Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Book Smart vs Street Smart, mana yang lebih penting?

Image by: Steemit

Puan, Pernahkah mendengar istilah book smart dan street smart? Kira-kira di antara keduanya, mana yang lebih penting untuk masa depan? Yuk, kita bedah bersama!

Secara sederhana, Book Smart adalah kecerdasan di bidang akademis. Puan mungkin sering menemukannya pada teman yang sangat menonjol di sekolah atau perkuliahan, mereka yang nilai lapornya selalu cemerlang, IPK-nya tinggi, dan langganan juara lomba di bidang akademis. Fokus utamanya adalah pemahaman teori yang mendalam.

Di sisi lain, ada Street Smart. Street smart adalah kecerdasan yang berbasis pada pengalaman, intuisi, dan kemampuan adaptasi di dunia nyata, di luar pendidikan formal. Orang yang street smart biasanya memiliki common sense yang kuat, sangat peka terhadap lingkungan, dan selalu punya pendekatan praktis dalam menyelesaikan masalah.

Lalu, apa perbandingannya?

  • Book Smart biasanya unggul dalam kedisiplinan, kemampuan menganalisis data, serta memiliki wawasan teori yang sangat luas.

  • Street Smart punya kelebihan dalam bernegosiasi, tetap tenang meski di bawah tekanan, dan mampu melakukan problem solving dengan cepat di lapangan.

Hal ini bikin kita bertanya-tanya, "Apakah salah satunya lebih penting?" jawabannya: tidak. Keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi.

Bayangkan jika ada seseorang yang jago matematika tapi tidak memiliki kemampuan komunikasi untuk menawar barang, ia mungkin akan kesulitan mendapatkan harga terbaik. Sebaliknya, bayangkan ada seseorang yang hebat berorasi secara alami, tapi karena tidak paham teori atau data yang mendasari argumennya, ia jadi sulit dipercaya oleh masyarakat.

Lantas, bagaimana cara menyeimbangkan keduanya?

  1. Jangan Hanya Belajar di Dalam Kelas 

Belajar teori itu penting, tapi cobalah terlibat dalam kepanitiaan, organisasi, atau magang. Di sanalah Puan bisa melatih kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan kerja sama tim yang tidak ada di buku teks.

  1. Latih Networking dengan Orang Baru 

Awalnya mungkin terasa canggung memulai obrolan dengan orang asing. Namun, dengan memberanikan diri, Puan sedang melatih intuisi dan kemampuan membaca karakter orang lain.

  1. Tetap Serius Menyerap Ilmu 

Saat di kelas, cobalah pahami konsep yang dijelaskan dosen atau guru dengan saksama. Pondasi teori yang kuat akan membuat Puan memiliki dasar yang kokoh saat nantinya harus mengambil keputusan di dunia profesional.

Jadi, apakah street smart selalu lebih baik dari book smart? Tentu tidak, keduanya memiliki porsinya masing-masing. Alangkah baiknya jika kita bisa menyeimbangkan kedua kecerdasan ini agar lebih siap menghadapi tantangan sehari-hari maupun dunia kerja.

Reference:

Hatt, B. (2007). Street smarts vs. book smarts: The figured world of smartness in the lives of marginalized, urban youth. The Urban Review, 39(2), 145-166.


Times higher education


Author & Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...