Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Belajar dari Roti Gosong: Mengubah Kesulitan Jadi Kesempatan


Puan, pernah nggak sih ngalamin kejadian yang bikin langsung mikir, "Duh, kok hari ini aku apes banget ya?" Misalnya, salah belok di perempatan, outfit kesayangan ketumpahan kopi, atau lupa bawa dompet. Wajar banget kok kalau jadi bad mood dan bawaannya pengen ngeluh terus, tapi jangan sampai kejadian-kejadian menyebalkan itu ngerusak sisa hari Puan ya.

At the end of the day, semua kesulitan itu pasti bisa dilewati dengan baik kok. Siapa tahu itu justru membawa Puan ke hal-hal baik yang nggak terduga. Masa sih? Nah, ini yang dinamain Burnt Toast Theory. Penasaran kenapa roti gosong bisa jadi filosofi hidup? Yuk, kita bahas!


Burnt Toast Theory Itu Apa Sih?

Burnt Toast Theory adalah cara berpikir untuk menyikapi kejadian menyebalkan dengan santai. Intinya, teori ini mengajarkan kita kalau setiap kesulitan yang kita temui itu sebenarnya lagi membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik.

Terus, apa hubungannya sama roti gosong? Filosofi ini berasal dari gagasan sederhana saat seseorang lagi bikin roti panggang buat sarapan, tapi malah gosong gara-gara kelupaan diangkat. Nah, dari situ, dia punya dua pilihan:

  • Menganggapnya sebagai bencana: Bad mood, terlambat, dan jadi nggak fokus ngerjain hal lainnya.

  • Menganggapnya sebagai "kode" dari alam semesta: Mungkin itu ada hikmahnya, kayak jadi nggak kena macet atau ketemu teman lama.

Menurut Dr. Markley dari Cleveland Clinic, mau roti gosong itu beneran mengubah jalannya hari atau nggak, yang jelas kejadian menyebalkan kayak gitu ngasih kita kesempatan buat belajar gimana cara mengelola emosi, berpikir lebih jernih, dan reset fokus. Jadi, kejadian menyebalkan pun punya sisi positifnya sendiri. Nah, dari sini mungkin Puan bertanya-tanya, apa bedanya ini sama toxic positivity? Eits, jangan salah.


Burnt Toast Theory Berbeda dengan Toxic Positivity

Toxic Positivity itu berarti memaksakan diri atau orang lain buat selalu berpikir positif, padahal lagi di situasi sulit atau sedih. Nah, Burnt Toast Theory nggak begitu. Teori ini justru mengakui kalau kejadian menyebalkan emang bikin kita frustrasi atau bad mood di awal, tapi kita juga bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa mungkin ada hikmah di baliknya. Ini bukan tentang menekan emosi negatif, melainkan tentang mencari harapan dan kesempatan di tengah ketidaknyamanan.

Makanya, Burnt Toast Theory ini juga nggak bisa diterapkan untuk semua jenis kesulitan. Seperti yang dikatakan Dr. Theodora Blanchfield di Verywell Mind, teori ini nggak berlaku buat trauma atau pengalaman yang terlalu menyakitkan. Teori ini lebih pas untuk hal-hal yang bikin kita kesal atau kecewa dalam keseharian, seperti gagal interview kerja, digibahin orang, atau hal sepele kayak roti gosong di pagi hari. Kalau Puan masih ragu gimana mindset ini bisa bermanfaat, simak penjelasan selanjutnya ya!


Manfaat Penerapan Burnt Toast Theory di Kehidupan Sehari-Hari

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menerapkan mindset Burnt Toast Theory.

  • Mengajarkan Kita Self-Compassion

Burnt Toast Theory ini ngajarin kita buat maafin diri sendiri. Namanya juga manusia biasa, nggak ada yang sempurna. Jadi, hal-hal kecil yang bikin kesel atau momen nggak nyaman itu pasti sesekali kejadian. Itu bukan berarti kamu punya banyak kekurangan ya, Puan.

  • Membuat Kita Lebih Mindful

Wajar banget kalau Puan bad mood karena kejadian menyebalkan. Makannya, Burnt Toast Theory juga ngajarin kita buat ambil napas sejenak dan menepi dari situasi menyebalkan itu. Kalau kita tenang, kita nggak akan kebawa emosi.

  • Membantu Kita Move Forward

Kalau lagi dihadang kesulitan, biasanya kita langsung mikir gimana solusinya kan? Nah, hal-hal kecil yang bikin nggak nyaman ini justru ngelatih kita buat terbiasa mecahin masalah dan punya toleransi terhadap tekanan. 

Gimana Puan, udah paham betul kan sama Burnt Toast Theory ini? Semoga setelah ini, tiap ada "roti gosong" di hari Puan, bisa disikapi dengan lebih tenang dan positif ya!


Referensi:

Verywell Mind

Cleveland Clinic 

Pure Wow


Author & Editor:

Dwi Khumaeroh Saadah


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Image by : Grasindo Puan, pernah nggak sih ngerasa kalo hidup lagi di titik terendah? Nggak tau arah tujuan, motivasi hilang, overthinking berlebihan, dan rasanya pengen nyerah aja? Kalo Puan pernah atau lagi ada di posisi itu, tenang aja ya, Puan nggak sendirian kok. Apa yang Puan hadapi, persis banget kaya tokoh utama di buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna ini.  Pengertian Demotivasi Demotivasi yaitu suatu keadaan yang dialami seseorang ketika merasa kehilangan semangat, antusias, dan minat untuk melakukan aktivitas apa pun di dalam hidupnya. Pemicunya ada beberapa hal, seperti mental yang lelah, masalah hidup yang berat, keberadaan yang kurang dihargai, tekanan dari sekitar, atau merasa tidak percaya diri.   Hanya buku, tapi bisa jadi alasan bertahan hidup Dalam buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" ini bukan cuma cerita biasa, tokoh utama justru menemukan kembali alasan bertahan hidupny...