Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Belajar Cuek bukan Berarti Nggak Peduli: Law of Detachment

 


    "Apapun yang kita lakukan atau alami, dunia akan terus berputar."

Puan sering denger pernyataan di atas? Pernyataan tersebut memegang arti yang lebih dalam tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari, bahwa pada dasarnya keadaan apapun yang kita jalani, bahkan keputusan atau hasil yang kita dapatkan dalam hidup ini,  kehidupan akan terus berjalan. 

Overthinking terhadap hal yang nggak mendasar itu hanya membuat Puan makin nggak nyaman.

Berkaitan dengan hal itu ketika Puan berpikir bahwa,  "Aku peduli banget sama hal yang aku lakukan, tapi kalau hal itu nggak berjalan sesuai dengan rencana ku dan ngebuat aku kecewa gimana?" Disaat itu juga Puan harus tahu apa itu Law of Detachment. 

Detachment datang dari kata de- dan attachment. Istilah ini dikenalkan oleh Deepak Chopra dalam bukunya, The Seven Spiritual Laws of Success, yang intinya adalah ketika kita melepas keterikatan kita pada satu hal dan membiarkan takdir untuk mengaturnya.

Pasti puan udah nggak asing dengan kata attachment bukan? Kata lainnya adalah ketergantungan atau keterikatan. De- berarti tidak terikat, detachment adalah melepas keterikatan. Attachment  atau keterikatan sendiri dalam dosis yang terlalu banyak bisa jadi masalah.  

Kok jadi masalah?  

Kita ambil contoh di kehidupan, coba Puan ingat kembali  posisi ketika kita sudah yakin kalau kita bakal sukses menaklukan sesuatu. Misalnya ketika Puan berharap untuk lulus ujian atau lulus wawancara kerja, tapi seakan takdir berkata lain ternyata plan dan keyakinan kita terbantai dengan ketidaksesuaian dengan realita.  


Di keadaan ini, Puan cuman bisa ngelakuin dua hal, overanalyzing atau moveon. Namun ketika Puan selalu mengejar kesempurnaan, rasa kepedulian terlalu dalam akan menambah beban Puan.  

Detachment atau memutuskan keterikatan Puan terhadap sesuatu hal, bukan berarti tidak mengapresiasi diri karena pasrah pada keadaan, tapi Puan bener-bener nggak bisa mengontrol penuh atas kenyataan.

Daripada pusing bergelut untuk menganalisis mengapa bisa berakhir di situasi yang bikin Puan nggak puas, coba Puan berpikir bagaimana cara penyelesaiannya. 

Puan bisa mengaplikasikan  Law of Detachment di kehidupan sehari-hari dimulai dari sesuatu  yang sederhana seperti: 

  1. Kehidupan Sosial

Siapa yang ngga pernah peduli soal posisinya di kehidupan sosial? Nggak sedikit mengarah pada keinginan untuk disukai banyak orang. Namun, ngga semua orang bakal peduli  atau suka sama Puan Itu kenyataannya. Jadi daripada terus mencari validasi dari luar, lebih baik  Puan cari validasi itu dari diri sendiri. 


  1. Planning

Dalam kehidupan kita selalu punya rencana terhadap tujuan kita, namun semakin kita berfokus kepada apa hasil dari plan yang kita buat, kita semakin tidak tenang. Jadi yang harus kita lakukan adalah memercayai proses dari rencana yang kita buat tanpa terlalu memfokuskan diri kepada hasil.


  1. Bergelut dengan Pikiran

Ketika kita terlalu dalam memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, Puan bisa melakukan detachment dengan mengganti pola pikiran seperti, “Apapun yang akan terjadi ada di luar kendali, dan aku percaya bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik.” Sehingga Puan bisa terbebas dari stres. 

Dari hal yang udah dipaparkan sebelumnya, ada beberapa poin penting jika Puan ingin melakukan Law of Detachment

  1. Puan nggak bisa mengambil kontrol penuh atas semua hal 

  2. Puan harus berusaha untuk tidak selalu mengkhawatirkan tentang  hasil 

  3. Semua hal baik akan datang pada waktu dan saat yang tepat

  4. Percaya kepada proses yang dilalui

Referensi:

Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...