Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Bukan Tentang SEMPURNA Melainkan Tentang Percaya: Merawat SELF EFFICACY di Tengah Life Standard TikTok.


Image by: emy-l

Don’t compare yourself with anyone else in the world. If you do so you are insulting yourself.” - Bill Gates

Puan, pernah nggak si merasa cemas dan insecure ketika scrolling TikTok?...

Tanpa sadar di saat kita scrolling, sering muncul konten “life standard” di FYP kita yang mengatakan jika di usia segini harus punya karier begini, pasangan begitu, dan pencapaian setinggi itu sehingga berujung membuat suasana yang nggak nyaman. Dalam hitungan detik, tanpa sadar kita membandingkan diri. Lalu muncul suara kecil di kepala, “Kok aku belum kayak mereka ya?” Pelan-pelan, rasa percaya diri terkikis, dan kita mulai ragu pada kemampuan diri sendiri.

TikTok mungkin memiliki standard tersendiri, tetapi apakah kita perlu mengikuti standard tersebut? Kita berhak menentukan hidup kita sendiri, kita bertanggung jawab atas apa yang kita pilih, dan kita berhak menentukan arah dan tujuan hidup kita. 

...Karena hidup bukan tentang siapa yang lebih cepat mencapai sesuatu, melainkan siapa yang mampu bertahan dan tumbuh dalam setiap prosesnya. Proses juga bukan tentang hasil, melainkan tentang langkah yang kita tentukan dan ambil dengan bijak. 

Fenomena perbandingan di TikTok ini berkaitan erat dengan konsep self-efficacy, yang mana keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika kita yakin bahwa kita mampu, kita cenderung lebih berani mencoba hal baru, tidak mudah menyerah saat gagal, dan lebih percaya pada proses. Namun sebaliknya, ketika keyakinan itu goyah karena terlalu sering melihat “kehidupan sempurna” orang lain di media sosial, kita mulai kehilangan arah dan motivasi. Di sinilah pentingnya merawat self-efficacy di tengah gempuran “life standard TikTok”.

Apa Itu Self Efficacy?

Self-efficacy adalah keyakinan dalam diri bahwa “aku bisa”. Bukan karena orang lain yang mengatakan ataupun standar kehidupan yang ada, melainkan karena kita percaya bahwa kita mampu berusaha, belajar, dan berkembang dari setiap proses yang kita jalani.

Seperti dijelaskan oleh Albert Bandura (1997), self-efficacy adalah kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan mengeksekusi tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan tertentu. Keyakinan ini memengaruhi bagaimana kita berpikir, merasa, dan berperilaku ketika menghadapi tantangan.

Kenapa Self Efficacy Penting?

Menurut Bandura, self-efficacy berperan besar dalam bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dan dunianya. Ini bukan sekadar rasa percaya diri, melainkan fondasi dalam menghadapi tekanan hidup.

Nah, berikut alasan kenapa self-efficacy penting banget untuk dijaga, terutama di tengah tekanan “life standard” yang sering muncul di TikTok:

  1. Membentuk Keberanian untuk Melangkah.
    Ketika kita yakin pada diri sendiri, kita lebih berani mencoba tanpa takut gagal.

  2. Meningkatkan Ketahanan Mental.
    Self-efficacy membuat kita tangguh dan tidak mudah menyerah meski hidup tidak selalu sesuai harapan.

  3. Membantu Lepas dari Perbandingan Sosial.
    Keyakinan diri yang kuat membantu kita fokus pada perjalanan sendiri, bukan pencapaian orang lain.

  4. Menjaga Keseimbangan Emotional Intelligence.
    Dengan self-efficacy, kita bisa menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Tidak perlu terburu-buru, yang penting terus tumbuh.

Jadi, self-efficacy bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai titik puncaknya, melainkan tentang siapa yang tetap percaya pada proses diri sendiri, bahkan ketika dunia seolah meminta kita menjadi seperti orang lain.

Cara Merawat Self Efficacy di Tengah “Life Standard” TikTok

Menjaga self-efficacy di era digital bukan hal mudah, apalagi ketika standar hidup orang lain terus muncul di layar kita. Tapi, bukan berarti tidak mungkin.

Batasi Perbandingan, Fokus pada Proses.
Setiap orang punya waktunya sendiri. Fokuslah pada langkah kecil yang bisa kamu syukuri hari ini.

  1. Rayakan Setiap Progres.
    Banggalah pada setiap usaha yang kamu lakukan, sekecil apa pun.

  2. Bangun Lingkungan yang Positif.
    Ikuti orang-orang yang memberi semangat, bukan tekanan.

  3. Berbicara Baik dengan Diri Sendiri.
    Saat pikiran negatif datang, ubah kalimatnya menjadi lebih lembut. Dari “aku nggak bisa” menjadi “aku sedang belajar.”

Puan, dunia mungkin akan terus memberi standar kehidupan, namun hanya kita yang bisa menentukan makna dari perjalanan hidup kita sendiri. Tidak ada waktu yang salah, tidak ada langkah yang terlalu kecil. Selama kita terus percaya pada kemampuan diri, kita sedang berjalan di arah yang benar. Karena hidup bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang percaya, percaya bahwa kita mampu, kita cukup, dan kita pantas tumbuh dengan cara kita sendiri. 


Referensi:

Jia, W., Zhang, X., & Huang, L. (2024). The Impact of Social Media on Users' Self-Efficacy and Loneliness: The Mediating Role of Social Support. Journal of Behavioral and Cognitive Therapy.


Yunani, M. (2025). The Influence of TikTok Media Exposure on Body Image and Self-Esteem among Adolescents.


Bonfanti, R.C. et al. (2025). A systematic review and meta-analysis on social media use and social comparison related to body image and mental health.

Fitri, L. (2024). The Relationship between Social Comparison and Self Esteem in TikTok Users.

Amelia, I. (2025). The Intensity of TikTok Use and Social Comparison on Teenagers' Self-Esteem.


Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...