Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Toxic productivity? Let's shed it!


Pernahkah Puan merasa seperti roda berputar yang tak pernah berhenti? Setiap hari terasa seperti lomba marathon tanpa garis finish. Padahal, Puan sudah menyelesaikan segudang tugas, namun rasa puas tak kunjung datang. Justru, muncul perasaan gelisah dan takut jika tidak terus-menerus produktif. Jika mengalami hal ini, mungkin Puan sedang terjebak dalam lingkaran setan yang disebut toxic productivity.

Toxic productivity adalah kondisi di mana seseorang merasa tertekan untuk terus-menerus produktif tanpa mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik. Ini adalah obsesi yang tidak sehat untuk selalu melakukan sesuatu, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah lelah. Orang yang terjebak dalam toxic productivity seringkali mengukur keberhasilan mereka berdasarkan seberapa banyak hal yang mereka capai, bukan kualitas hidup mereka.

Kenapa Toxic Productivity Berbahaya?

  • Terus-menerus memaksa diri untuk bekerja keras akan membuat tubuh dan pikiran kelelahan.

  • Tekanan untuk selalu produktif dapat memicu masalah kesehatan mental yang serius.

  • Kurangnya waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang terdekat.

  • Fokus yang berlebihan pada pekerjaan membuat kita mengabaikan aspek penting lainnya dalam hidup.

Ciri-ciri Orang yang Mengalami Toxic Productivity

  • Mereka seringkali merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang "produktif".

  • Tidur, makan, dan bersosialisasi sering kali dikorbankan demi menyelesaikan tugas.

  • Terlalu fokus pada pencapaian orang lain dan merasa tidak cukup baik.

  • Bahkan saat beristirahat, pikiran masih terisi dengan pekerjaan.

  • Terhubung dengan pekerjaan secara konstan, bahkan di luar jam kerja.

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang terjebak dalam toxic productivity, antara lain:

  • Tekanan untuk selalu tampil terbaik dan mencapai target yang tidak realistis.

  • Melihat postingan orang lain yang sukses dapat memicu rasa iri dan keinginan untuk terus berprestasi.

  • Keinginan untuk selalu melakukan segala sesuatu dengan sempurna.

  • Merasa perlu membuktikan diri kepada orang lain.

Cara Mengatasi Toxic Productivity

  • Langkah pertama adalah mengakui bahwa kamu sedang mengalami toxic productivity.

  • Berikan waktu yang cukup untuk tidur, makan, dan berolahraga.

  • Tetapkan batas waktu kerja yang jelas dan patuhi itu.

  • Cobalah meditasi, yoga, atau hobi yang menyenangkan untuk mengurangi stres.

  • Bicara dengan teman, keluarga, atau terapis tentang apa yang kamu rasakan.

Toxic productivity mengajarkan kita bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi juga dari seberapa baik kita menjalani hidup. Dengan menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional, kita dapat mencapai kebahagiaan dan kepuasan yang lebih besar.

Tips untuk Membangun Keseimbangan Hidup:

  • Jangan terlalu banyak menumpuk tugas dalam sehari.

  • Tidak perlu selalu menerima semua permintaan.

  • Apresiasi setiap kemajuan yang kamu buat.

  • Bergabung dengan kelompok yang memiliki minat yang sama.

  • Berada di alam dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan mood.

Toxic productivity adalah masalah yang serius, tetapi bisa diatasi. Dengan kesadaran diri, dukungan dari orang-orang terdekat, dan perubahan gaya hidup, kita dapat keluar dari lingkaran setan ini dan membangun kehidupan yang lebih sehat dan bahagia. Ingatlah, kesuksesan sejati bukanlah tentang jumlah tugas yang selesai, tetapi tentang kualitas hidup yang kita nikmati.


Author: Maya Zahwa Aulia


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...