Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...
Puan, pernah nggak sih dalam sehari kerjaan Puan cuman rebahan sambil doom scrolling, nggak mood melakukan sesuatu, dan capek banget sehingga benar-benar hanya ingin beristirahat? Hal tersebut bisa terjadi karena dua hal. Yang pertama, Puan bisa jadi mengalami burn out, atau yang kedua Puan memang lagi malas aja.
Nah, kedua hal ini sering disalahartikan loh! Jadi, Puan harus lebih berhati-hati lagi! Kita harus bisa membedakan kondisi yang sedang dialami oleh tubuh kita. Sehingga, Puan pun tidak salah dalam menyikapi sikap tersebut.
Apa sih Burn Out itu?
Menurut WHO, burn out adalah suatu kondisi kelelahan fisik dan mental yang dialami seseorang akibat kehidupan profesionalnya. Hal ini bisa jadi karena kerjaan yang menumpuk, atau bisa jadi karena lembur tanpa liburan yang tak kunjung datang. Efek dari burn out ini tidak bisa kita anggap remeh, Puan. Burn out bisa membuat kita susah fokus, kesulitan untuk berpikir jernih, hingga kelelahan fisik.
Nah, apa sih perbedaan burn out dengan malas, Puan? Malas terjadi karena hilangnya motivasi dan ketertarikan akan hal yang Puan kerjakan. Ketika malas, Puan sebenarnya bisa melakukannya dalam jangka waktu yang lama. Hanya saja, Puan kehilangan motivasi. Sedangkan saat burn out, Puan akan kesulitan untuk fokus dan berpikir jernih saat melakukan pekerjaan tersebut.
Yuk intip tanda-tanda kalau Puan sedang mengalami burn out:
1. Sakit kepala dan tegang otot bisa jadi tanda fisik bahwa Puan mengalami burnout
2. Merasa terjebak dan tak berdaya
3. Rasa puas yang menurun saat melihat pencapaian yang Puan miliki
4. Rasa ingin untuk selalu meninggalkan tanggung jawab karena merasa lelah
5. Bolos kerja
6. Puan merasa gagal dan tak yakin dengan kemampuan diri sendir
7. Sulit fokus dan berpikir jernih
Lantas, bagaimana cara mengatasinya ketika Puan lagi burnout?
Langkah-langkah yang dapat Puan lakukan antara lain:
1. Buat batasan waktu kerja, hindari lembur. Bila memungkinkan, lakukan liburan singkat
2. Buatlah healthy boundaries untuk pekerjaanmu. Katakan tidak pada pekerjaan yang seharusnya tidak Puan kerjakan, lembur yang tak sesuai dengan kontrak kerja, hingga rekan kerja yang mungkin toxic.
Yuk, jangan sampai burnout ini Puan alami yaa. Sehabis melakukan pekerjaan, Puan boleh banget melakukan self reward atau refreshing. Jangan lupa istirahat dan bahagia, Puan! ❤
REFERENSI:https://inwomendaily.com/power/article/psst-ternyata-ini-dia-5-perbedaan-antara-burnout-dan-malashttps://matabandung.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-1822539444/jangan-salah-malas-atau-burnout-itu-beda-loh-begini-penjelasannyahttps://www.idntimes.com/life/career/nurul-meidah-rahmah/ternyata-bukan-malas-inilah-6-tanda-jika-kamu-sedang-burnout-c1c2/6
3. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, jangan menyalahkan diri sendiri karena merasa burn out.
Yuk, jangan sampai burnout ini Puan alami yaa. Sehabis melakukan pekerjaan, Puan boleh banget melakukan self reward atau refreshing. Jangan lupa istirahat dan bahagia, Puan! ❤
Author: Annisa Zahwatul Ummi

Komentar
Posting Komentar