Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Saat Semua Terlihat Baik-Baik Saja di Media Sosial: Emotional Granularity Membantu Jujur pada Diri Sendiri

Iamge by: IMOM

Knowing yourself is the beginning of all wisdom” - Aristotle 

Puan pernah nggak sih di saat perasaan lagi campur aduk dan lagi ingin sendiri, tapi terpaksa untuk kumpul bersama teman karena kewajiban kuliah/kerja dan susah untuk mencoba menjelaskan ke mereka yang  hasilnya cuma, “Gapapa kok, aku lagi capek aja.”

Terkadang di saat kita sedang lelah karena pekerjaan atau tugas kuliah, kita jadi lebih mudah tesinggung akan hal-hal kecil termasuk perkataan orang lain ke diri kita. Dari sini kita bisa membedakan mana emosi, rasa lelah, dan stress. Padahal, kemampuan untuk membedakan perasaan dengan lebih detail adalah salah satu kunci terbesar dalam memahami diri dan inilah yang disebut sebagai emotional granularity.

Apa itu Emotional Granularity

Emotional granurality adalah kemampuan untuk mengenali dan memberi label emosi dengan lebih spesifik. Bukan hanya “sedih”, namun “kecewa karena ekspektasi nggak terpenuhi”. Bukan sekedar “marah”, namun “kesal karena tidak didengarkan”. Semakin Puan bisa memilah & mendeskripsikan emosi, semakin mudah pula untuk menanganinya. 

Seperti yang dijelaskan oleh Lisa Feldman Barrett (2006) dalam Personality and Social Psychology Review, individu dengan emotional granularity tinggi yang mampu membedakan pengalaman emosionalnya dengan istilah yang lebih spesifik, bukan berdasarkan kategori yang luas seperti ‘marah’ atau ‘sedih’. 

Kenapa Emotional Granularity Penting? 

Terkadang kita selalu mengira “masalahnya terlalu besar”, padahal sebenarnya yang bikin kacau adalah kita nggak tahu apa yang sebenarnya kita rasakan. Begitu emosi mulai diberi nama dengan jelas, banyak hal yang tadinya rumit mendadak jadi masuk akal. Hal ini penting kita ketahui bahwa:

  1. Emosi lebih mudah terkelola dengan baik.

Barrett dalam penelitiannya menyatakan bahwa orang yang punya granularitas tinggi cenderung megatur emosinya lebih efektif, karena mereka tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan sehingga
responnya lebih tepat sasaran. 
  1. Mengurangi konflik & salah paham 

Individu yang mampu mengurai emosi dengan detail cenderung lebih dalam interaksi sosial karena komunikasinya lebih jelas dan terarah. 

  1. Membuat pengambilan keputusan lebih jernih 

Ketika perasaan bisa diuraikan, keputusan tidak lagi di dorong oleh “bad mood” yang nggak jelas.

  1. Mendukung kesehatan mental 

Menurut Tugade & Fredickson (2004) menunjukkan bahwa orang yang mampu mengenali emosi secara lebih tepat biasanya lebih cepat pulih dari pengalaman negatif. 

Cara Membedakan Emosi (Praktis dan Langsung) 

  1. Kenali sinyal tubuh 

Emosi selalu singgah di tubuh, sehingga cemas biasanya yang ada di dada

  1. Perkaya kosakata emosi

Biar nggak semua rasa menumpuk menjadi “stress”, cobalah eksplor kata yang mendeskripsikan emosi Puan seperti “kecewa” “malu” “iri” “khawatir” dan sebagainya. 

  1. Analisis pemicunya

Mulailah dengan meditasi diri dengan menanyakan kepada diri sendiri seperti “Sebenernya aku ini lagi marah, kecewa, sedih, atau galau?” Konteks ini membuka detail yang sebelumnya samar. 

  1. Tuliskan atau ucapkan 

Labeling membantu otak menata ulang pengalaman emosional dan menurunkan intensitasnya.

Cara Merawat Emosi Setelah Mengenalinya

  1. Pilih respon berdasarkan label emosi 

Jika inti masalahnya adalah kecemasan, fokusnya adalah untuk menenagkan diri.

  1. Rawat tubuh 

Percaya atau tidak, tubuh yang segar membuat emosi lebih mudah diurai.

  1. MelakukanJournalingAmbil waktu libur atau disaat sedang emosi, Puan bisa menuliskan/menceritakan apa yang Puan rasakan di diary pribadi.

Pada akhirnya, emotional granularity membantu Puan mengenali apa yang sebenarnya terjadi dalam diri. Dengan menamai emosi secara lebih spesifik, Puan bisa memahami kebutuhan hati dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan kepala yang lebih jernih, dan merawat diri tanpa tersesat oleh perasaan yang tumpang tindih. Ketika Puan bisa membaca perasaan sendiri dengan lebih jelas, hidup terasa lebih terarah dan hubungan dengan orang lain pun ikut membaik. 


Ditulis dan Diedit oleh: Lilian Deha


Referensi:

Barrett, L. F., & Gross, J. J. (2001). Emotion representation and the structure of emotional experience. Cognition & Emotion, 15(3), 333–363.

Feldman Barrett, L. (2017). How emotions are made: The secret life of the brain. Houghton Mifflin Harcourt.

Kashdan, T. B., Barrett, L. F., & McKnight, P. E. (2015). Unpacking emotion differentiation: Transforming unpleasant experience by perceiving distinctions in negativity. Current Directions in Psychological Science, 24(1), 10–16.

Tugade, M. M., & Fredrickson, B. L. (2004). Resilient individuals use positive emotions to bounce back from negative emotional experiences. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 320–333.

Nook, E. C., Flournoy, J. C., Rodman, A. M., Mair, P., & McLaughlin, K. A. (2021). Emotion differentiation and mental health: A systematic review and meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 295, 1200–1216.




Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...