Langsung ke konten utama

The Fresh Start Effect: Kenapa Kita Suka Memulai di Hari Senin?

Sumber: pexels.com “Senin nanti aku mulai hidup lebih teratur, deh.” “Bulan depan harus mulai rajin olahraga.” “Kayaknya tahun depan aku harus lebih disiplin.” Pernah nggak, Puan, merasa lebih bersemangat untuk memulai sesuatu ketika memasuki waktu tertentu? Entah itu hari senin, awal bulan, ulang tahun, atau bahkan tahun baru. Seolah-olah pergantian waktu memberikan kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba menjadi versi diri yang berbeda. Menariknya, kebiasaan ini ternyata punya penjelasan dalam psikologi, lho. Fenomena ini dikenal sebagai The Fresh Start Effect , yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih termotivasi memulai tujuan atau kebiasaan baru setelah melewati penanda waktu tertentu. Apa Itu The Fresh Start Effect? The fresh start effect merupakan konsep psikologi yang diperkenalkan melalui penelitian Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, dan Jason Rilis pada tahun 2014. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa penanda waktu seperti awal minggu, awal bulan, tahun...

Radical Compassion: Seni Memeluk Badai Emosi dengan Kasih Sayang

 

Photo by: Tara Brach

Puan ngerasa nggak sih, kalau pengkritik paling kejam dalam hidup itu justru diri kita sendiri? Kita sering banget nuntut diri buat tampil sempurna. Pas gagal sedikit atau bikin salah kecil, langsung deh: “Duh, kayaknya aku emang nggak bakat deh di sini," atau "Kenapa sih tadi aku ngomong gitu? Malu-maluin banget!"

Di sinilah pentingnya Self-Compassion. Puan, self-compassion itu bukan berarti manjain diri atau malas-malasan, ya. Tapi itu adalah keberanian untuk memperlakukan diri sendiri selayaknya memperlakukan sahabat tersayang, dengan lembut, sabar, dan pengertian.

Baca juga: Gagal? Nggak Masalah! Waktunya Belajar Sayang Sama Diri Sendiri


Seorang psikolog sekaligus guru mindfulness, Tara Brach, memperkenalkan sebuah metode meditasi ringan untuk self-compassion dalam bukunya Radical Compassion. Metode ini disebut RAIN dan ngajak kita buat berhenti perang sama emosi negatif dan mulai memeluknya.

Yuk, kita cari tahu langkah-langkah RAIN supaya Puan bisa lebih gentle sama diri sendiri.

 

R – Recognize (Mengenali)

Langkah pertama adalah jadi pengamat yang jujur. Saat emosi negatif datang, jangan langsung tenggelam di dalamnya. Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang lagi terjadi di dalam diriku sekarang?"

Kenali tanpa menghakimi. Puan nggak perlu merasa bersalah dan cukup kasih nama ke perasaan itu supaya dia nggak liar ke mana-mana.

Contohnya: Puan bisa ngomong dalam hati, "Oh, aku lagi ngerasa malu dan ada suara di kepalaku yang bilang kalau aku ini gagal karena tugasku direvisi terus." Dengan menyebut namanya, beban itu biasanya mulai terasa sedikit lebih ringan.

Setelah Puan berhasil mengenali si emosi "gagal" ini, tantangan berikutnya adalah jangan langsung buru-buru pengen ngusir dia atau langsung maksa buat positive thinking.

 

A – Allow (Mengizinkan)

Ini bagian yang paling menantang buat kita yang terbiasa harus selalu terlihat okay. Allowing artinya membiarkan perasaan itu ada, sesakit apa pun itu. Jangan dilawan, jangan ditekan, dan jangan coba-coba langsung cari solusinya.

Katakan dalam hati, "Ya, ini memang terjadi," atau "Nggak apa-apa kalau sekarang aku merasa begini."

Contohnya: Saat Puan merasa gagal karena dapet nilai jelek, jangan langsung bilang "Aku harus lebih rajin!". Cukup bilang, "Saat ini, aku izinkan diriku merasa sedih dan kecewa. Ini manusiawi."

