Langsung ke konten utama

Mengenal Impulsive Buying: Faktor Pemicu dan Cara Mengatasinya

  Ilustrasi seseorang yang melakukan impulsive buying (beyondfinance.com) Pernah nggak sih, Puan lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba muncul iklan barang yang menurut Puan lucu banget? Tanpa pikir panjang, Puan langsung masukkin ke keranjang , masukin PIN, dan check out! Transaksi berhasil. Eh, pas barangnya sampai tiga hari setelahnya, Puan malah bingung sendiri, "Kemarin kepikiran apa ya sampai beli ini?" Berarti, Puan baru saja terjebak dalam fenomena impulsive buying . Tenang, Puan nggak sendirian kok. Tapi kalau dibiarin terus, dompet bisa nangis di akhir bulan. Yuk, Priska bedah kenapa ini terjadi dan gimana cara mengatasinya tanpa harus ngerasa tersiksa. Kenapa Kita Suka Banget Belanja Tiba-Tiba? Secara psikologis, belanja itu memicu hormon dopamin alias hormon bahagia di otak Puan. Saat Puan melihat barang baru yang menarik, otak langsung ngebayangin betapa senengnya Puan kalau punya barang itu. Apalagi kalau ada tulisan "Diskon 70%" atau ...

Radical Compassion: Seni Memeluk Badai Emosi dengan Kasih Sayang

 

Photo by: Tara Brach

Puan ngerasa nggak sih, kalau pengkritik paling kejam dalam hidup itu justru diri kita sendiri? Kita sering banget nuntut diri buat tampil sempurna. Pas gagal sedikit atau bikin salah kecil, langsung deh: “Duh, kayaknya aku emang nggak bakat deh di sini," atau "Kenapa sih tadi aku ngomong gitu? Malu-maluin banget!"

Di sinilah pentingnya Self-Compassion. Puan, self-compassion itu bukan berarti manjain diri atau malas-malasan, ya. Tapi itu adalah keberanian untuk memperlakukan diri sendiri selayaknya memperlakukan sahabat tersayang, dengan lembut, sabar, dan pengertian.

Baca juga: Gagal? Nggak Masalah! Waktunya Belajar Sayang Sama Diri Sendiri


Seorang psikolog sekaligus guru mindfulness, Tara Brach, memperkenalkan sebuah metode meditasi ringan untuk self-compassion dalam bukunya Radical Compassion. Metode ini disebut RAIN dan ngajak kita buat berhenti perang sama emosi negatif dan mulai memeluknya.

Yuk, kita cari tahu langkah-langkah RAIN supaya Puan bisa lebih gentle sama diri sendiri.

 

R – Recognize (Mengenali)

Langkah pertama adalah jadi pengamat yang jujur. Saat emosi negatif datang, jangan langsung tenggelam di dalamnya. Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang lagi terjadi di dalam diriku sekarang?"

Kenali tanpa menghakimi. Puan nggak perlu merasa bersalah dan cukup kasih nama ke perasaan itu supaya dia nggak liar ke mana-mana.

Contohnya: Puan bisa ngomong dalam hati, "Oh, aku lagi ngerasa malu dan ada suara di kepalaku yang bilang kalau aku ini gagal karena tugasku direvisi terus." Dengan menyebut namanya, beban itu biasanya mulai terasa sedikit lebih ringan.

Setelah Puan berhasil mengenali si emosi "gagal" ini, tantangan berikutnya adalah jangan langsung buru-buru pengen ngusir dia atau langsung maksa buat positive thinking.

 

A – Allow (Mengizinkan)

Ini bagian yang paling menantang buat kita yang terbiasa harus selalu terlihat okay. Allowing artinya membiarkan perasaan itu ada, sesakit apa pun itu. Jangan dilawan, jangan ditekan, dan jangan coba-coba langsung cari solusinya.

Katakan dalam hati, "Ya, ini memang terjadi," atau "Nggak apa-apa kalau sekarang aku merasa begini."

Contohnya: Saat Puan merasa gagal karena dapet nilai jelek, jangan langsung bilang "Aku harus lebih rajin!". Cukup bilang, "Saat ini, aku izinkan diriku merasa sedih dan kecewa. Ini manusiawi."

Ketika Puan sudah memberi ruang, sekarang waktunya kita masuk lebih dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

I – Investigate (Menyelidiki)

Di tahap ini, Puan nggak cuma liat permukaannya, tapi juga harus cari tahu: "Kenapa ya perasaan ini muncul?" dan "Apa sih dampaknya ke tubuhku?"

Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang aku percayai saat ini sampai aku merasa sesedih ini?" Mungkin ada ketakutan lama yang muncul lagi, atau ada ekspektasi yang terlalu tinggi. Sambil bertanya, rasakan juga sensasi fisiknya. Apakah dada terasa sesak? Apakah perut melilit?

Contohnya: Pas Puan merasa cemas luar biasa sebelum meeting, coba selidiki: "Kenapa aku secemas ini? Oh, ternyata karena aku takut kalau aku salah bicara, orang bakal mikir aku nggak kompeten." Lalu sadari dampaknya: "Ternyata pikiran ini bikin pundakku tegang banget dan napasku jadi pendek-pendek."

Setelah Puan tahu akar masalahnya dan gimana emosi itu menyiksa perasaan dan tubuh Puan, langkah terakhir ini adalah cara mengobatinya.

