Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Bloomin Area Bangun Workshop Edukatif : #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence

 


📍 Nutrihub, Bogor | 🗓️ Sabtu, 17 Mei 2025

Sebagai bentuk nyata dari komitmennya dalam menciptakan ruang aman dan memberdayakan generasi muda, Bloomin Area sukses menyelenggarakan workshop edukatif bertajuk #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan komunitas dalam mendorong pengembangan diri dan ekspresi personal melalui komunikasi yang autentik.

Workshop ini mengangkat isu mental block yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam public speaking sehingga kerap menghambat seseorang untuk berbicara dengan percaya diri. Sebagai komunitas yang berfokus pada perkembangan diri, Bloomin Area ingin membekali para peserta dengan keberanian untuk bersuara tanpa rasa takut dihakimi ataupun tuntutan untuk tampil sempurna.

Bicara bukan soal siapa paling lantang, tapi siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri.

Hadir sebagai pembicara utama, Kak Cut Ansi Faradhiba Hayati, seorang alumnus Bicara Pede Academy dan penerima beasiswa LPDP, membagikan wawasan sekaligus pengalaman pribadinya dalam menaklukkan rasa takut berbicara di depan umum. Dengan pendekatan yang hangat dan reflektif, Kak Ansi tidak hanya menyampaikan materi teknis, namun juga mengajak peserta menelusuri akar dari mental block yang seringkali berasal dari pengalaman masa lalu, rasa takut akan penilaian, atau keyakinan negatif terhadap diri sendiri.

Tujuan kita hari ini bukan menghilangkan rasa takut, tapi mendorong kita untuk tetap melangkah meskipun dengan rasa takut itu sendiri. Semua ketakutan pasti ada solusinya, asalkan kita berani mengakuinya dan memahami akar masalahnya ungkap Kak Ansi.

Sesi dilanjutkan dengan pembahasan strategi konkret untuk menghadapi public speaking, mulai dari teknik membuat kata kunci, pengaturan napas, hingga penggunaan power pose. Para peserta diajak untuk mengalihkan fokus dari rasa takut dinilai menjadi kesadaran akan peran dan nilai diri masing-masing. Mental block yang muncul pun direspons dengan afirmasi positif dan latihan refleksi.

Salah bukan akhir. Justru itu bagian dari proses belajar yang sesungguhnya.

Dalam sesi interaktif yang berlangsung hangat, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya, berbagi keresahan, dan mendapatkan umpan balik langsung dari Kak Ansi. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan perspektif baru serta keberanian untuk mulai berbicara lebih jujur dan percaya diri.

“Percaya diri itu bukan bawaan lahir, tapi keputusan.”
“Aku punya banyak mimpi. Tapi aku sadar, kalau aku nggak melakukan perubahan, aku nggak akan pernah bisa menjelaskan mimpi-mimpiku ke dunia.”
– Kak Cut Ansi Faradhiba Hayati dalam Workshop Public Speaking Bloomin Area #KaburAjaDulu dari Mental Block - Break Your Silence 

Melalui sesi ini, Kak Ansi menekankan bahwa keberanian tidak datang setelah ketakutan menghilang, melainkan tumbuh seiring keputusan untuk terus mencoba, meski dengan segala kegelisahan yang ada.

Workshop #KaburAjaDulu dari Mental Block – Break Your Silence ditutup dengan sesi dokumentasi bersama para peserta. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang inspiratif untuk membebaskan diri dari belenggu mental block, serta memperkuat keyakinan bahwa setiap individu memiliki suara yang layak didengar.

“Escape the fear. Speak with courage. Be boldly you.” – Kak Cut Ansi Faradhiba

Dengan penuh semangat, Bloomin Area berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi pemicu lahirnya lebih banyak pemuda yang percaya diri, berani mengekspresikan diri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan maupun karir.

Dengan workshop edukatif ini, Bloomin Area berkomitmen untuk terus menjadi wadah bagi pemuda Indonesia dalam mengembangkan diri dalam versi terbaiknya.


Author : Novela Berliani Putri Sakinah

Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...