Puan, pernahkah kamu merasa situasi sulit datang bertubi-tubi? Misalnya, sedang musim ujian, tapi guru juga meminta tugas-tugas dikumpulkan segera. Belum lagi masalah di rumah seperti bertengkar dengan saudara atau orang tua yang sakit. Kalau Puan tetap bisa bertahan saat menghadapi tantangan ini, berarti Puan punya sikap resiliensi yang sangat berguna dalam kehidupan. Sikap ini adalah kekuatan mental yang bisa membantu di segala aspek, mulai dari kehidupan pribadi, akademik, sampai dunia kerja nanti.
Apa itu Resiliensi?
Sebelum melangkah lebih jauh, yuk kita pahami dulu apa sebenarnya resiliensi itu.Menurut Herrman (2011) resiliensi mengacu pada adaptasi positif, atau kemampuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mental, meskipun mengalami kesulitan. Resiliensi dapat digunakan sebagai ukuran kemampuan untuk mengatasi stres. Resiliensi berasal dari dalam diri individu, kehidupan mereka, dan lingkungan sekitar yang memfasilitasi kapasitas ini untuk beradaptasi dan "memantul kembali" pada saat menghadapi kesulitan (Windle, Bennert, & Noyes, 2011). Singkatnya, resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi secara positif atau bangkit kembali dari kesulitan.
Dimensi dalam Resiliensi
Menurut Taormina (2015), resiliensi di masa dewasa punya beberapa dimensi penting. Keempat dimensi ini yang menentukan seberapa tangguh kita:
Determination
Kekuatan dan keteguhan tujuan yang Puan miliki.
Endurance
Ketabahan dan kekuatan untuk terus melangkah di situasi sulit.
Adaptability
Fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan tak terduga dalam hidup.
Recuperability
Kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dari berbagai masalah.
Manfaat Resiliensi
Tangguh menghadapi masalah itu memang penting, tapi apa saja sih manfaatnya untuk hidup dan kesehatan mental kita?
Membantu Mencapai Tujuan
Resiliensi membuat Puan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Misalnya, kalau Puan punya mimpi masuk perguruan tinggi tertentu, Puan akan terus berjuang meski prosesnya sulit.
Mampu Menghadapi Tantangan Hidup
Dengan resiliensi, Puan tidak akan terjebak dalam pola pikir negatif. Jika gagal di salah satu jalan, Puan akan mencari jalan lain karena tahu masih ada kesempatan.
Hidup Lebih Bahagia dan Sehat
Individu yang resilien biasanya punya pola pikir dewasa dan lebih mudah beradaptasi. Ini akan membuat hidup terasa lebih bahagia.
Memperkuat Hubungan Interpersonal
Orang yang tangguh secara mental tidak gengsi untuk meminta bantuan saat diperlukan. Mereka juga punya kemampuan komunikasi yang baik, sehingga hubungan dengan orang lain juga ikut membaik.
Tips untuk Meningkatkan Resiliensi
Lalu, bagaimana cara agar kita bisa meningkatkan kemampuan resiliensi? Nah, ini dia beberapa tips praktis yang bisa Puan coba!
Menerima Perubahan
Sadari bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Fokuslah pada hal-hal yang bisa Puan kendalikan, bukan yang tidak.
Belajar Mengelola Stres
Saat merasa tertekan, jangan lari atau melampiaskan ke hal-hal negatif. Cari cara sehat untuk melepaskannya, seperti menulis jurnal atau meditasi.
Tingkatkan Problem Solving
Saat menghadapi masalah, alihkan fokus dari memikirkan masalah terus menerus, mulailah mencari solusi.
Jaga Kesehatan Diri
Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Pastikan Puan makan makanan bergizi, olahraga rutin, dan istirahat yang cukup.
Temukan Makna dan Tujuan Hidup
Ketika Puan tahu apa yang diperjuangkan, Puan akan punya semangat dan arah yang jelas saat menghadapi tantangan.
Puan, resiliensi bukan berarti kita kebal dari masalah. Itu artinya, meski kita terjatuh, kita punya kekuatan untuk bangkit kembali. Ingat, setiap tantangan adalah kesempatan untuk melatih mental kita. Jadi, mulai dari hari ini, yuk rayakan setiap langkah kecil yang Puan ambil untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh!
Sholichah, I. F., Paulana, A. N., & Fitriya, P. (2019, July). Self-esteem dan resiliensi akademik mahasiswa. In Proceeding National Conference Psikologi UMG 2018 (Vol. 1, No. 1, pp. 191-197).
Mir’atannisa, I. M., Rusmana, N., & Budiman, N. (2019). Kemampuan adaptasi positif melalui resiliensi. Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and Research, 3(02), 70-75.

Komentar
Posting Komentar