Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...
![]() |
freepik.com |
Kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak kamu dalam merespons hal-hal negatif. Keluhan-keluhan yang awalnya kecil bisa menjadi pembentuk kepribadianmu.
Boleh nggak sih kita ngeluh? Nggak ada yang salah dengan mengekspresikan apa yang kamu rasakan, tentunya kamu tidak ingin mengubur perasaanmu. Jika ada sesuatu yang pantas dikeluhkan, lakukanlah. Namun, harus terus memantau perasaanmu mengenai hal yang kamu keluhkan, apakah itu pantas untuk dikeluhkan atau hanya perasaanmu saja?
Menjaga sikap mengeluh pada batas wajar juga sangat penting agar kamu bisa tetap maju.
Tahukah Puan, orang mengeluh juga ada macamnya loh
- Ada yang mengeluh karena ingin diperhatikan dan mendapat bantuan, tapi ketika ada orang yang mau bantu malah menolak
- Ada yang mengeluh tentang semua hal, nggak peduli seberapa kecilnya. Hingga tak memperdulikan pendapat disekitarnya.
- Mengeluh agar dapat menyadari kekurangnya dan men-trigger dirinya untuk menemukan solusinya
Ketika Puan mendapati diri sedang mengeluh, cobalah lakukan ini!
- Lihatlah gambaran besarnya. Apakah dengan kamu mengeluh sesuatu, nantinya akan bermanfaat bagimu di 5 menit, 5 bulan atau 5 tahun yang akan datang?
- Perhatikan lebih dalam lagi. Perlakukan keluhanmu dengan serius, cari tahu apa penyebabnya — apakah penyebabnya hal kecil atau besar?
- Cari sisi positifnya. Ketika kamu mengeluh, awali dan akhiri dengan pemikiran positif.
- Coba untuk bersyukur. Ingatkan hal yang membuatmu bersyukur tiap hari, tak peduli seberapa kecilnya. Dr. Bea mengatakan menulis jurnal dapat mengurangi pikiran negatif.
Refrensi:
How to Stop Complaining: 7 Secrets to Being Happier — Cleveland Clinic
Hidden Benefits and Pitfalls of Complaining (verywellmind.com)
Negative Effects of Complaining and Why It’s Bad for Your Health. (isharedthat-com.translate.goog)
Support Group kesehatan mental on Instagram: “Yuk, kali ini kita kulik soal “mengeluh” dan step-stepnya!! Biar TJs bisa tetap menyalurkan keluhan tanpa harus jadi grumpy. Coba sekarang…”
Author: Hasna Amada Ramania
Editor: Maya Zahwa Aulia

Komentar
Posting Komentar