Ketika Puan sudah memberi ruang, sekarang waktunya kita masuk lebih dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

I – Investigate (Menyelidiki)

Di tahap ini, Puan nggak cuma liat permukaannya, tapi juga harus cari tahu: "Kenapa ya perasaan ini muncul?" dan "Apa sih dampaknya ke tubuhku?"

Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang aku percayai saat ini sampai aku merasa sesedih ini?" Mungkin ada ketakutan lama yang muncul lagi, atau ada ekspektasi yang terlalu tinggi. Sambil bertanya, rasakan juga sensasi fisiknya. Apakah dada terasa sesak? Apakah perut melilit?

Contohnya: Pas Puan merasa cemas luar biasa sebelum meeting, coba selidiki: "Kenapa aku secemas ini? Oh, ternyata karena aku takut kalau aku salah bicara, orang bakal mikir aku nggak kompeten." Lalu sadari dampaknya: "Ternyata pikiran ini bikin pundakku tegang banget dan napasku jadi pendek-pendek."

Setelah Puan tahu akar masalahnya dan gimana emosi itu menyiksa perasaan dan tubuh Puan, langkah terakhir ini adalah cara mengobatinya.

 

N – Nurture (Merawat)

Inilah momen Puan untuk memberikan kasih sayang ke diri sendiri. Tanyakan: "Apa yang paling aku butuhkan saat ini?" Mungkin Puan butuh kata-kata penyemangat, atau sekadar pengakuan bahwa situasi ini memang berat.

Contohnya: Puan bisa meletakkan tangan di dada sambil berbisik ke diri sendiri: "Pantesan kamu cemas, ternyata kamu punya beban pikiran seberat itu ya. I'm here for you. Kamu nggak sendirian hadapi ini."

Gimana, Puan? RAIN itu memang nggak bisa menghentikan badai emosi, tapi bisa memeluk Puan agar tetap aman dan hangat. Awalnya mungkin terasa canggung, tapi kalau sering dipraktekkan, Puan bakal jadi pribadi yang lebih tangguh dan punya self-compassion yang kuat.


Sekilas tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Edwards, K. (2022, November 30). 4 Lessons from Radical Compassion by Tara Brach. Keith Edwards PhD - Speaker Author Coach. https://keithedwards.com/2022/11/30/4-lessons-from-radical-compassion-by-tara-brach/ 

Merrick, J. (2020, Januari 2). Blog - RAIN: A Practice of Radical Compassion. Tara Brach. https://www.tarabrach.com/rain-practice-radical-compassion/


Author & Editor:

Dwi Khumaeroh Saadah


Komentar

Rubik Puan Popular

Merasa Jadi Pusat Perhatian? Bisa Jadi Puan Mengalami The Spotlight Effect

  “Orang-orang bakal mikir apa ya?” Sumber: pexels.com Pertanyaan sederhana yang ternyata bisa membuat Puan ngerasa seolah-olah sedang jadi sorotan semua orang. Padahal, belum tentu. Nah dalam psikologi, kecenderungan untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita ini dikenal sebagai “ The Spotlight Effect ” . Apa Itu The Spotlight Effect ? Istilah The Spotlight Effect diperkenalkan oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky melalui penelitian mereka pada tahun 2000. Mereka menjelaskan The Spotlight Effect adalah kondisi ketika seseorang mengira bahwa tindakan dan penampilannya begitu diperhatikan oleh orang lain, padahal kenyataannya tidak sebesar yang mereka bayangkan. Menurut Gilovich et al. (2000), kita cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita. Hal ini berkaitan dengan egocentric bias , yaitu kecenderungan melihat suatu situasi dari sudut pandang diri sendiri karena Puan paling sadar terha...

