Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Kenali Machiavellianism: Red Flag yang Sulit Banget Dideteksi

 


Image by: WikiHow


Pernah nggak sih ketemu orang yang bikin Puan selalu mikir dua kali? Yang di permukaan keliatan baik, supportive, bahkan charming, tapi entah kenapa ada yang terasa aneh. Puan nggak bisa jelasin kenapa, tapi setelah berinteraksi sama mereka, Puan sering merasa lelah, bingung, atau malah meragukan keputusan sendiri.

Nah, kemungkinan Puan baru aja ketemu sama orang yang punya sifat Machiavellianism. Ini adalah salah satu red flag paling susah dideteksi karena mereka pandai banget menyamarkannya.

Machiavellianism Itu Apa Sih?

Istilah ini berasal dari buku Machiavelli, "The Prince", ia berpendapat bahwa “tidak masalah melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.” Orang dengan kepribadian Machiavellian dapat memahami situasi sosial dan memanipulasinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak etis atau tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Dalam keseharian, mereka selalu punya agenda tersembunyi dan pandai sekali membaca situasi untuk keuntungan pribadi. Yang bikin sulit dikenali? Mereka nggak seperti manipulator toxic pada umumnya yang obvious. Mereka halus, menarik, dan sering kali memang helpful, selama itu menguntungkan mereka.

Red Flags yang Sering Nggak Disadari:

1. Timing yang Selalu Pas

Mereka selalu tahu kapan waktu tepat untuk mendekati Puan. Lagi down? Mereka hadir dengan dukungan. Lagi butuh bantuan? Mereka tawarkan solusi. Tapi entah gimana, Puan malah selalu merasa "berhutang budi" karena sikap mereka secara nggak langsung.

2. Kolektor Informasi

Mereka pandai bertanya tentang hidup Puan, tapi Puan nggak banyak tahu tentang mereka. Mereka mengumpulkan informasi layaknya investasi untuk dipakai nanti. Contohnya, setelah cerita ke mereka, info pribadi Puan entah gimana bisa "bocor" ke orang lain.

3. Empati dengan Batas Waktu

Empati mereka terasa tulus tapi ada time limit-nya. Mereka supportive selama itu menguntungkan image mereka. Contohnya, mereka akan bersikap baik dan hangat sama Puan cuma di depan orang lain.

4. Senang Jadi Penghubung

Mereka suka jadi perantara antara dua pihak karena itu memberi mereka power dan informasi yang bisa mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka nanti.


Terus, Kenapa Susah Banget Dideteksi?

1. Mereka Nggak Toxic Secara Obvious

Berbeda dengan narcissist yang suka cari perhatian, orang Machiavellian bisa sangat menyenangkan dan membantu.

2. Pandai Membaca Situasi

Mereka sangat baik dalam membaca suasana dan tahu persis gimana cara mendekati setiap orang untuk kepentingan mereka sendiri.

Dampak pada Mental Health Kita

Setelah berinteraksi dengan orang Machiavellian dalam waktu lama, Puan mungkin akan mengalami:

  • Terus meragukan diri sendiri
  • Kelelahan emosional setelah berinteraksi
  • Overthinking setiap interaksi sosial
  • Susah percaya pada kebaikan tulus dari orang lain

Yang paling tricky: mereka bikin kita merasa bersalah karena curiga. "Dia kan baik sama kamu, kok kamu malah curiga?"


Tips Mengenali dan Melindungi Diri

1. Perhatikan Polanya

Apakah mereka membantu cuma saat ada yang melihat? Apakah percakapan selalu menguntungkan mereka? Atau apakah Puan merasa "berhutang" setelah mereka membantu?

2. Percaya Intuisi

Kalau setelah berinteraksi Puan merasa aneh tanpa alasan jelas, itu perasaan yang valid. Jangan abaikan intuisi Puan.

3. Tetapkan Batasan

Orang Machiavellian menghormati batasan yang tegas dan konsisten. Mereka lebih suka target yang predictable.

4. Jangan Oversharing

Informasi adalah kekuatan buat mereka. Simpan hal-hal pribadi untuk diri sendiri sampai Puan yakin dengan motif mereka.

Bukan Soal Paranoid

Mengenali sifat Machiavellian bukan berarti kita harus paranoid atau nggak percaya semua orang. Kebanyakan orang memang baik dengan motif yang jelas. Namun, awareness tentang red flags ini penting untuk melindungi mental health kita dan memastikan hubungan yang kita bangun adalah yang sehat dan tulus.

Karena Puan pantas mendapat hubungan yang nggak bikin Puan terus meragukan diri sendiri.

Referensi:

Author & Editor: Anisa Zahara

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...