Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Trust Issues: Mencari Kepercayaan di Tengah Kejujuran yang Terungkap

 

Image by Rimba News


Ketika seseorang merasa ketakutan akan menaruh rasa percaya kepada orang lain karena pengkhianatan, pengabaian, dan manipulasi, maka orang tersebut sudah memiliki trust issue kepada orang-orang yang hendak mereka percayai. Tentu, banyak dari Puan yang memiliki perasaan ini, misal seperti sulit mempercayai pasangan kita, orang tua kita, hingga dokter kita.

Lalu, bagaimana trust issue bisa hadir?

Trust issue bisa hadir di sosok seseorang dikarenakan pernah mengalami suatu hal di masa lalu, biasanya hal yang terjadi bersifat negatif sehingga hal tersebut memberikan dapat kepada sosok korban di masa kini. Salah satunya adalah peran orang tua yang memiliki peran besar dalam kehidupan kita, jika orang tua kita pernah melakukan hal-hal yang sekiranya mempengaruhi kepercayaan kita, maka hal tersebut akan terus berpengaruh di masa kedepannya jika tidak segera ditangani. Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya faktor kunci dalam menangani trust issues adalah kejujuran dari orang-orang sekitar kita, mengapa seperti itu? Karena sebenarnya hal tersebut ada di dalam diri kita, kitalah yang sedang memerangi rasa ketakutan kita ketika menaruh kepercayaan kepada orang lain.

Dampak dari trust issues ini bisa memiliki dampak yang tidak baik pada hubungan sosial yang Puan jalani, bisa saja menjadi pribadi yang curigaan, pribadi yang posesif hingga pada akhirnya berujung toxic. Lalu, apa sajakah cara-cara untuk mengatasi perilaku ini?

1. Memahami bahwa manusia tidaklah sama

Mayoritas rasa trust issues muncul dikarenakan suatu individu menganggap bahwa orang-orang di sekitarnya sama dengan orang yang pernah berperilaku tidak baik pada dirinya. Misal saja, Puan sedang didekati oleh seorang pria, namun karena Puan pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh orang masa lalu Puan, kamu malah berpikir bahwa orang baru di hidupmu nantinya akan berperilaku sama dengan orang masa lalu Puan.

2. Belajar untuk perlahan memaafkan

Puan, walaupun susah sekali rasanya melupakan masa lalu tapi cobalah untuk setidaknya memaafkan kejadian yang lalu. Tidak apa jika pengalaman tersebut membekas hingga pada akhirnya menjadi memori dari dalam diri Puan, namun cobalah untuk memaafkan dan menganggap bahwa hal yang lalu sudah berlalu dan yang masa kini biarlah menjadi masa kini.

3. Komunikasikan mengenai perasaan

Ketika mengalami trust issues tak jarang hal-hal di masa kini menjadi trigger masa lalu. Ketika Puan mengalami hal tersebut cobalah komunikasi mengenai perasaan Puan kepada orang yang terkait. Katakan dengan jelas perihal perasaan kamu tanpa emosi negatif seperti menuntut dan mengatur orang yang terkait. Cobalah untuk melakukan win-win solution ketika sedang berada di posisi tersebut.

4. Menghilangkan rasa trauma akan masa lalu tidaklah mudah, namun jika memilih untuk melangkah satu langkah maju tentulah sudah hebat. Semangat, Puan!❤


Referensi :

www.healthline.com


Author : Namratul Ulya
Editor : Nazwal Bilbina Budiman


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...