Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Simak Beberapa Peluang Kerja Jurusan Psikologi Berikut!

 

Source: Freepik


Apakah ada di antara Puan yang sedang berkuliah di jurusan psikologi atau yang akan mengambil jurusan ini setelah lulus SMA? Psikologi merupakan salah satu prodi yang banyak dicari di dunia kerja. Kemampuan lulusannya untuk menganalisis perilaku dan kepribadian manusia sangat bermanfaat untuk berbagai industri. Psikologi adalah pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia serta aktualisasi kejiwaan dan kepribadian. Ilmu psikologi ini seringkali digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam serangkaian aktivitas manusia yang kompleks.


Ternyata prospek kerja lulusan psikologi banyak banget loh, Puan. Berikut beberapa prospek kerja yang amat menjanjikan dari jurusan psikologi:


1. Human Resource Departement (HRD)

Human Resource Development adalah salah satu pekerjaan yang paling diminati oleh para lulusan psikologi loh, Puan. Sebagian besar perusahaan di Indonesia memerlukan Human Resource Development. Profesi ini adalah bagian dari perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya manusia di perusahaan. Apakah HRD menjadi pekerjaan impian Puan?


2. Psikiater

Salah satu jenis pekerjaan yang cocok untuk Puan yang lulus jurusan psikologi adalah psikiater. Ilmu ini menjadi prospek dan peluang bagi profesi dokter yang mempunyai spesialisasi dalam mengatasi gangguan mental. Biasanya psikiater dapat mengatasi masalah jiwa yang ringan sampai persoalan yang berat.


3. Konselor

Salah satu prospek pekerjaan psikologi yang bagus untuk dicoba adalah sebagai konselor. Konselor bertanggung jawab untuk memberikan saran kepada klien. Biasanya pekerjaan ini akan diminta oleh perusahaan untuk konsultasi para karyawannya. Seorang konselor bisa juga menjadi penasihat serta dapat meniti karier di Lembaga Swadaya Masyarakat.


4. Psikolog

Lulusan Psikologi dapat menjadi seorang psikolog. Profesi ini merupakan jenis profesi khusus untuk mengatasi atau membantu gangguan mental manusia, meskipun gaji seorang psikolog terbilang tidak terlalu besar. Saat ini banyak ditemukan orang-orang yang kesehatan mentalnya rapuh, lemah, dan butuh bantuan. Salah satu caranya yakni dapat menghubungi para psikolog di rumah sakit atau klinik terdekat untuk menyelesaikan semua masalah tersebut. Bagaimana, tertarik menjadi seorang psikolog, Puan?


5. Head Hunter

Salah satu prospek kerja jurusan psikologi yang lagi ngehits sekarang adalah Head Hunter. Sebenarnya, pekerjaan Head hunter sama dengan apa yang dilakukan oleh perekrut pekerjaan. Head hunter dengan perekrut sama-sama membantu perusahaan untuk mendapatkan kandidat karyawan/karyawati berkualitas yang layak dipekerjakan. Bedanya, Head hunter bekerja di organisasi yang menawarkan jasa pencarian kandidat pegawai kantoran yang berkualitas. Sementara itu, perekrut pada umumnya bekerja di perusahaan bidang apapun yang memiliki tanggung jawab buat mencari kandidat sesuai kebutuhan perusahaan dan permintaan atasan. Seorang Head Hunter profesional dan berpengalaman dapat memperoleh penghasilan atau gaji hingga lebih dari 10 juta rupiah per bulannya loh, Puan.


Itulah beberapa prospek kerja yang menjanjikan dari jurusan Psikologi, Puan. Masih banyak pekerjaan lainnya jika kamu salah satu lulusan dari jurusan ini. Bagi Puan yang sedang menempuh pendidikannya di Psikologi, semangat ya! Semoga mendapatkan pekerjaan yang Puan impikan. Sedangkan yang masih ragu ingin memilih jurusan ini atau tidak, tidak usah ragu Puan. Prospek kerja jurusan psikologi sangatlah bagus dan menjanjikan. Jadi mantapkan hati dan pilihan Puan yang tahun ini akan masuk ke dunia perkuliahan ya!


Referensi:

https://campus.quipper.com/majors/id-psikologi?source=post_page-----fe0b82aa43de-------------------------------- https://rencanamu.id/cari-jurusan/humaniora/psikologi?source=post_page-----fe0b82aa43de-------------------------------- https://epsikologi.com/peluang-kerja-lulusan-psikologi/?source=post_page-----fe0b82aa43de-------------------------------- https://www.universitas123.com/news/prospek-kerja-lulusan-psikologi?source=post_page-----fe0b82aa43de--------------------------------


Author: Annisa Zahwatul Ummi

Editor: Dita Angelina

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...