Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Ekstrovert vs Introvert : Mana Kepribadian Puan?

 


Image by Harian Muba


Puan, pasti telinga kalian sudah tidak asing mendengar kedua istilah ini. Istilah yang sering dipakai untuk menyebutkan jenis kepribadian seseorang. Kita semua tahu bahwasannya teman-teman di sekeliling kita bahkan diri kita sendiri pun mempunyai kepribadian yang berbeda-beda tentunya.

Istilah ekstrovert dan introvert sendiri pertama kali dicetuskan oleh seorang psikolog berasal dari Swiss yang bernama Carl Gustav Jung sekitar tahun 1920. Menurut Jung, introvert adalah spektrum yang mengubah energi psikis ke dalam dengan orientasi ke arah subjektif. Sebagian besar ahli psikologi menyebut introvert sebagai orang yang energinya cenderung berkembang melalui refleksi dan menyusut selama interaksi.

Seorang introvert umumnya lebih memilih untuk menyendiri dan berada di lingkaran pertemanan yang relatif kecil. Seorang introvert mampu berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja, seorang introvert lebih memilih untuk tidak bertemu banyak orang.

Introvert sendiri cenderung tidak suka omongan basa-basi, dan lebih memilih percakapan yang lebih berarti. Selain itu juga, mereka lebih memilih menulis dibanding berbicara. Orang introvert lebih memilih untuk menuangkan pikirannya lewat tulisan daripada lisan.

Berkebalikan dengan introvert, ekstrovert umumnya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki sifat terbuka, berenergi tinggi, dan cenderung banyak berbicara. Menurut Psychology Today, ekstrovert secara umum cenderung menikmati situasi sosial, mencari pengalaman baru, merasa nyaman dalam kelompok, dan lebih menyukai kegiatan yang padat.

Seorang yang memiliki kepribadian introvert adalah seseorang yang akan merasa kelelahan dan kehilangan banyak energi jika berada di tempat yang ramai dan banyak orang yang berkumpul.

Introvert akan kehabisan energi dan cenderung mengisi energinya tersebut saat dia sedang sendiri dan menjauhi keramaian. Introvert akan mendapatkan energi lagi saat dia berada di dalam rumah sendiri dan melakukan hal-hal yang ia sukai, hal tersebut akan me-recharge energinya.

Sangat berbeda dengan ekstrovert, seseorang yang memiliki kepribadian ekstrovert cenderung sangat suka berada di dalam keramaian. Ia akan mengisi energinya ketika ia bersama teman-teman, berada di circle yang terdapat banyak orang dan ekstrovert akan kehilangan energinya ketika ia sedang sendirian, hal itu akan membuat ekstrovert merasa bosan dan kesepian.

Setelah menyimak pembahasan diatas mengenai apa itu ekstrovert dan introvert pasti akan muncul di benak puan kepribadian mana yang lebih baik? Apakah ekstrovert atau malah introvert?

Disini perlu digaris bawahi bahwasannya tidak ada kepribadian yang lebih baik atau yang lebih buruk. Kedua-duanya, baik introvert ataupun ekstrovert memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua kepribadian bisa sukses jika mereka tahu bagaimana cara memaksimalkan potensi yang ada di dirinya.

Extrovert vs introvert adalah dua spektrum kepribadian yang sangat berlawanan, jadi tidak bisa dibandingkan “baik” di satu atau dua hal saja. Ketika kita memiliki kepribadian ekstrovert ataupun introvert kita haruslah bersyukur dan semaksimal mungkin menjadikan kelebihan ataupun kekurangan kita tersebut menjadi sebuah potensi kedepannya.


Referensi :
Wolipop

Author : Aisyah Safitri
Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...