Langsung ke konten utama

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Saat Semua Terlihat Baik-Baik Saja di Media Sosial: Emotional Granularity Membantu Jujur pada Diri Sendiri

Iamge by: IMOM

Knowing yourself is the beginning of all wisdom” - Aristotle 

Puan pernah nggak sih di saat perasaan lagi campur aduk dan lagi ingin sendiri, tapi terpaksa untuk kumpul bersama teman karena kewajiban kuliah/kerja dan susah untuk mencoba menjelaskan ke mereka yang  hasilnya cuma, “Gapapa kok, aku lagi capek aja.”

Terkadang di saat kita sedang lelah karena pekerjaan atau tugas kuliah, kita jadi lebih mudah tesinggung akan hal-hal kecil termasuk perkataan orang lain ke diri kita. Dari sini kita bisa membedakan mana emosi, rasa lelah, dan stress. Padahal, kemampuan untuk membedakan perasaan dengan lebih detail adalah salah satu kunci terbesar dalam memahami diri dan inilah yang disebut sebagai emotional granularity.

Apa itu Emotional Granularity

Emotional granurality adalah kemampuan untuk mengenali dan memberi label emosi dengan lebih spesifik. Bukan hanya “sedih”, namun “kecewa karena ekspektasi nggak terpenuhi”. Bukan sekedar “marah”, namun “kesal karena tidak didengarkan”. Semakin Puan bisa memilah & mendeskripsikan emosi, semakin mudah pula untuk menanganinya. 

Seperti yang dijelaskan oleh Lisa Feldman Barrett (2006) dalam Personality and Social Psychology Review, individu dengan emotional granularity tinggi yang mampu membedakan pengalaman emosionalnya dengan istilah yang lebih spesifik, bukan berdasarkan kategori yang luas seperti ‘marah’ atau ‘sedih’. 

Kenapa Emotional Granularity Penting? 

Terkadang kita selalu mengira “masalahnya terlalu besar”, padahal sebenarnya yang bikin kacau adalah kita nggak tahu apa yang sebenarnya kita rasakan. Begitu emosi mulai diberi nama dengan jelas, banyak hal yang tadinya rumit mendadak jadi masuk akal. Hal ini penting kita ketahui bahwa:

  1. Emosi lebih mudah terkelola dengan baik.

Barrett dalam penelitiannya menyatakan bahwa orang yang punya granularitas tinggi cenderung megatur emosinya lebih efektif, karena mereka tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan sehingga
responnya lebih tepat sasaran. 
  1. Mengurangi konflik & salah paham 

Individu yang mampu mengurai emosi dengan detail cenderung lebih dalam interaksi sosial karena komunikasinya lebih jelas dan terarah. 

  1. Membuat pengambilan keputusan lebih jernih 

Ketika perasaan bisa diuraikan, keputusan tidak lagi di dorong oleh “bad mood” yang nggak jelas.

  1. Mendukung kesehatan mental 

Menurut Tugade & Fredickson (2004) menunjukkan bahwa orang yang mampu mengenali emosi secara lebih tepat biasanya lebih cepat pulih dari pengalaman negatif. 

Cara Membedakan Emosi (Praktis dan Langsung) 

  1. Kenali sinyal tubuh 

Emosi selalu singgah di tubuh, sehingga cemas biasanya yang ada di dada

  1. Perkaya kosakata emosi

Biar nggak semua rasa menumpuk menjadi “stress”, cobalah eksplor kata yang mendeskripsikan emosi Puan seperti “kecewa” “malu” “iri” “khawatir” dan sebagainya. 

  1. Analisis pemicunya

Mulailah dengan meditasi diri dengan menanyakan kepada diri sendiri seperti “Sebenernya aku ini lagi marah, kecewa, sedih, atau galau?” Konteks ini membuka detail yang sebelumnya samar. 

  1. Tuliskan atau ucapkan 

Labeling membantu otak menata ulang pengalaman emosional dan menurunkan intensitasnya.

Cara Merawat Emosi Setelah Mengenalinya

  1. Pilih respon berdasarkan label emosi 

Jika inti masalahnya adalah kecemasan, fokusnya adalah untuk menenagkan diri.

  1. Rawat tubuh 

Percaya atau tidak, tubuh yang segar membuat emosi lebih mudah diurai.

  1. MelakukanJournalingAmbil waktu libur atau disaat sedang emosi, Puan bisa menuliskan/menceritakan apa yang Puan rasakan di diary pribadi.

Pada akhirnya, emotional granularity membantu Puan mengenali apa yang sebenarnya terjadi dalam diri. Dengan menamai emosi secara lebih spesifik, Puan bisa memahami kebutuhan hati dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan lebih akurat, mengambil keputusan dengan kepala yang lebih jernih, dan merawat diri tanpa tersesat oleh perasaan yang tumpang tindih. Ketika Puan bisa membaca perasaan sendiri dengan lebih jelas, hidup terasa lebih terarah dan hubungan dengan orang lain pun ikut membaik. 


Referensi:

Barrett, L. F., & Gross, J. J. (2001). Emotion representation and the structure of emotional experience. Cognition & Emotion, 15(3), 333–363.

Feldman Barrett, L. (2017). How emotions are made: The secret life of the brain. Houghton Mifflin Harcourt.

Kashdan, T. B., Barrett, L. F., & McKnight, P. E. (2015). Unpacking emotion differentiation: Transforming unpleasant experience by perceiving distinctions in negativity. Current Directions in Psychological Science, 24(1), 10–16.

Tugade, M. M., & Fredrickson, B. L. (2004). Resilient individuals use positive emotions to bounce back from negative emotional experiences. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 320–333.

Nook, E. C., Flournoy, J. C., Rodman, A. M., Mair, P., & McLaughlin, K. A. (2021). Emotion differentiation and mental health: A systematic review and meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 295, 1200–1216.




Komentar

Rubik Puan Popular

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Teknik Tiga Skenario, Cara untuk Mengurangi Planning Fallacy

  Ilustrasi Perencanaan. Photo by cottonbro (Sumber:  Pexels.com ) Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy . Apa itu Planning Fallacy ?  Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala. Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy .  Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif Untuk mengurangi bias ini, P...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

  Sumber:  istockphoto.com P uan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata? Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill. Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu? Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi. Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill. B...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...