Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa? Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan. Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...
Ilustrasi pengertian self efficacy. Sumber: Pexels/Miriam Alonso
Banyak orang berasumsi rasa mampu itu berasal dari perasaan, kalau sudah “percaya diri” semuanya lancar. Padahal penelitian dan beberapa ulasan tentang self-efficacy menunjukkan hal yang berbeda, keyakinan bahwa kita bisa lebih sering muncul karena adanya bukti konkret, seperti pengalaman sukses berulang, feedback yang jelas, dan praktik yang terukur. Dengan kata lain, saat Puan merasa “nggak mampu,” seringkali yang kurang bukanlah kemampuan dasar, melainkan pengalaman yang meyakinkan diri sendiri.
Kenapa Pembeda ini Penting?
Kalau self-efficacy disamakan dengan sekadar percaya diri, saran yang muncul sering klise seperti “ayo lebih PD!” Pendekatan ini mudah terasa kosong. Perspektif berbasis bukti dapat memindahkan fokus dari memaksa perasaan menjadi mengumpulkan pengalaman nyata. Hal ini lebih praktis, konkret, dan mudah diikuti.
Apa Itu Self-Efficacy?
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas tertentu atau menghadapi situasi spesifik. Ini bukan sinonim dari “percaya diri” umum, self-efficacy bersifat kontekstual. Puan bisa memiliki self-efficacy tinggi pada satu tugas, tapi rendah pada tugas lain.
Enam Langkah Praktis untuk Memperkuat Rasa Mampu dalam Diri
- Micro-mastery dengan memilih bagian kecil dari tugas besar dan selesaikan dalam 20 menit.
- Catat Kemenangan Kecil, membuat catatan singkat atau bullet journal setiap hari satu baris berisi apa yang berhasil, berapa lama, dan apa insight-nya.
- Modeling realistis dengan mengamati senior atau teman yang mirip dengan latar Puan, lalu pilih satu teknik mereka dan coba sesuaikan.
- Feedback Spesifik dengan cara meminta komentar terukur dan membangun, bukan pujian umum.
- Progressive exposure, yakni meningkatkan skala perlahan setelah micro task berhasil.
- Menjadikan Kegagalan sebagai Data dengan mencatat variabel yang berubah (kondisi, persiapan, feedback) lalu ubah satu variabel di percobaan berikutnya.
Jangan menunggu perasaan “100% yakin” untuk bertindak. Rasa mampu datang karena tindakan. Jangan juga membandingkan progress awal Puan dengan orang yang sudah berulang kali melakukan hal sama.
Kalau Puan sering merasa “nggak mampu” di tengah padatnya kegiatan dan tuntutan sekitar, ingat bahwa kapasitas Puan tidak ditentukan oleh satu hari berat. Mulai saja dari langkah yang paling mungkin Puan lakukan sekarang. Perlahan, pengalaman menyelesaikan hal-hal kecil ini akan membentuk keyakinan yang lebih kuat bahwa Puan memang mampu dengan cara Puan sendiri.
Author & Editor: Daru Sekar Arum
Referensi

Komentar
Posting Komentar