Belajar dari Roti Gosong: Mengubah Kesulitan Jadi Kesempatan

Photo by Ellie Burgin Puan, pernah nggak sih ngalamin kejadian yang bikin langsung mikir, "Duh, kok hari ini aku apes banget ya?" Misalnya, salah belok di perempatan, outfit kesayangan ketumpahan kopi, atau lupa bawa dompet. Wajar banget kok kalau jadi bad mood dan bawaannya pengen ngeluh terus, tapi jangan sampai kejadian-kejadian menyebalkan itu ngerusak sisa hari Puan ya. At the end of the day , semua kesulitan itu pasti bisa dilewati dengan baik kok. Siapa tahu itu justru membawa Puan ke hal-hal baik yang nggak terduga. Masa sih? Nah, ini yang dinamain Burnt Toast Theory. Penasaran kenapa roti gosong bisa jadi filosofi hidup? Yuk, kita bahas! Burnt Toast Theory Itu Apa Sih? Burnt Toast Theory adalah cara berpikir untuk menyikapi kejadian menyebalkan dengan santai. Intinya, teori ini mengajarkan kita kalau setiap kesulitan yang kita temui itu sebenarnya lagi membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik. Terus, apa hubungannya sama roti gosong? Filosofi ini berasal dari gag...

Mengubah Pikiran Negatif Menjadi Positif: Membangun Mindset Penuh Keyakinan dan Optimisme

Apakah Puan sering merasa terjebak dalam pikiran negatif yang menghalangi Puan meraih potensi dan kebahagiaan? Jika iya, maka Puan berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan membahas cara mengubah pikiran negatif menjadi positif dengan membangun mindset yang penuh keyakinan dan optimisme. Mindset, atau pola pikir, merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan yang sukses dan membangun kebahagiaan. Pikiran negatif seperti keraguan, rasa tidak berharga, dan kecemasan dapat merusak mindset Puan dan menghalangi Puan mencapai potensi terbaik.  Namun, Puan tidak perlu putus asa. Ada beberapa langkah praktis yang dapat Puan lakukan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif: Kesadaran akan pikiran negatif: Puan perlu mengenali dan menyadari pola pikir negatif yang muncul dalam diri Puan. Coba identifikasi pikiran-pikiran tersebut dan berikan pengertian bahwa Puan memiliki kendali atas pikiran-pikiran itu. Reframing: Saat Puan menghadapi pikiran negatif, coba ubah perspektif...

Growth Mindset vs Fixed Mindset: Pilihan Pola Pikir yang Menentukan Masa Depan

Image by  Source of Insight Manusia pada dasarnya diciptakan berbeda beda ya, Puan, begitu juga dengan mindset yang dibangun oleh diri kita sendiri. Menurut Carol Dweck psikologi dari Stanford University mindset terbagi menjadi dua yaitu fixed mindset dan growth mindset . Apa itu fixed mindset ? Fixed mindset merupakan pola pikir yang percaya bahwa suatu kecerdasan ataupun bakat dalam individu yang sifatnya tidak akan pernah berubah. Orang yang mempunyai fixed mindset cenderung mudah menyerah, tidak mau ambil resiko atas tantangan dalam hidup serta mudah merasa terancam atas keberhasilan orang lain. Lalu, apa itu growth mindset ? Growth mindset merupakan pola pikir yang ingin selalu berkembang dan percaya bahwa sebuah kesuksesan bisa didapatkan dengan kerja keras. Dengan kata lain seorang yang mempunyai growth mindset akan selalu tampil berani serta mencoba hal-hal baru. Perbedaan kedua mindset ini apasih? Fixed mindset Menghindari tantangan karena takut dengan kegagalan te...

The Fresh Start Effect: Kenapa Kita Suka Memulai di Hari Senin?

Sumber: pexels.com “Senin nanti aku mulai hidup lebih teratur, deh.” “Bulan depan harus mulai rajin olahraga.” “Kayaknya tahun depan aku harus lebih disiplin.” Pernah nggak, Puan, merasa lebih bersemangat untuk memulai sesuatu ketika memasuki waktu tertentu? Entah itu hari senin, awal bulan, ulang tahun, atau bahkan tahun baru. Seolah-olah pergantian waktu memberikan kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba menjadi versi diri yang berbeda. Menariknya, kebiasaan ini ternyata punya penjelasan dalam psikologi, lho. Fenomena ini dikenal sebagai The Fresh Start Effect , yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih termotivasi memulai tujuan atau kebiasaan baru setelah melewati penanda waktu tertentu. Apa Itu The Fresh Start Effect? The fresh start effect merupakan konsep psikologi yang diperkenalkan melalui penelitian Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, dan Jason Rilis pada tahun 2014. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa penanda waktu seperti awal minggu, awal bulan, tahun...