Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Bloomin Area Bangun Workshop Edukatif : #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence

 


📍 Nutrihub, Bogor | 🗓️ Sabtu, 17 Mei 2025

Sebagai bentuk nyata dari komitmennya dalam menciptakan ruang aman dan memberdayakan generasi muda, Bloomin Area sukses menyelenggarakan workshop edukatif bertajuk #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan komunitas dalam mendorong pengembangan diri dan ekspresi personal melalui komunikasi yang autentik.

Workshop ini mengangkat isu mental block yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam public speaking sehingga kerap menghambat seseorang untuk berbicara dengan percaya diri. Sebagai komunitas yang berfokus pada perkembangan diri, Bloomin Area ingin membekali para peserta dengan keberanian untuk bersuara tanpa rasa takut dihakimi ataupun tuntutan untuk tampil sempurna.

Bicara bukan soal siapa paling lantang, tapi siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri.

Hadir sebagai pembicara utama, Kak Cut Ansi Faradhiba Hayati, seorang alumnus Bicara Pede Academy dan penerima beasiswa LPDP, membagikan wawasan sekaligus pengalaman pribadinya dalam menaklukkan rasa takut berbicara di depan umum. Dengan pendekatan yang hangat dan reflektif, Kak Ansi tidak hanya menyampaikan materi teknis, namun juga mengajak peserta menelusuri akar dari mental block yang seringkali berasal dari pengalaman masa lalu, rasa takut akan penilaian, atau keyakinan negatif terhadap diri sendiri.

Tujuan kita hari ini bukan menghilangkan rasa takut, tapi mendorong kita untuk tetap melangkah meskipun dengan rasa takut itu sendiri. Semua ketakutan pasti ada solusinya, asalkan kita berani mengakuinya dan memahami akar masalahnya ungkap Kak Ansi.

Sesi dilanjutkan dengan pembahasan strategi konkret untuk menghadapi public speaking, mulai dari teknik membuat kata kunci, pengaturan napas, hingga penggunaan power pose. Para peserta diajak untuk mengalihkan fokus dari rasa takut dinilai menjadi kesadaran akan peran dan nilai diri masing-masing. Mental block yang muncul pun direspons dengan afirmasi positif dan latihan refleksi.

Salah bukan akhir. Justru itu bagian dari proses belajar yang sesungguhnya.

Dalam sesi interaktif yang berlangsung hangat, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya, berbagi keresahan, dan mendapatkan umpan balik langsung dari Kak Ansi. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan perspektif baru serta keberanian untuk mulai berbicara lebih jujur dan percaya diri.

“Percaya diri itu bukan bawaan lahir, tapi keputusan.”
“Aku punya banyak mimpi. Tapi aku sadar, kalau aku nggak melakukan perubahan, aku nggak akan pernah bisa menjelaskan mimpi-mimpiku ke dunia.”
– Kak Cut Ansi Faradhiba Hayati dalam Workshop Public Speaking Bloomin Area #KaburAjaDulu dari Mental Block - Break Your Silence 

Melalui sesi ini, Kak Ansi menekankan bahwa keberanian tidak datang setelah ketakutan menghilang, melainkan tumbuh seiring keputusan untuk terus mencoba, meski dengan segala kegelisahan yang ada.

Workshop #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence ditutup dengan sesi dokumentasi bersama para peserta. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang inspiratif untuk membebaskan diri dari belenggu mental block, serta memperkuat keyakinan bahwa setiap individu memiliki suara yang layak didengar.

“Escape the fear. Speak with courage. Be boldly you.” – Kak Cut Ansi Faradhiba

Dengan penuh semangat, Bloomin Area berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi pemicu lahirnya lebih banyak pemuda yang percaya diri, berani mengekspresikan diri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan maupun karir.

Dengan workshop edukatif ini, Bloomin Area berkomitmen untuk terus menjadi wadah bagi pemuda Indonesia dalam mengembangkan diri dalam versi terbaiknya.


Author : Novela Berliani Putri Sakinah

Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...