Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Belajar Cuek bukan Berarti Nggak Peduli: Law of Detachment

 


    "Apapun yang kita lakukan atau alami, dunia akan terus berputar."

Puan sering denger pernyataan di atas? Pernyataan tersebut memegang arti yang lebih dalam tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari, bahwa pada dasarnya keadaan apapun yang kita jalani, bahkan keputusan atau hasil yang kita dapatkan dalam hidup ini,  kehidupan akan terus berjalan. 

Overthinking terhadap hal yang nggak mendasar itu hanya membuat Puan makin nggak nyaman.

Berkaitan dengan hal itu ketika Puan berpikir bahwa,  "Aku peduli banget sama hal yang aku lakukan, tapi kalau hal itu nggak berjalan sesuai dengan rencana ku dan ngebuat aku kecewa gimana?" Disaat itu juga Puan harus tahu apa itu Law of Detachment. 

Detachment datang dari kata de- dan attachment. Istilah ini dikenalkan oleh Deepak Chopra dalam bukunya, The Seven Spiritual Laws of Success, yang intinya adalah ketika kita melepas keterikatan kita pada satu hal dan membiarkan takdir untuk mengaturnya.

Pasti puan udah nggak asing dengan kata attachment bukan? Kata lainnya adalah ketergantungan atau keterikatan. De- berarti tidak terikat, detachment adalah melepas keterikatan. Attachment  atau keterikatan sendiri dalam dosis yang terlalu banyak bisa jadi masalah.  

Kok jadi masalah?  

Kita ambil contoh di kehidupan, coba Puan ingat kembali  posisi ketika kita sudah yakin kalau kita bakal sukses menaklukan sesuatu. Misalnya ketika Puan berharap untuk lulus ujian atau lulus wawancara kerja, tapi seakan takdir berkata lain ternyata plan dan keyakinan kita terbantai dengan ketidaksesuaian dengan realita.  


Di keadaan ini, Puan cuman bisa ngelakuin dua hal, overanalyzing atau moveon. Namun ketika Puan selalu mengejar kesempurnaan, rasa kepedulian terlalu dalam akan menambah beban Puan.  

Detachment atau memutuskan keterikatan Puan terhadap sesuatu hal, bukan berarti tidak mengapresiasi diri karena pasrah pada keadaan, tapi Puan bener-bener nggak bisa mengontrol penuh atas kenyataan.

Daripada pusing bergelut untuk menganalisis mengapa bisa berakhir di situasi yang bikin Puan nggak puas, coba Puan berpikir bagaimana cara penyelesaiannya. 

Puan bisa mengaplikasikan  Law of Detachment di kehidupan sehari-hari dimulai dari sesuatu  yang sederhana seperti: 

  1. Kehidupan Sosial

Siapa yang ngga pernah peduli soal posisinya di kehidupan sosial? Nggak sedikit mengarah pada keinginan untuk disukai banyak orang. Namun, ngga semua orang bakal peduli  atau suka sama Puan Itu kenyataannya. Jadi daripada terus mencari validasi dari luar, lebih baik  Puan cari validasi itu dari diri sendiri. 


  1. Planning

Dalam kehidupan kita selalu punya rencana terhadap tujuan kita, namun semakin kita berfokus kepada apa hasil dari plan yang kita buat, kita semakin tidak tenang. Jadi yang harus kita lakukan adalah memercayai proses dari rencana yang kita buat tanpa terlalu memfokuskan diri kepada hasil.


  1. Bergelut dengan Pikiran

Ketika kita terlalu dalam memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, Puan bisa melakukan detachment dengan mengganti pola pikiran seperti, “Apapun yang akan terjadi ada di luar kendali, dan aku percaya bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik.” Sehingga Puan bisa terbebas dari stres. 

Dari hal yang udah dipaparkan sebelumnya, ada beberapa poin penting jika Puan ingin melakukan Law of Detachment

  1. Puan nggak bisa mengambil kontrol penuh atas semua hal 

  2. Puan harus berusaha untuk tidak selalu mengkhawatirkan tentang  hasil 

  3. Semua hal baik akan datang pada waktu dan saat yang tepat

  4. Percaya kepada proses yang dilalui

Referensi:

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...