Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Resiliensi: Siap Hadapi Tantangan Kehidupan - Puan Bisa Health

Aspek aspek utama resiliensi

Image by: NSD.co.id

Puan, pernahkah kamu merasa situasi sulit datang bertubi-tubi? Misalnya, sedang musim ujian, tapi guru juga meminta tugas-tugas dikumpulkan segera. Belum lagi masalah di rumah seperti bertengkar dengan saudara atau orang tua yang sakit. Kalau Puan tetap bisa bertahan saat menghadapi tantangan ini, berarti Puan punya sikap resiliensi yang sangat berguna dalam kehidupan. Sikap ini adalah kekuatan mental yang bisa membantu di segala aspek, mulai dari kehidupan pribadi, akademik, sampai dunia kerja nanti.

Apa itu Resiliensi?

Sebelum melangkah lebih jauh, yuk kita pahami dulu apa sebenarnya resiliensi itu.Menurut Herrman (2011)  resiliensi mengacu pada adaptasi positif, atau kemampuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mental, meskipun mengalami kesulitan. Resiliensi dapat digunakan sebagai ukuran kemampuan untuk mengatasi stres. Resiliensi berasal dari dalam diri individu, kehidupan mereka, dan lingkungan sekitar yang memfasilitasi kapasitas ini untuk beradaptasi dan "memantul kembali" pada saat menghadapi kesulitan (Windle, Bennert, & Noyes, 2011). Singkatnya, resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi secara positif atau bangkit kembali dari kesulitan.

Dimensi dalam Resiliensi

Menurut Taormina (2015), resiliensi di masa dewasa punya beberapa dimensi penting. Keempat dimensi ini yang menentukan seberapa tangguh kita:

  • Determination

Kekuatan dan keteguhan tujuan yang Puan miliki.

  • Endurance

Ketabahan dan kekuatan untuk terus melangkah di situasi sulit.

  • Adaptability

Fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan tak terduga dalam hidup.

  • Recuperability

Kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dari berbagai masalah.


Manfaat Resiliensi

Tangguh menghadapi masalah itu memang penting, tapi apa saja sih manfaatnya untuk hidup dan kesehatan mental kita?

  1. Membantu Mencapai Tujuan

Resiliensi membuat Puan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Misalnya, kalau Puan punya mimpi masuk perguruan tinggi tertentu, Puan akan terus berjuang meski prosesnya sulit.

  1. Mampu Menghadapi Tantangan Hidup

Dengan resiliensi, Puan tidak akan terjebak dalam pola pikir negatif. Jika gagal di salah satu jalan, Puan akan mencari jalan lain karena tahu masih ada kesempatan.

  1. Hidup Lebih Bahagia dan Sehat

Individu yang resilien biasanya punya pola pikir dewasa dan lebih mudah beradaptasi. Ini akan membuat hidup terasa lebih bahagia.

  1. Memperkuat Hubungan Interpersonal

Orang yang tangguh secara mental tidak gengsi untuk meminta bantuan saat diperlukan. Mereka juga punya kemampuan komunikasi yang baik, sehingga hubungan dengan orang lain juga ikut membaik.

 

Tips untuk Meningkatkan Resiliensi

Lalu, bagaimana cara agar kita  bisa meningkatkan kemampuan resiliensi? Nah, ini dia beberapa tips praktis yang bisa Puan coba!

  1. Menerima Perubahan

Sadari bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Fokuslah pada hal-hal yang bisa Puan kendalikan, bukan yang tidak.

  1. Belajar Mengelola Stres

Saat merasa tertekan, jangan lari atau melampiaskan ke hal-hal negatif. Cari cara sehat untuk melepaskannya, seperti menulis jurnal atau meditasi.

  1. Tingkatkan Problem Solving

Saat menghadapi masalah, alihkan fokus dari memikirkan masalah terus menerus, mulailah mencari solusi.

  1. Jaga Kesehatan Diri

Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Pastikan Puan makan makanan bergizi, olahraga rutin, dan istirahat yang cukup.

  1. Temukan Makna dan Tujuan Hidup

Ketika Puan tahu apa yang diperjuangkan, Puan akan punya semangat dan arah yang jelas saat menghadapi tantangan.

Puan, resiliensi bukan berarti kita kebal dari masalah. Itu artinya, meski kita terjatuh, kita punya kekuatan untuk bangkit kembali. Ingat, setiap tantangan adalah kesempatan untuk melatih mental kita. Jadi, mulai dari hari ini, yuk rayakan setiap langkah kecil yang Puan ambil untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh!

Referensi:

Sholichah, I. F., Paulana, A. N., & Fitriya, P. (2019, July). Self-esteem dan resiliensi akademik mahasiswa. In Proceeding National Conference Psikologi UMG 2018 (Vol. 1, No. 1, pp. 191-197).

Mir’atannisa, I. M., Rusmana, N., & Budiman, N. (2019). Kemampuan adaptasi positif melalui resiliensi. Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and Research, 3(02), 70-75.



Author & Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...