Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Belajar Cuek bukan Berarti Nggak Peduli: Law of Detachment

 


    "Apapun yang kita lakukan atau alami, dunia akan terus berputar."

Puan sering denger pernyataan di atas? Pernyataan tersebut memegang arti yang lebih dalam tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari, bahwa pada dasarnya keadaan apapun yang kita jalani, bahkan keputusan atau hasil yang kita dapatkan dalam hidup ini,  kehidupan akan terus berjalan. 

Overthinking terhadap hal yang nggak mendasar itu hanya membuat Puan makin nggak nyaman.

Berkaitan dengan hal itu ketika Puan berpikir bahwa,  "Aku peduli banget sama hal yang aku lakukan, tapi kalau hal itu nggak berjalan sesuai dengan rencana ku dan ngebuat aku kecewa gimana?" Disaat itu juga Puan harus tahu apa itu Law of Detachment. 

Detachment datang dari kata de- dan attachment. Istilah ini dikenalkan oleh Deepak Chopra dalam bukunya, The Seven Spiritual Laws of Success, yang intinya adalah ketika kita melepas keterikatan kita pada satu hal dan membiarkan takdir untuk mengaturnya.

Pasti puan udah nggak asing dengan kata attachment bukan? Kata lainnya adalah ketergantungan atau keterikatan. De- berarti tidak terikat, detachment adalah melepas keterikatan. Attachment  atau keterikatan sendiri dalam dosis yang terlalu banyak bisa jadi masalah.  

Kok jadi masalah?  

Kita ambil contoh di kehidupan, coba Puan ingat kembali  posisi ketika kita sudah yakin kalau kita bakal sukses menaklukan sesuatu. Misalnya ketika Puan berharap untuk lulus ujian atau lulus wawancara kerja, tapi seakan takdir berkata lain ternyata plan dan keyakinan kita terbantai dengan ketidaksesuaian dengan realita.  


Di keadaan ini, Puan cuman bisa ngelakuin dua hal, overanalyzing atau moveon. Namun ketika Puan selalu mengejar kesempurnaan, rasa kepedulian terlalu dalam akan menambah beban Puan.  

Detachment atau memutuskan keterikatan Puan terhadap sesuatu hal, bukan berarti tidak mengapresiasi diri karena pasrah pada keadaan, tapi Puan bener-bener nggak bisa mengontrol penuh atas kenyataan.

Daripada pusing bergelut untuk menganalisis mengapa bisa berakhir di situasi yang bikin Puan nggak puas, coba Puan berpikir bagaimana cara penyelesaiannya. 

Puan bisa mengaplikasikan  Law of Detachment di kehidupan sehari-hari dimulai dari sesuatu  yang sederhana seperti: 

  1. Kehidupan Sosial

Siapa yang ngga pernah peduli soal posisinya di kehidupan sosial? Nggak sedikit mengarah pada keinginan untuk disukai banyak orang. Namun, ngga semua orang bakal peduli  atau suka sama Puan Itu kenyataannya. Jadi daripada terus mencari validasi dari luar, lebih baik  Puan cari validasi itu dari diri sendiri. 


  1. Planning

Dalam kehidupan kita selalu punya rencana terhadap tujuan kita, namun semakin kita berfokus kepada apa hasil dari plan yang kita buat, kita semakin tidak tenang. Jadi yang harus kita lakukan adalah memercayai proses dari rencana yang kita buat tanpa terlalu memfokuskan diri kepada hasil.


  1. Bergelut dengan Pikiran

Ketika kita terlalu dalam memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, Puan bisa melakukan detachment dengan mengganti pola pikiran seperti, “Apapun yang akan terjadi ada di luar kendali, dan aku percaya bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik.” Sehingga Puan bisa terbebas dari stres. 

Dari hal yang udah dipaparkan sebelumnya, ada beberapa poin penting jika Puan ingin melakukan Law of Detachment: 

  1. Puan nggak bisa mengambil kontrol penuh atas semua hal 

  2. Puan harus berusaha untuk tidak selalu mengkhawatirkan tentang  hasil 

  3. Semua hal baik akan datang pada waktu dan saat yang tepat

  4. Percaya kepada proses yang dilalui

Referensi:

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...