Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Mengenal Coping Mechanisms, Strategi Mengatasi Stres yang Umum ala Gen Z!

 

Image by Baylor Lariat

Di tengah era digital yang berkembang pesat dengan mobilitas serba cepat, generasi kita dihadapkan pada tantangan baru dalam mengelola stres yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari tuntutan akademik, tekanan media sosial, urusan pekerjaan hingga overthinking soal masa depan, semua bisa membuat pikiran terasa penuh dan melelahkan. Nah, disinilah peran coping mechanisms menjadi sangat penting. Namun, Puan tahu nggak sih, coping mechanisms itu apa?

Secara sederhana, coping mechanisms adalah cara atau strategi yang dilakukan seseorang untuk menghadapi dan mengelola stres atau tekanan emosional dalam hidupnya. Umumnya, strategi ini terbagi menjadi dua jenis utama:

  • Adaptive Coping
    Strategi ini merupakan cara yang sehat dan positif dalam menghadapi stres seperti olahraga ringan, journaling, atau praktik mindfulness. Tujuannya bukan hanya untuk meredakan stres sesaat tidak juga membantu kita tumbuh dan berkembang secara emosional.

  • Maladaptive Coping
    Meski terasa melegakan sesaat, strategi ini justru bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Contohnya seperti emotional eating, menghindari masalah, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Jadi, meskipun coping mechanisms bisa menjadi cara yang efektif untuk  mengatasi stres, nggak semua strategi cocok dan sehat untuk dijalani. Kalau dilakukan hanya untuk "lari sejenak", tanpa menyentuh akar masalah, justru bisa memperburuk kondisi mental kita, lho!

Puan bisa tenang, Priska punya beberapa rekomendasi coping mechanisms sehat yang bisa Puan coba untuk mulai mengenal dan mengelola stres dengan lebih bijak. Siap, ya?

1. Journaling
Menulis isi hati atau kegelisahan Puan di buku catatan bisa sangat melegakan. Selain itu, journaling juga membantu Puan lebih mengenal diri sendiri dan melacak pola emosional yang muncul.

2. Olahraga Ringan
Jalan santai saat weekend atau stretching di  pagi hari sambil dengar lagu favorit bisa bantu tubuh terasa segar dan pikiran lebih rileks. Bonusnya: lebih dekat ke gaya hidup sehat!

3. Self-Care Routine
Maskeran, skincare-an atau rebahan sambil baca buku semua itu melainkan  sekadar kemewahan melainkan bentuk self-love yang bisa Puan berikan untuk diri sendiri. Merawat diri secara fisik bisa berdampak positif ke emosional juga.

4. Cari Support System yang Positif
Kadang, kita hanya butuh didengar. Puan bisa ngobrol dengan sahabat, keluarga, atau bergabung di komunitas online yang mendukung hobi dan value Puan.

5. Konsumsi Konten Positif
Apa yang kita konsumsi dari media juga berpengaruh ke suasana hati. Pilihlah konten yang uplifting seperti podcast inspiratif, video edukatif, atau akun media sosial yang menyebarkan semangat positif.

Meski niatnya ingin mengurangi stres, ada beberapa coping yang justru bisa berdampak buruk jika tidak dikendalikan, seperti:

  • Oversharing di Media Sosial
    Mungkin terasa melegakan, tapi bisa memicu penyesalan atau komentar negatif dari orang lain.

  • Emotional Eating atau Binge-Watching
    Kadang kita “mengisi” kekosongan emosi dengan makanan atau tayangan hiburan, tapi jika berlebihan bisa menimbulkan rasa bersalah atau kehilangan waktu produktif.

  • Prokrastinasi atau Menghindari Masalah
    Bukannya menyelesaikan, malah membuat beban menumpuk dan pikiran makin penuh.

Terus, ada ngga sih cara yang bisa kita ambil untuk menemukan coping yang cocok dengan pribadi kita? Ada dong! Puan bisa melakukan tips ini untuk menemukan coping yang cocok buat Puan : 

  • Tanyakan ke diri sendiri:
    “Apa sih yang bikin aku stres akhir-akhir ini?”
    Pertanyaan ini bisa bantu Puan lebih sadar terhadap sumber stres dan cara terbaik menghadapinya.

  • Coba beberapa coping yang berbeda
    Mulai dari journaling, olahraga, hingga self-care. Sesuaikan dengan kepribadian dan hobi Puan!

  • Lakukan secara konsisten
    Coping yang sehat bukan solusi instan, tetapi  proses yang bertahap. Kuncinya: kesabaran dan konsistensi.

Stres itu reaksi yang manusiawi. Namun kabar baiknya, Puan nggak pernah sendirian, di sekeliling Puan ada orang terdekat yang mendukung dan Puan pasti bisa menghadapinya. Yuk, mulai kenali dan terapkan coping mechanism yang cocok untuk Puan. Karena Puan layak hidup dengan lebih damai, bahagia dan utuh luar maupun dalam. 



Referensi :

National Libarary of Medicine

https://positivepsychology.com/coping/

https://health.clevelandclinic.org/coping-mechanism

Author & Editor : Keisha Najwa Dwi Anggraeni 

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...