Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Multitasking Bukan Jalan Ninja Untuk Produktif

https://community.thriveglobal.com

Multitasking telah lama dianggap sebagai keterampilan yang penting di dunia modern yang sibuk ini. Di tempat kerja, kita sering dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan lebih dari satu tugas sekaligus. Namun, apakah kita benar-benar efektif saat melakukan multitasking, atau kita hanya terjebak dalam sebuah ilusi?

Ada anggapan umum bahwa manusia dapat secara efektif melakukan beberapa tugas sekaligus. Namun menurut penelitian profesor komunikasi Stanford University Clifford Nass, multitasking menyebabkan seseorang menghadapi konsekuensi mental yang signifikan. Konsekuensi mental tersebut hadir karena multitasking membuat fokus seseorang terpecah sehingga otak harus bekerja ekstra untuk memproses informasi. Sebenarnya, fakta yang tersembunyi di balik multitasking adalah bahwa otak kita tidak dirancang untuk melakukan tugas-tugas yang kompleks secara bersamaan.

Otak manusia memproses informasi dalam dua cara utama: dengan menggunakan memori kerja dan mengeksekusi tugas-tugas di dalam otak. Memori kerja adalah memori jangka pendek yang memungkinkan kita untuk mengingat informasi sementara sambil melakukan tugas yang sedang dikerjakan. Namun, kapasitas memori kerja terbatas, dan ketika kita mencoba melakukan beberapa tugas sekaligus, otak kita sebenarnya beralih dari satu tugas ke tugas lain dengan cepat. Hal ini disebut dengan switching cost atau biaya beralih, yang mengarah pada penurunan efisiensi dan peningkatan risiko kesalahan.

Multitasking ternyata dapat menurunkan produktivitas lho, Puan!
Ketika seseorang berusaha melakukan banyak hal sekaligus, fokus dan perhatian terbagi-bagi antara berbagai tugas. Hal ini bisa mengakibatkan penurunan efisiensi dalam menyelesaikan setiap tugas, karena otak perlu beralih dari satu tugas ke tugas lainnya. Dalam beberapa kasus, orang yang melakukan multitasking cenderung membuat lebih banyak kesalahan atau keputusan yang tidak optimal karena kurangnya fokus yang mendalam pada setiap tugas.

Contoh konkretnya, seseorang yang mencoba untuk mengetik email sambil mendengarkan panggilan telepon atau berbicara dengan orang lain di sekitarnya mungkin tidak memberikan perhatian penuh pada setiap aktivitas tersebut. Ini bisa mengakibatkan email yang dikirimkan memiliki kesalahan pengetikan atau informasi yang kurang tepat, atau panggilan telepon yang tidak selesai dengan baik karena terganggu.

Selain itu, multitasking yang berlebihan juga dapat menyebabkan stres dan kelelahan karena otak bekerja lebih keras untuk mengelola banyak informasi sekaligus. Oleh karena itu, dalam banyak situasi, fokus yang terpusat pada satu tugas pada satu waktu sering kali lebih efektif untuk mencapai hasil yang lebih baik dan mempertahankan kualitas kerja yang tinggi.

Manajemen waktu adalah solusi
Salah satu solusi yang sangat efektif untuk tetap produktif tanpa melakukan multitasking adalah dengan menerapkan prinsip "Time Blocking" atau blok waktu. Kita bisa memulai dengan mengidentifikasi tugas mana yang dapat kita lakukan, kemudian alokasikan waktu untuk menyelesaikan setiap tugas tersebut tanpa gangguan blok waktu dapat bervariasi tergantung pada kompleksitas tugas dan preferensi pribadi puan mulai dari 30 menit hingga beberapa jam, selama blok waktu tersebut fokuslah sepenuhnya pada tugas yang ditetapkan hindari godaan untuk melompat ke tugas lain atau memeriksa email dan media sosial. Nonaktifkan pemberitahuan yang dapat mengganggu. Setelah selesai dengan satu blok waktu, berikan Puan waktu istirahat singkat untuk meregangkan otot dan menyegarkan pikiran. Istirahat ini penting untuk mempertahankan tingkat konsentrasi dan energi yang tinggi selama blok waktu berikutnya.

Stop Multitasking, Start Excelling!


Author: Maya Zahwa Aulia

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...