Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Trust Issues: Mencari Kepercayaan di Tengah Kejujuran yang Terungkap

 

Image by Rimba News


Ketika seseorang merasa ketakutan akan menaruh rasa percaya kepada orang lain karena pengkhianatan, pengabaian, dan manipulasi, maka orang tersebut sudah memiliki trust issue kepada orang-orang yang hendak mereka percayai. Tentu, banyak dari Puan yang memiliki perasaan ini, misal seperti sulit mempercayai pasangan kita, orang tua kita, hingga dokter kita.

Lalu, bagaimana trust issue bisa hadir?

Trust issue bisa hadir di sosok seseorang dikarenakan pernah mengalami suatu hal di masa lalu, biasanya hal yang terjadi bersifat negatif sehingga hal tersebut memberikan dapat kepada sosok korban di masa kini. Salah satunya adalah peran orang tua yang memiliki peran besar dalam kehidupan kita, jika orang tua kita pernah melakukan hal-hal yang sekiranya mempengaruhi kepercayaan kita, maka hal tersebut akan terus berpengaruh di masa kedepannya jika tidak segera ditangani. Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya faktor kunci dalam menangani trust issues adalah kejujuran dari orang-orang sekitar kita, mengapa seperti itu? Karena sebenarnya hal tersebut ada di dalam diri kita, kitalah yang sedang memerangi rasa ketakutan kita ketika menaruh kepercayaan kepada orang lain.

Dampak dari trust issues ini bisa memiliki dampak yang tidak baik pada hubungan sosial yang Puan jalani, bisa saja menjadi pribadi yang curigaan, pribadi yang posesif hingga pada akhirnya berujung toxic. Lalu, apa sajakah cara-cara untuk mengatasi perilaku ini?

1. Memahami bahwa manusia tidaklah sama

Mayoritas rasa trust issues muncul dikarenakan suatu individu menganggap bahwa orang-orang di sekitarnya sama dengan orang yang pernah berperilaku tidak baik pada dirinya. Misal saja, Puan sedang didekati oleh seorang pria, namun karena Puan pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh orang masa lalu Puan, kamu malah berpikir bahwa orang baru di hidupmu nantinya akan berperilaku sama dengan orang masa lalu Puan.

2. Belajar untuk perlahan memaafkan

Puan, walaupun susah sekali rasanya melupakan masa lalu tapi cobalah untuk setidaknya memaafkan kejadian yang lalu. Tidak apa jika pengalaman tersebut membekas hingga pada akhirnya menjadi memori dari dalam diri Puan, namun cobalah untuk memaafkan dan menganggap bahwa hal yang lalu sudah berlalu dan yang masa kini biarlah menjadi masa kini.

3. Komunikasikan mengenai perasaan

Ketika mengalami trust issues tak jarang hal-hal di masa kini menjadi trigger masa lalu. Ketika Puan mengalami hal tersebut cobalah komunikasi mengenai perasaan Puan kepada orang yang terkait. Katakan dengan jelas perihal perasaan kamu tanpa emosi negatif seperti menuntut dan mengatur orang yang terkait. Cobalah untuk melakukan win-win solution ketika sedang berada di posisi tersebut.

4. Menghilangkan rasa trauma akan masa lalu tidaklah mudah, namun jika memilih untuk melangkah satu langkah maju tentulah sudah hebat. Semangat, Puan!❤


Referensi :

www.healthline.com


Author : Namratul Ulya
Editor : Nazwal Bilbina Budiman


Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...