Langsung ke konten utama

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

                                                                                                              24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborat...

Bukan Tentang SEMPURNA Melainkan Tentang Percaya: Merawat SELF EFFICACY di Tengah Life Standard TikTok.


Image by: emy-l

Don’t compare yourself with anyone else in the world. If you do so you are insulting yourself.” - Bill Gates

Puan, pernah nggak si merasa cemas dan insecure ketika scrolling TikTok?...

Tanpa sadar di saat kita scrolling, sering muncul konten “life standard” di FYP kita yang mengatakan jika di usia segini harus punya karier begini, pasangan begitu, dan pencapaian setinggi itu sehingga berujung membuat suasana yang nggak nyaman. Dalam hitungan detik, tanpa sadar kita membandingkan diri. Lalu muncul suara kecil di kepala, “Kok aku belum kayak mereka ya?” Pelan-pelan, rasa percaya diri terkikis, dan kita mulai ragu pada kemampuan diri sendiri.

TikTok mungkin memiliki standard tersendiri, tetapi apakah kita perlu mengikuti standard tersebut? Kita berhak menentukan hidup kita sendiri, kita bertanggung jawab atas apa yang kita pilih, dan kita berhak menentukan arah dan tujuan hidup kita. 

...Karena hidup bukan tentang siapa yang lebih cepat mencapai sesuatu, melainkan siapa yang mampu bertahan dan tumbuh dalam setiap prosesnya. Proses juga bukan tentang hasil, melainkan tentang langkah yang kita tentukan dan ambil dengan bijak. 

Fenomena perbandingan di TikTok ini berkaitan erat dengan konsep self-efficacy, yang mana keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika kita yakin bahwa kita mampu, kita cenderung lebih berani mencoba hal baru, tidak mudah menyerah saat gagal, dan lebih percaya pada proses. Namun sebaliknya, ketika keyakinan itu goyah karena terlalu sering melihat “kehidupan sempurna” orang lain di media sosial, kita mulai kehilangan arah dan motivasi. Di sinilah pentingnya merawat self-efficacy di tengah gempuran “life standard TikTok”.

Apa Itu Self Efficacy?

Self-efficacy adalah keyakinan dalam diri bahwa “aku bisa”. Bukan karena orang lain yang mengatakan ataupun standar kehidupan yang ada, melainkan karena kita percaya bahwa kita mampu berusaha, belajar, dan berkembang dari setiap proses yang kita jalani.

Seperti dijelaskan oleh Albert Bandura (1997), self-efficacy adalah kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan mengeksekusi tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan tertentu. Keyakinan ini memengaruhi bagaimana kita berpikir, merasa, dan berperilaku ketika menghadapi tantangan.

Kenapa Self Efficacy Penting?

Menurut Bandura, self-efficacy berperan besar dalam bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dan dunianya. Ini bukan sekadar rasa percaya diri, melainkan fondasi dalam menghadapi tekanan hidup.

Nah, berikut alasan kenapa self-efficacy penting banget untuk dijaga, terutama di tengah tekanan “life standard” yang sering muncul di TikTok:

  1. Membentuk Keberanian untuk Melangkah.
    Ketika kita yakin pada diri sendiri, kita lebih berani mencoba tanpa takut gagal.

  2. Meningkatkan Ketahanan Mental.
    Self-efficacy membuat kita tangguh dan tidak mudah menyerah meski hidup tidak selalu sesuai harapan.

  3. Membantu Lepas dari Perbandingan Sosial.
    Keyakinan diri yang kuat membantu kita fokus pada perjalanan sendiri, bukan pencapaian orang lain.

  4. Menjaga Keseimbangan Emotional Intelligence.
    Dengan self-efficacy, kita bisa menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Tidak perlu terburu-buru, yang penting terus tumbuh.

Jadi, self-efficacy bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai titik puncaknya, melainkan tentang siapa yang tetap percaya pada proses diri sendiri, bahkan ketika dunia seolah meminta kita menjadi seperti orang lain.

Cara Merawat Self Efficacy di Tengah “Life Standard” TikTok

Menjaga self-efficacy di era digital bukan hal mudah, apalagi ketika standar hidup orang lain terus muncul di layar kita. Tapi, bukan berarti tidak mungkin.

Batasi Perbandingan, Fokus pada Proses.
Setiap orang punya waktunya sendiri. Fokuslah pada langkah kecil yang bisa kamu syukuri hari ini.

  1. Rayakan Setiap Progres.
    Banggalah pada setiap usaha yang kamu lakukan, sekecil apa pun.

  2. Bangun Lingkungan yang Positif.
    Ikuti orang-orang yang memberi semangat, bukan tekanan.

  3. Berbicara Baik dengan Diri Sendiri.
    Saat pikiran negatif datang, ubah kalimatnya menjadi lebih lembut. Dari “aku nggak bisa” menjadi “aku sedang belajar.”

Puan, dunia mungkin akan terus memberi standar kehidupan, namun hanya kita yang bisa menentukan makna dari perjalanan hidup kita sendiri. Tidak ada waktu yang salah, tidak ada langkah yang terlalu kecil. Selama kita terus percaya pada kemampuan diri, kita sedang berjalan di arah yang benar. Karena hidup bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang percaya, percaya bahwa kita mampu, kita cukup, dan kita pantas tumbuh dengan cara kita sendiri. 


Referensi:

Jia, W., Zhang, X., & Huang, L. (2024). The Impact of Social Media on Users' Self-Efficacy and Loneliness: The Mediating Role of Social Support. Journal of Behavioral and Cognitive Therapy.


Yunani, M. (2025). The Influence of TikTok Media Exposure on Body Image and Self-Esteem among Adolescents.


Bonfanti, R.C. et al. (2025). A systematic review and meta-analysis on social media use and social comparison related to body image and mental health.

Fitri, L. (2024). The Relationship between Social Comparison and Self Esteem in TikTok Users.

Amelia, I. (2025). The Intensity of TikTok Use and Social Comparison on Teenagers' Self-Esteem.


Komentar

Rubik Puan Popular

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

                                                                                                              24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborat...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...