Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Saat Semua Terlihat Baik-Baik Saja di Media Sosial: Emotional Granularity Membantu Jujur pada Diri Sendiri

Iamge by: IMOM

“Knowing yourself is the beginning of all wisdom” - Aristotle 

Puan pernah nggak sih di saat perasaan lagi campur aduk dan lagi ingin sendiri, tapi terpaksa untuk kumpul bersama teman karena kewajiban kuliah/kerja dan susah untuk mencoba menjelaskan ke mereka yang  hasilnya cuma, “Gapapa kok, aku lagi capek aja.”

Terkadang di saat kita sedang lelah karena pekerjaan atau tugas kuliah, kita jadi lebih mudah tesinggung akan hal-hal kecil termasuk perkataan orang lain ke diri kita. Dari sini kita bisa membedakan mana emosi, rasa lelah, dan stress. Padahal, kemampuan untuk membedakan perasaan dengan lebih detail adalah salah satu kunci terbesar dalam memahami diri dan inilah yang disebut sebagai emotional granularity.

Apa itu Emotional Granularity? 

Emotional granurality adalah kemampuan untuk mengenali dan memberi label emosi dengan lebih spesifik. Bukan hanya “sedih”, namun “kecewa karena ekspektasi nggak terpenuhi”. Bukan sekedar “marah”, namun “kesal karena tidak didengarkan”. Semakin Puan bisa memilah & mendeskripsikan emosi, semakin mudah pula untuk menanganinya. 

Seperti yang dijelaskan oleh Lisa Feldman Barrett (2006) dalam Personality and Social Psychology Review, individu dengan emotional granularity tinggi yang mampu membedakan pengalaman emosionalnya dengan istilah yang lebih spesifik, bukan berdasarkan kategori yang luas seperti ‘marah’ atau ‘sedih’. 

Kenapa Emotional Granularity Penting? 

Terkadang kita selalu mengira “masalahnya terlalu besar”, padahal sebenarnya yang bikin kacau adalah kita nggak tahu apa yang sebenarnya kita rasakan. Begitu emosi mulai diberi nama dengan jelas, banyak hal yang tadinya rumit mendadak jadi masuk akal. Hal ini penting kita ketahui bahwa:

  1. Emosi lebih mudah terkelola dengan baik.

Barrett dalam penelitiannya menyatakan bahwa orang yang punya granularitas tinggi cenderung megatur emosinya lebih efektif, karena mereka tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan sehingga
responnya lebih tepat sasaran. 
  1. Mengurangi konflik & salah paham 

Individu yang mampu mengurai emosi dengan detail cenderung lebih dalam interaksi sosial karena komunikasinya lebih jelas dan terarah. 

  1. Membuat pengambilan keputusan lebih jernih 

Ketika perasaan bisa diuraikan, keputusan tidak lagi di dorong oleh “bad mood” yang nggak jelas.

  1. Mendukung kesehatan mental 

Menurut Tugade & Fredickson (2004) menunjukkan bahwa orang yang mampu mengenali emosi secara lebih tepat biasanya lebih cepat pulih dari pengalaman negatif. 

Cara Membedakan Emosi (Praktis dan Langsung) 

  1. Kenali sinyal tubuh 

Emosi selalu singgah di tubuh, sehingga cemas biasanya yang ada di dada

  1. Perkaya kosakata emosi

Biar nggak semua rasa menumpuk menjadi “stress”, cobalah eksplor kata yang mendeskripsikan emosi Puan seperti “kecewa” “malu” “iri” “khawatir” dan sebagainya. 

  1. Analisis pemicunya

Mulailah dengan meditasi diri dengan menanyakan kepada diri sendiri seperti “Sebenernya aku ini lagi marah, kecewa, sedih, atau galau?” Konteks ini membuka detail yang sebelumnya samar. 

  1. Tuliskan atau ucapkan 

Labeling membantu otak menata ulang pengalaman emosional dan menurunkan intensitasnya.

Cara Merawat Emosi Setelah Mengenalinya

  1. Pilih respon berdasarkan label emosi 

Jika inti masalahnya adalah kecemasan, fokusnya adalah untuk menenagkan diri.

  1. Rawat tubuh 

Percaya atau tidak, tubuh yang segar membuat emosi lebih mudah diurai.

  1. MelakukanJournalingAmbil waktu libur atau disaat sedang emosi, Puan bisa menuliskan/menceritakan apa yang Puan rasakan di diary pribadi.

Pada akhirnya, emotional granularity membantu Puan mengenali apa yang sebenarnya terjadi dalam diri. Dengan menamai emosi secara lebih spesifik, Puan bisa memahami kebutuhan hati dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan kepala yang lebih jernih, dan merawat diri tanpa tersesat oleh perasaan yang tumpang tindih. Ketika Puan bisa membaca perasaan sendiri dengan lebih jelas, hidup terasa lebih terarah dan hubungan dengan orang lain pun ikut membaik. 


Ditulis dan Diedit oleh: Lilian Deha


Referensi:

Barrett, L. F., & Gross, J. J. (2001). Emotion representation and the structure of emotional experience. Cognition & Emotion, 15(3), 333–363.

Feldman Barrett, L. (2017). How emotions are made: The secret life of the brain. Houghton Mifflin Harcourt.

Kashdan, T. B., Barrett, L. F., & McKnight, P. E. (2015). Unpacking emotion differentiation: Transforming unpleasant experience by perceiving distinctions in negativity. Current Directions in Psychological Science, 24(1), 10–16.

Tugade, M. M., & Fredrickson, B. L. (2004). Resilient individuals use positive emotions to bounce back from negative emotional experiences. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 320–333.

Nook, E. C., Flournoy, J. C., Rodman, A. M., Mair, P., & McLaughlin, K. A. (2021). Emotion differentiation and mental health: A systematic review and meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 295, 1200–1216.




Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...