Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Kenali Machiavellianism: Red Flag yang Sulit Banget Dideteksi

 


Image by: WikiHow


Pernah nggak sih ketemu orang yang bikin Puan selalu mikir dua kali? Yang di permukaan keliatan baik, supportive, bahkan charming, tapi entah kenapa ada yang terasa aneh. Puan nggak bisa jelasin kenapa, tapi setelah berinteraksi sama mereka, Puan sering merasa lelah, bingung, atau malah meragukan keputusan sendiri.

Nah, kemungkinan Puan baru aja ketemu sama orang yang punya sifat Machiavellianism. Ini adalah salah satu red flag paling susah dideteksi karena mereka pandai banget menyamarkannya.

Machiavellianism Itu Apa Sih?

Istilah ini berasal dari buku Machiavelli, "The Prince", ia berpendapat bahwa “tidak masalah melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.” Orang dengan kepribadian Machiavellian dapat memahami situasi sosial dan memanipulasinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak etis atau tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Dalam keseharian, mereka selalu punya agenda tersembunyi dan pandai sekali membaca situasi untuk keuntungan pribadi. Yang bikin sulit dikenali? Mereka nggak seperti manipulator toxic pada umumnya yang obvious. Mereka halus, menarik, dan sering kali memang helpful, selama itu menguntungkan mereka.

Red Flags yang Sering Nggak Disadari:

1. Timing yang Selalu Pas

Mereka selalu tahu kapan waktu tepat untuk mendekati Puan. Lagi down? Mereka hadir dengan dukungan. Lagi butuh bantuan? Mereka tawarkan solusi. Tapi entah gimana, Puan malah selalu merasa "berhutang budi" karena sikap mereka secara nggak langsung.

2. Kolektor Informasi

Mereka pandai bertanya tentang hidup Puan, tapi Puan nggak banyak tahu tentang mereka. Mereka mengumpulkan informasi layaknya investasi untuk dipakai nanti. Contohnya, setelah cerita ke mereka, info pribadi Puan entah gimana bisa "bocor" ke orang lain.

3. Empati dengan Batas Waktu

Empati mereka terasa tulus tapi ada time limit-nya. Mereka supportive selama itu menguntungkan image mereka. Contohnya, mereka akan bersikap baik dan hangat sama Puan cuma di depan orang lain.

4. Senang Jadi Penghubung

Mereka suka jadi perantara antara dua pihak karena itu memberi mereka power dan informasi yang bisa mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka nanti.


Terus, Kenapa Susah Banget Dideteksi?

1. Mereka Nggak Toxic Secara Obvious

Berbeda dengan narcissist yang suka cari perhatian, orang Machiavellian bisa sangat menyenangkan dan membantu.

2. Pandai Membaca Situasi

Mereka sangat baik dalam membaca suasana dan tahu persis gimana cara mendekati setiap orang untuk kepentingan mereka sendiri.

Dampak pada Mental Health Kita

Setelah berinteraksi dengan orang Machiavellian dalam waktu lama, Puan mungkin akan mengalami:

  • Terus meragukan diri sendiri
  • Kelelahan emosional setelah berinteraksi
  • Overthinking setiap interaksi sosial
  • Susah percaya pada kebaikan tulus dari orang lain

Yang paling tricky: mereka bikin kita merasa bersalah karena curiga. "Dia kan baik sama kamu, kok kamu malah curiga?"


Tips Mengenali dan Melindungi Diri

1. Perhatikan Polanya

Apakah mereka membantu cuma saat ada yang melihat? Apakah percakapan selalu menguntungkan mereka? Atau apakah Puan merasa "berhutang" setelah mereka membantu?

2. Percaya Intuisi

Kalau setelah berinteraksi Puan merasa aneh tanpa alasan jelas, itu perasaan yang valid. Jangan abaikan intuisi Puan.

3. Tetapkan Batasan

Orang Machiavellian menghormati batasan yang tegas dan konsisten. Mereka lebih suka target yang predictable.

4. Jangan Oversharing

Informasi adalah kekuatan buat mereka. Simpan hal-hal pribadi untuk diri sendiri sampai Puan yakin dengan motif mereka.

Bukan Soal Paranoid

Mengenali sifat Machiavellian bukan berarti kita harus paranoid atau nggak percaya semua orang. Kebanyakan orang memang baik dengan motif yang jelas. Namun, awareness tentang red flags ini penting untuk melindungi mental health kita dan memastikan hubungan yang kita bangun adalah yang sehat dan tulus.

Karena Puan pantas mendapat hubungan yang nggak bikin Puan terus meragukan diri sendiri.

Referensi:

Author & Editor: Anisa Zahara

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...