Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Kenali Machiavellianism: Red Flag yang Sulit Banget Dideteksi

 


Image by: WikiHow


Pernah nggak sih ketemu orang yang bikin Puan selalu mikir dua kali? Yang di permukaan keliatan baik, supportive, bahkan charming, tapi entah kenapa ada yang terasa aneh. Puan nggak bisa jelasin kenapa, tapi setelah berinteraksi sama mereka, Puan sering merasa lelah, bingung, atau malah meragukan keputusan sendiri.

Nah, kemungkinan Puan baru aja ketemu sama orang yang punya sifat Machiavellianism. Ini adalah salah satu red flag paling susah dideteksi karena mereka pandai banget menyamarkannya.

Machiavellianism Itu Apa Sih?

Istilah ini berasal dari buku Machiavelli, "The Prince", ia berpendapat bahwa “tidak masalah melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.” Orang dengan kepribadian Machiavellian dapat memahami situasi sosial dan memanipulasinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak etis atau tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Dalam keseharian, mereka selalu punya agenda tersembunyi dan pandai sekali membaca situasi untuk keuntungan pribadi. Yang bikin sulit dikenali? Mereka nggak seperti manipulator toxic pada umumnya yang obvious. Mereka halus, menarik, dan sering kali memang helpful, selama itu menguntungkan mereka.

Red Flags yang Sering Nggak Disadari:

1. Timing yang Selalu Pas

Mereka selalu tahu kapan waktu tepat untuk mendekati Puan. Lagi down? Mereka hadir dengan dukungan. Lagi butuh bantuan? Mereka tawarkan solusi. Tapi entah gimana, Puan malah selalu merasa "berhutang budi" karena sikap mereka secara nggak langsung.

2. Kolektor Informasi

Mereka pandai bertanya tentang hidup Puan, tapi Puan nggak banyak tahu tentang mereka. Mereka mengumpulkan informasi layaknya investasi untuk dipakai nanti. Contohnya, setelah cerita ke mereka, info pribadi Puan entah gimana bisa "bocor" ke orang lain.

3. Empati dengan Batas Waktu

Empati mereka terasa tulus tapi ada time limit-nya. Mereka supportive selama itu menguntungkan image mereka. Contohnya, mereka akan bersikap baik dan hangat sama Puan cuma di depan orang lain.

4. Senang Jadi Penghubung

Mereka suka jadi perantara antara dua pihak karena itu memberi mereka power dan informasi yang bisa mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka nanti.


Terus, Kenapa Susah Banget Dideteksi?

1. Mereka Nggak Toxic Secara Obvious

Berbeda dengan narcissist yang suka cari perhatian, orang Machiavellian bisa sangat menyenangkan dan membantu.

2. Pandai Membaca Situasi

Mereka sangat baik dalam membaca suasana dan tahu persis gimana cara mendekati setiap orang untuk kepentingan mereka sendiri.

Dampak pada Mental Health Kita

Setelah berinteraksi dengan orang Machiavellian dalam waktu lama, Puan mungkin akan mengalami:

  • Terus meragukan diri sendiri
  • Kelelahan emosional setelah berinteraksi
  • Overthinking setiap interaksi sosial
  • Susah percaya pada kebaikan tulus dari orang lain

Yang paling tricky: mereka bikin kita merasa bersalah karena curiga. "Dia kan baik sama kamu, kok kamu malah curiga?"


Tips Mengenali dan Melindungi Diri

1. Perhatikan Polanya

Apakah mereka membantu cuma saat ada yang melihat? Apakah percakapan selalu menguntungkan mereka? Atau apakah Puan merasa "berhutang" setelah mereka membantu?

2. Percaya Intuisi

Kalau setelah berinteraksi Puan merasa aneh tanpa alasan jelas, itu perasaan yang valid. Jangan abaikan intuisi Puan.

3. Tetapkan Batasan

Orang Machiavellian menghormati batasan yang tegas dan konsisten. Mereka lebih suka target yang predictable.

4. Jangan Oversharing

Informasi adalah kekuatan buat mereka. Simpan hal-hal pribadi untuk diri sendiri sampai Puan yakin dengan motif mereka.

Bukan Soal Paranoid

Mengenali sifat Machiavellian bukan berarti kita harus paranoid atau nggak percaya semua orang. Kebanyakan orang memang baik dengan motif yang jelas. Namun, awareness tentang red flags ini penting untuk melindungi mental health kita dan memastikan hubungan yang kita bangun adalah yang sehat dan tulus.

Karena Puan pantas mendapat hubungan yang nggak bikin Puan terus meragukan diri sendiri.

Referensi:

Author & Editor: Anisa Zahara

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...