Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Journaling, Alat Superpower untuk Puan di Tengah Kekacauan

Image by: Iguana Sell

Puan, pasti kita sering merasa lelah tapi harus tetap produktif. Atau, lagi overthinking berat, tapi deadline tugas atau proyek kantor udah di depan mata. Akhirnya, mau bekerja atau nugas juga jadi nggak maksimal karena pikiran terus-terusan berputar di hal-hal yang kurang penting. Ini yang kita sebut kebisingan di kepala yang menghambat potensi Puan!

Nah, di sini Priska punya solusi low-budget tapi ber-impact besar yang bisa membantu Puan, yaitu Journaling.

Apa Itu Journaling?

Journaling adalah praktik menuliskan isi pikiran, perasaan, emosi, atau tujuan yang sedang Puan rasakan atau pikirkan. Memang, journaling ini cukup mirip dengan diary yang mungkin sering Puan tulis saat remaja. Jika Puan sering menulis diary, hal ini kurang lebih mirip, tetapi ada sedikit perbedaan penting.

Jika diary lebih mirip catatan harian tentang apa yang terjadi setelah kita menjalani hari-hari kita, journaling memiliki hal yang lebih dari itu. Dalam journaling, kita tidak hanya menulis keseharian kita, tetapi juga fokus pada analisis diri dan perencanaan. Journaling adalah alat Puan untuk memetakan diri, merancang masa depan, dan meredam kekacauan emosi.


5 Jenis Journaling yang bisa Puan Coba

Karena tujuan journaling sangat luas, journaling punya banyak format yang bisa Puan pilih. Yuk, kita kenali format journaling agar Puan tahu harus mulai dari mana:

1.  Brain Dump  

Brain Dump ini mirip dengan Free Writing. Jenis ini adalah penyelamat dari overthinking. Puan bebas menulis apa saja yang mengganggu, kekhawatiran, ide kacau, atau emosi yang memuncak. Tanpa takut merasa salah, tanpa filter selama 5-10 menit. Brain dump adalah teknik "mengosongkan RAM" otak agar fokus dan energi Puan bisa kembali.

2.      Gratitude Journaling

Gratitude Journaling ini berisi rasa syukur Puan. Puan bisa mencatat hal-hal yang disyukuri, sekecil apapun itu, seperti dapat kopi enak atau feedback bagus dari atasan/dosen. Dengan melatih otak Puan mencari hal positif, Puan sedang membangun sikap resiliensi di tengah tekanan.

3.      Reflective Journaling

Jurnal ini berisi tentang refleksi mendalam terhadap diri sendiri. Puan tidak hanya mencatat kejadian, tapi menganalisisnya, misalnya: "Mengapa aku bereaksi marah saat X terjadi? Apa batas yang perlu kutegakkan agar ini tidak terulang?" Jenis ini sangat powerful untuk mengenal diri sendiri (Self-Awareness) secara detail.

4.  Dream & Future Journaling

Di sini, Puan menuliskan mimpi-mimpi Puan di masa depan. Tidak hanya membayangkan akan menjadi apa, tapi Puan juga menulis goal yang ingin Puan capai. Puan bahkan bisa menulis surat pada diri sendiri di masa depan untuk memotivasi Puan yang di masa sekarang.

5.  Art Journaling

Disini Puan tidak selalu fokus pada tulisan, melainkan menggunakan visual. Jurnal ini akan dihias menjadi kreatif, bisa dengan sketsa, doodle, kolase, atau stiker. Puan dapat meningkatkan kreativitas dengan menyalurkan hobi dan kesenanganmu.


Manfaat Journaling, Small Habit yang Impactful

Lalu apa sih manfaatnya menulis journal? Tentu saja journaling memiliki banyak manfaat yang berhubungan langsung dengan isu self-improvement:

1.  Meredam Kebisingan & Kecemasan (Anti-Overthinking)

Dengan Brain Dump, Puan membersihkan "sampah" pikiran, sehingga fokus dan energi kembali optimal untuk kerja atau nugas. Journaling memberi Puan ketenangan batin.

2.  Memperkuat Resiliensi

Melalui Gratitude Journal, Puan melatih mental untuk mencari solusi, bukan meratapi masalah. Ini adalah perisai Puan saat tekanan hidup datang, sekaligus meningkatkan mental health Puan.

3.      Menemukan Tujuan Diri

Reflective Journaling membantu Puan mengidentifikasi nilai dan kekuatan diri yang sebenarnya, sehingga Puan bisa membuat keputusan karier atau studi yang sesuai dengan nilai diri, bukan ekspektasi orang lain.

4.      Mengubah Mimpi menjadi Aksi

Future Journaling membuat optimisme Puan berbasis strategi, bukan cuma harapan kosong. Puan menjadi lebih optimis karena memiliki goal dan mimpi yang menjadi semangat untuk diri sendiri di masa sekarang.

5.  Meningkatkan Kreativitas

Melalui Art Journaling, Puan menyalurkan hobi dan kesenangan. Dengan menghiasnya, Puan juga dapat melatih kemampuan ekspresi dan kreativitas yang berguna di banyak aspek kehidupan.


Yuk, Mulai Journaling Sekarang!

Journaling itu sangat mudah dan murah, tapi manfaatnya benar-benar besar. Ini adalah small habit yang ber-impact.

Puan tidak perlu menunggu buku yang bagus, atau menunggu sampai jurnal terlihat cantik di media sosial. Cukup terapkan Aturan 5 Menit saja setiap hari, karena konsisten jauh lebih penting daripada durasi. Ingat, jurnal ini adalah ruang aman, tempat Puan boleh jujur pada diri sendiri tanpa takut dinilai.


Referensi:

Dimitroff, L. J., Sliwoski, L., O’Brien, S., & Nichols, L. W. (2017). Change your life through journaling–The benefits of journaling for registered nurses. Journal of Nursing Education and Practice, 7(2), 90-98.


Sohal, M., Singh, P., Dhillon, B. S., & Gill, H. S. (2022). Efficacy of journaling in the management of mental illness: a systematic review and meta-analysis. Family medicine and community health, 10(1), e0011

Author & Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...