Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Resiliensi: Siap Hadapi Tantangan Kehidupan - Puan Bisa Health

Aspek aspek utama resiliensi

Image by: NSD.co.id

Puan, pernahkah kamu merasa situasi sulit datang bertubi-tubi? Misalnya, sedang musim ujian, tapi guru juga meminta tugas-tugas dikumpulkan segera. Belum lagi masalah di rumah seperti bertengkar dengan saudara atau orang tua yang sakit. Kalau Puan tetap bisa bertahan saat menghadapi tantangan ini, berarti Puan punya sikap resiliensi yang sangat berguna dalam kehidupan. Sikap ini adalah kekuatan mental yang bisa membantu di segala aspek, mulai dari kehidupan pribadi, akademik, sampai dunia kerja nanti.

Apa itu Resiliensi?

Sebelum melangkah lebih jauh, yuk kita pahami dulu apa sebenarnya resiliensi itu.Menurut Herrman (2011)  resiliensi mengacu pada adaptasi positif, atau kemampuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mental, meskipun mengalami kesulitan. Resiliensi dapat digunakan sebagai ukuran kemampuan untuk mengatasi stres. Resiliensi berasal dari dalam diri individu, kehidupan mereka, dan lingkungan sekitar yang memfasilitasi kapasitas ini untuk beradaptasi dan "memantul kembali" pada saat menghadapi kesulitan (Windle, Bennert, & Noyes, 2011). Singkatnya, resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi secara positif atau bangkit kembali dari kesulitan.

Dimensi dalam Resiliensi

Menurut Taormina (2015), resiliensi di masa dewasa punya beberapa dimensi penting. Keempat dimensi ini yang menentukan seberapa tangguh kita:

  • Determination

Kekuatan dan keteguhan tujuan yang Puan miliki.

  • Endurance

Ketabahan dan kekuatan untuk terus melangkah di situasi sulit.

  • Adaptability

Fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan tak terduga dalam hidup.

  • Recuperability

Kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dari berbagai masalah.


Manfaat Resiliensi

Tangguh menghadapi masalah itu memang penting, tapi apa saja sih manfaatnya untuk hidup dan kesehatan mental kita?

  1. Membantu Mencapai Tujuan

Resiliensi membuat Puan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Misalnya, kalau Puan punya mimpi masuk perguruan tinggi tertentu, Puan akan terus berjuang meski prosesnya sulit.

  1. Mampu Menghadapi Tantangan Hidup

Dengan resiliensi, Puan tidak akan terjebak dalam pola pikir negatif. Jika gagal di salah satu jalan, Puan akan mencari jalan lain karena tahu masih ada kesempatan.

  1. Hidup Lebih Bahagia dan Sehat

Individu yang resilien biasanya punya pola pikir dewasa dan lebih mudah beradaptasi. Ini akan membuat hidup terasa lebih bahagia.

  1. Memperkuat Hubungan Interpersonal

Orang yang tangguh secara mental tidak gengsi untuk meminta bantuan saat diperlukan. Mereka juga punya kemampuan komunikasi yang baik, sehingga hubungan dengan orang lain juga ikut membaik.

 

Tips untuk Meningkatkan Resiliensi

Lalu, bagaimana cara agar kita  bisa meningkatkan kemampuan resiliensi? Nah, ini dia beberapa tips praktis yang bisa Puan coba!

  1. Menerima Perubahan

Sadari bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Fokuslah pada hal-hal yang bisa Puan kendalikan, bukan yang tidak.

  1. Belajar Mengelola Stres

Saat merasa tertekan, jangan lari atau melampiaskan ke hal-hal negatif. Cari cara sehat untuk melepaskannya, seperti menulis jurnal atau meditasi.

  1. Tingkatkan Problem Solving

Saat menghadapi masalah, alihkan fokus dari memikirkan masalah terus menerus, mulailah mencari solusi.

  1. Jaga Kesehatan Diri

Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Pastikan Puan makan makanan bergizi, olahraga rutin, dan istirahat yang cukup.

  1. Temukan Makna dan Tujuan Hidup

Ketika Puan tahu apa yang diperjuangkan, Puan akan punya semangat dan arah yang jelas saat menghadapi tantangan.

Puan, resiliensi bukan berarti kita kebal dari masalah. Itu artinya, meski kita terjatuh, kita punya kekuatan untuk bangkit kembali. Ingat, setiap tantangan adalah kesempatan untuk melatih mental kita. Jadi, mulai dari hari ini, yuk rayakan setiap langkah kecil yang Puan ambil untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh!

Referensi:

Sholichah, I. F., Paulana, A. N., & Fitriya, P. (2019, July). Self-esteem dan resiliensi akademik mahasiswa. In Proceeding National Conference Psikologi UMG 2018 (Vol. 1, No. 1, pp. 191-197).

Mir’atannisa, I. M., Rusmana, N., & Budiman, N. (2019). Kemampuan adaptasi positif melalui resiliensi. Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and Research, 3(02), 70-75.



Author & Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...