Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Journaling, Alat Superpower untuk Puan di Tengah Kekacauan

Image by: Iguana Sell

Puan, pasti kita sering merasa lelah tapi harus tetap produktif. Atau, lagi overthinking berat, tapi deadline tugas atau proyek kantor udah di depan mata. Akhirnya, mau bekerja atau nugas juga jadi nggak maksimal karena pikiran terus-terusan berputar di hal-hal yang kurang penting. Ini yang kita sebut kebisingan di kepala yang menghambat potensi Puan!

Nah, di sini Priska punya solusi low-budget tapi ber-impact besar yang bisa membantu Puan, yaitu Journaling.

Apa Itu Journaling?

Journaling adalah praktik menuliskan isi pikiran, perasaan, emosi, atau tujuan yang sedang Puan rasakan atau pikirkan. Memang, journaling ini cukup mirip dengan diary yang mungkin sering Puan tulis saat remaja. Jika Puan sering menulis diary, hal ini kurang lebih mirip, tetapi ada sedikit perbedaan penting.

Jika diary lebih mirip catatan harian tentang apa yang terjadi setelah kita menjalani hari-hari kita, journaling memiliki hal yang lebih dari itu. Dalam journaling, kita tidak hanya menulis keseharian kita, tetapi juga fokus pada analisis diri dan perencanaan. Journaling adalah alat Puan untuk memetakan diri, merancang masa depan, dan meredam kekacauan emosi.


5 Jenis Journaling yang bisa Puan Coba

Karena tujuan journaling sangat luas, journaling punya banyak format yang bisa Puan pilih. Yuk, kita kenali format journaling agar Puan tahu harus mulai dari mana:

1.  Brain Dump  

Brain Dump ini mirip dengan Free Writing. Jenis ini adalah penyelamat dari overthinking. Puan bebas menulis apa saja yang mengganggu, kekhawatiran, ide kacau, atau emosi yang memuncak. Tanpa takut merasa salah, tanpa filter selama 5-10 menit. Brain dump adalah teknik "mengosongkan RAM" otak agar fokus dan energi Puan bisa kembali.

2.      Gratitude Journaling

Gratitude Journaling ini berisi rasa syukur Puan. Puan bisa mencatat hal-hal yang disyukuri, sekecil apapun itu, seperti dapat kopi enak atau feedback bagus dari atasan/dosen. Dengan melatih otak Puan mencari hal positif, Puan sedang membangun sikap resiliensi di tengah tekanan.

3.      Reflective Journaling

Jurnal ini berisi tentang refleksi mendalam terhadap diri sendiri. Puan tidak hanya mencatat kejadian, tapi menganalisisnya, misalnya: "Mengapa aku bereaksi marah saat X terjadi? Apa batas yang perlu kutegakkan agar ini tidak terulang?" Jenis ini sangat powerful untuk mengenal diri sendiri (Self-Awareness) secara detail.

4.  Dream & Future Journaling

Di sini, Puan menuliskan mimpi-mimpi Puan di masa depan. Tidak hanya membayangkan akan menjadi apa, tapi Puan juga menulis goal yang ingin Puan capai. Puan bahkan bisa menulis surat pada diri sendiri di masa depan untuk memotivasi Puan yang di masa sekarang.

5.  Art Journaling

Disini Puan tidak selalu fokus pada tulisan, melainkan menggunakan visual. Jurnal ini akan dihias menjadi kreatif, bisa dengan sketsa, doodle, kolase, atau stiker. Puan dapat meningkatkan kreativitas dengan menyalurkan hobi dan kesenanganmu.


Manfaat Journaling, Small Habit yang Impactful

Lalu apa sih manfaatnya menulis journal? Tentu saja journaling memiliki banyak manfaat yang berhubungan langsung dengan isu self-improvement:

1.  Meredam Kebisingan & Kecemasan (Anti-Overthinking)

Dengan Brain Dump, Puan membersihkan "sampah" pikiran, sehingga fokus dan energi kembali optimal untuk kerja atau nugas. Journaling memberi Puan ketenangan batin.

2.  Memperkuat Resiliensi

Melalui Gratitude Journal, Puan melatih mental untuk mencari solusi, bukan meratapi masalah. Ini adalah perisai Puan saat tekanan hidup datang, sekaligus meningkatkan mental health Puan.

3.      Menemukan Tujuan Diri

Reflective Journaling membantu Puan mengidentifikasi nilai dan kekuatan diri yang sebenarnya, sehingga Puan bisa membuat keputusan karier atau studi yang sesuai dengan nilai diri, bukan ekspektasi orang lain.

4.      Mengubah Mimpi menjadi Aksi

Future Journaling membuat optimisme Puan berbasis strategi, bukan cuma harapan kosong. Puan menjadi lebih optimis karena memiliki goal dan mimpi yang menjadi semangat untuk diri sendiri di masa sekarang.

5.  Meningkatkan Kreativitas

Melalui Art Journaling, Puan menyalurkan hobi dan kesenangan. Dengan menghiasnya, Puan juga dapat melatih kemampuan ekspresi dan kreativitas yang berguna di banyak aspek kehidupan.


Yuk, Mulai Journaling Sekarang!

Journaling itu sangat mudah dan murah, tapi manfaatnya benar-benar besar. Ini adalah small habit yang ber-impact.

Puan tidak perlu menunggu buku yang bagus, atau menunggu sampai jurnal terlihat cantik di media sosial. Cukup terapkan Aturan 5 Menit saja setiap hari, karena konsisten jauh lebih penting daripada durasi. Ingat, jurnal ini adalah ruang aman, tempat Puan boleh jujur pada diri sendiri tanpa takut dinilai.


Referensi:

Dimitroff, L. J., Sliwoski, L., O’Brien, S., & Nichols, L. W. (2017). Change your life through journaling–The benefits of journaling for registered nurses. Journal of Nursing Education and Practice, 7(2), 90-98.


Sohal, M., Singh, P., Dhillon, B. S., & Gill, H. S. (2022). Efficacy of journaling in the management of mental illness: a systematic review and meta-analysis. Family medicine and community health, 10(1), e0011

Author & Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...