 

N – Nurture (Merawat)

Inilah momen Puan untuk memberikan kasih sayang ke diri sendiri. Tanyakan: "Apa yang paling aku butuhkan saat ini?" Mungkin Puan butuh kata-kata penyemangat, atau sekadar pengakuan bahwa situasi ini memang berat.

Contohnya: Puan bisa meletakkan tangan di dada sambil berbisik ke diri sendiri: "Pantesan kamu cemas, ternyata kamu punya beban pikiran seberat itu ya. I'm here for you. Kamu nggak sendirian hadapi ini."

Gimana, Puan? RAIN itu memang nggak bisa menghentikan badai emosi, tapi bisa memeluk Puan agar tetap aman dan hangat. Awalnya mungkin terasa canggung, tapi kalau sering dipraktekkan, Puan bakal jadi pribadi yang lebih tangguh dan punya self-compassion yang kuat.


Sekilas tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Edwards, K. (2022, November 30). 4 Lessons from Radical Compassion by Tara Brach. Keith Edwards PhD - Speaker Author Coach. https://keithedwards.com/2022/11/30/4-lessons-from-radical-compassion-by-tara-brach/ 

Merrick, J. (2020, Januari 2). Blog - RAIN: A Practice of Radical Compassion. Tara Brach. https://www.tarabrach.com/rain-practice-radical-compassion/


Author & Editor:

Dwi Khumaeroh Saadah


Komentar

Rubik Puan Popular

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...

The Power of Manifesting: Biarkan Pikiranmu Percaya dan Semesta yang Bekerja

    Image by: Pinterest                Pernah nggak sih Puan ngerasa kayak, “kok hidup aku stuck di sini-sini aja ya?” Padahal di dalam hati, Puan punya banyak banget keinginan, mimpi, bahkan goals yang pengen banget diwujudkan. Tapi di sisi lain, ngerasa semua hal itu nggak pernah jadi kenyataan dan bikin diri sendiri jadi ragu kalau mimpi yang pengen dicapai mungkin ketinggian? Nah, kalau Puan lagi ada di fase ini, coba pause sebentar deh. Mungkin, bukan Puan yang mimpinya ketinggian, tapi cara Puan ngeliat dan ngejalanin mimpi itu yang perlu diubah. Yup, di sinilah manifesting mulai punya peran penting.  Apa Sih Maksud dari “ Manifesting ” Itu? M anifesting adalah proses untuk mewujudkan apa yang Puan inginkan jadi kenyataan. Melewati pikiran, perasaan, dan tindakan. Di dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne, dijelaskan bahwa apa yang Puan fokuskan secara konsisten itu bisa loh memengaruhi apa yang kita tarik ke dalam hidu...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

Magang atau Kuliah Dulu? Ini Panduan Biar Kamu Tetap On Track di Dunia Kampus & Karier

Image by: hotcourses.co.id Puan, pernah nggak sih, ngerasa kayak lagi di persimpangan hidup? Di satu sisi, Puan ingin fokus kuliah, ngerjain tugas, dan jaga IP biar tetap aman, tapi di sisi lain, teman-teman Puan udah banyak yang sibuk update LinkedIn atau magang di perusahaan keren? Sementara kita baru ngerjain makalah tiga bab aja udah ngos-ngosan. Lalu muncul pertanyaan “Aku harus fokus kuliah dulu, atau mulai magang biar nggak ketinggalan ya?” Tenang, Puanners. Kalau kamu lagi ada di fase itu, kamu nggak sendirian, dan jawabannya adalah nggak harus pilih salah satu. Kuncinya bukan di urutannya, melainkan di bagaimana Puan menemukan keseimbangan dan arah dari keduanya. Kuliah Adalah Fondasi, Magang Adalah Jembatannya Kuliah itu bukan cuma tentang IP dan SKS, melainkan juga waktu untuk membentuk cara berpikir dan mengenali diri. Sementara magang jadi tempat untuk menerapkan semua teori yang udah Puan pelajari di kelas. Keduanya penting, tapi porsinya bisa beda-beda tergantung Puan la...

Mengatasi Perbandingan Sosial: Menggenggam Self-Acceptance di Era Media Sosial

Pernahkah Puan merasa terjebak dalam erangkap perbandingan tak berujung di era media sosial? Melihat orang lain yang tampak lebih sukses, lebih berprestasi, atau lebih cantik dari Puan dapat membuat Puan merasa minder. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Mengapa aku tidak sebaik dia?" atau "Mengapa hidupnya tampak lebih sempurna daripada milikku?" mungkin telah menghantui pikiran Puan. Jangan khawatir, Puan tidak sendirian! Perasaan-perasaan ini adalah hal yang wajar, terutama dalam dunia yang semakin terhubung dan serba kompetitif seperti masa kini. Namun, penting bagi Puan sebagai perempuan masa kini untuk memahami bahwa self-acceptance (penerimaan diri) adalah kunci utama untuk menggenggam kekuatan sejati dan menemukan kedamaian dalam hidup. Self-acceptance bukanlah proses instan, melainkan perjalanan emosional yang membutuhkan waktu dan dedikasi.  Dalam perjalanan ini, penerimaan diri mengajarkan Puan untuk mencintai dan menerima diri sendiri dengan segala kelebiha...