti apa yang membuat bahagia, hal apa yang dapat membuat kamu cemas atau takut, kapan biasanya hal itu terjadi, dan pertanyaan lainnya. Dengan begitu Puan dapat mulai mengidentifikasi apa saja yang dapat memperkuat munculnya FOPO diri.


  1. Bangun rasa percaya diri

Coba temukan filosofi pribadi sesuai dengan prinsip atau nilai hidup yang bisa menjadi pedoman hidup. Puan juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dengan mengucapkan afirmasi positif pada diri sendiri. Lakukan hal-hal tersebut dengan komitmen sehingga bisa menjadi diri sendiri dan lebih menghargai diri sendiri.


  1. Ingatlah semua orang dapat membuat kesalahan

Tidak ada makhluk yang sempurna, setiap orang pernah melakukan kesalahan, baik besar maupun kecil. Jadikan kesalahan sebagai sebuah pelajaran untuk bisa lebih baik kedepannya. Lupakan perkataan-perkataan negatif dengan fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.


  1. Cari lingkungan yang positif

Berada diantara orang-orang yang bisa menerima keberadaan Puan, termasuk kekurangan ataupun kelebihan, memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan mental. Sehingga bisa mengurangi rasa takut terhadap penilaian orang lain. 


  1. Hubungi ahli profesional

Keberadaan ahli profesional, seperti psikolog, tentunya dapat membantu Puan untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan terhadap penilaian orang lain. Bahkan mereka juga dapat membantu dalam menemukan akar masalah dari permasalahan yang sedang dihadapi.



Setiap orang mungkin pernah memiliki ketakutan terhadap penilaian orang lain pada dirinya yang membedakan ialah bagaimana mereka menyikapi hal tersebut. Cobalah untuk mencari lingkungan yang positif yang dapat membantu Puan untuk mengatasi ketakutan tersebut. Perlu diingat bahwa tidak semua kritik atau penilaian negatif merupakan hal yang tidak bermanfaat. Jangan sampai justru diri sendirilah yang terlalu menghakimi dengan keras. Jadi jangan ragu untuk meminta bantuan dari para profesional yang ahli dibidang kesehatan mental.



REFERENSI:



Penulis: Farah Unzuria S

Editor: Farah Unzuria S


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...