Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Mindfulness: Ketika Puan Belajar Hadir Sepenuhnya

 Puan pernah gak sih, merasa hari-hari padat, tapi di penghujung hari rasanya tetap hampa? Semua dikerjakan, tapi rasanya autopilot. Makan sambil scroll, ngobrol sambil mikirin kerjaan, istirahat pun masih kepikiran to-do list. 

Nah, itu mungkin pertanda bahwa Puan kehilangan satu hal penting, yaitu kehadiran diri. Dan di sinilah mindfulness bisa jadi jawabannya.

Apa itu Mindfulness?

Mindfulness adalah kemampuan untuk sadar penuh pada momen saat ini, tanpa menghakimi. Bukan soal meditasi di pegunungan atau duduk berjam-jam. Namun, tentang hadir di tengah rutinitas, benar-benar merasakan, bukan sekadar menjalani. 

Menurut Jon Kabat-Zinn, pelopor mindfulness modern dan pendiri program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), mindfulness adalah:

“Kesadaran yang muncul dari memberi perhatian, dengan sengaja, pada saat ini, tanpa menghakimi.”

Kenapa Puan Kehilangan Kehadiran?

Dengan kehidupan modern yang penuh distraksi: notifikasi, target, ekspektasi sosial, dan tekanan waktu. Puan jadi jago multitasking, tapi gagal untuk benar-benar merasakan satu hal secara utuh. 

Padahal, riset dari Harvard menunjukkan bahwa pikiran yang mengembara atau mind-wandering dapat membuat seseorang kurang bahagia, bahkan ketika sedang melakukan hal menyenangkan. 

Manfaat  Mindfulness dalam Hidup Puan

Ada banyak manfaat dari mindfulness, di antaranya  adalah:

  • Mengurangi stress  dan burnout

  • Meningkatkan fokus dan produktivitas 

  • Memperbaiki hubungan dan empati

  • Mengenal emosi diri tanpa tenggelam di dalamnya

Cara Memulai Mindfulness 

Berikut ini adalah cara praktis yang dapat Puan terapkan untuk memulai mindfulness, yaitu:

  1. Rasakan napas selama 1 menit tanpa perlu mengatur apa-apa.

  2. Makan tanpa distraksi untuk merasakan tekstur, rasa, dan aroma makanan. 

  3. Mindful break dengan cara mengalihkan perhatian ke tubuh dan pernapasan saat jeda kuliah/kerja.

  4. Menulis perasaan tanpa sensor untuk menyadari, bukan menganalisis.

  5. Menyadari tubuh saat jalan, duduk, atau cuci tangan. Momen kecil bisa menjadi latihan sadar. 

Pada Akhirnya,

Mindfulness bukan tentang menjadi tenang terus. Akan tetapi, tentang bertemu diri sendiri apa adanya, di tengah kesibukan dan suara bising dunia. Karena seringkali kita lupa hadir untuk menyadari.


Referensi:
  • Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You Are.

  • Killingsworth, M. A., & Gilbert, D. T. (2010). “A Wandering Mind Is an Unhappy Mind.” Science, 330(6006), 932.

  • Creswell, J. D. (2017). “Mindfulness Interventions.” Annual Review of Psychology, 68, 491–516.

  • American Psychological Association. (2019). “Mindfulness Meditation: A Research-Proven Way to Reduce Stress.”


Author & Editor: Daru Sekar Arum

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Image by : Grasindo Puan, pernah nggak sih ngerasa kalo hidup lagi di titik terendah? Nggak tau arah tujuan, motivasi hilang, overthinking berlebihan, dan rasanya pengen nyerah aja? Kalo Puan pernah atau lagi ada di posisi itu, tenang aja ya, Puan nggak sendirian kok. Apa yang Puan hadapi, persis banget kaya tokoh utama di buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna ini.  Pengertian Demotivasi Demotivasi yaitu suatu keadaan yang dialami seseorang ketika merasa kehilangan semangat, antusias, dan minat untuk melakukan aktivitas apa pun di dalam hidupnya. Pemicunya ada beberapa hal, seperti mental yang lelah, masalah hidup yang berat, keberadaan yang kurang dihargai, tekanan dari sekitar, atau merasa tidak percaya diri.   Hanya buku, tapi bisa jadi alasan bertahan hidup Dalam buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" ini bukan cuma cerita biasa, tokoh utama justru menemukan kembali alasan bertahan hidupny...