Langsung ke konten utama

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Radical Compassion: Seni Memeluk Badai Emosi dengan Kasih Sayang

 

Photo by: Tara Brach

Puan ngerasa nggak sih, kalau pengkritik paling kejam dalam hidup itu justru diri kita sendiri? Kita sering banget nuntut diri buat tampil sempurna. Pas gagal sedikit atau bikin salah kecil, langsung deh: “Duh, kayaknya aku emang nggak bakat deh di sini," atau "Kenapa sih tadi aku ngomong gitu? Malu-maluin banget!"

Di sinilah pentingnya Self-Compassion. Puan, self-compassion itu bukan berarti manjain diri atau malas-malasan, ya. Tapi itu adalah keberanian untuk memperlakukan diri sendiri selayaknya memperlakukan sahabat tersayang, dengan lembut, sabar, dan pengertian.

Baca juga: Gagal? Nggak Masalah! Waktunya Belajar Sayang Sama Diri Sendiri


Seorang psikolog sekaligus guru mindfulness, Tara Brach, memperkenalkan sebuah metode meditasi ringan untuk self-compassion dalam bukunya Radical Compassion. Metode ini disebut RAIN dan ngajak kita buat berhenti perang sama emosi negatif dan mulai memeluknya.

Yuk, kita cari tahu langkah-langkah RAIN supaya Puan bisa lebih gentle sama diri sendiri.

 

R – Recognize (Mengenali)

Langkah pertama adalah jadi pengamat yang jujur. Saat emosi negatif datang, jangan langsung tenggelam di dalamnya. Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang lagi terjadi di dalam diriku sekarang?"

Kenali tanpa menghakimi. Puan nggak perlu merasa bersalah dan cukup kasih nama ke perasaan itu supaya dia nggak liar ke mana-mana.

Contohnya: Puan bisa ngomong dalam hati, "Oh, aku lagi ngerasa malu dan ada suara di kepalaku yang bilang kalau aku ini gagal karena tugasku direvisi terus." Dengan menyebut namanya, beban itu biasanya mulai terasa sedikit lebih ringan.

Setelah Puan berhasil mengenali si emosi "gagal" ini, tantangan berikutnya adalah jangan langsung buru-buru pengen ngusir dia atau langsung maksa buat positive thinking.

 

A – Allow (Mengizinkan)

Ini bagian yang paling menantang buat kita yang terbiasa harus selalu terlihat okay. Allowing artinya membiarkan perasaan itu ada, sesakit apa pun itu. Jangan dilawan, jangan ditekan, dan jangan coba-coba langsung cari solusinya.

Katakan dalam hati, "Ya, ini memang terjadi," atau "Nggak apa-apa kalau sekarang aku merasa begini."

Contohnya: Saat Puan merasa gagal karena dapet nilai jelek, jangan langsung bilang "Aku harus lebih rajin!". Cukup bilang, "Saat ini, aku izinkan diriku merasa sedih dan kecewa. Ini manusiawi."

Ketika Puan sudah memberi ruang, sekarang waktunya kita masuk lebih dalam untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

I – Investigate (Menyelidiki)

Di tahap ini, Puan nggak cuma liat permukaannya, tapi juga harus cari tahu: "Kenapa ya perasaan ini muncul?" dan "Apa sih dampaknya ke tubuhku?"

Coba tanya ke diri sendiri: "Apa yang aku percayai saat ini sampai aku merasa sesedih ini?" Mungkin ada ketakutan lama yang muncul lagi, atau ada ekspektasi yang terlalu tinggi. Sambil bertanya, rasakan juga sensasi fisiknya. Apakah dada terasa sesak? Apakah perut melilit?

Contohnya: Pas Puan merasa cemas luar biasa sebelum meeting, coba selidiki: "Kenapa aku secemas ini? Oh, ternyata karena aku takut kalau aku salah bicara, orang bakal mikir aku nggak kompeten." Lalu sadari dampaknya: "Ternyata pikiran ini bikin pundakku tegang banget dan napasku jadi pendek-pendek."

Setelah Puan tahu akar masalahnya dan gimana emosi itu menyiksa perasaan dan tubuh Puan, langkah terakhir ini adalah cara mengobatinya.

 

N – Nurture (Merawat)

Inilah momen Puan untuk memberikan kasih sayang ke diri sendiri. Tanyakan: "Apa yang paling aku butuhkan saat ini?" Mungkin Puan butuh kata-kata penyemangat, atau sekadar pengakuan bahwa situasi ini memang berat.

Contohnya: Puan bisa meletakkan tangan di dada sambil berbisik ke diri sendiri: "Pantesan kamu cemas, ternyata kamu punya beban pikiran seberat itu ya. I'm here for you. Kamu nggak sendirian hadapi ini."

Gimana, Puan? RAIN itu memang nggak bisa menghentikan badai emosi, tapi bisa memeluk Puan agar tetap aman dan hangat. Awalnya mungkin terasa canggung, tapi kalau sering dipraktekkan, Puan bakal jadi pribadi yang lebih tangguh dan punya self-compassion yang kuat.


Sekilas tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Edwards, K. (2022, November 30). 4 Lessons from Radical Compassion by Tara Brach. Keith Edwards PhD - Speaker Author Coach. https://keithedwards.com/2022/11/30/4-lessons-from-radical-compassion-by-tara-brach/ 

Merrick, J. (2020, Januari 2). Blog - RAIN: A Practice of Radical Compassion. Tara Brach. https://www.tarabrach.com/rain-practice-radical-compassion/


Author & Editor:

Dwi Khumaeroh Saadah


Komentar

Rubik Puan Popular

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

4 Film yang Bisa Meningkatkan Kecerdasan Otak Kamu

  Source: (iStockphoto/JNemchinova) Siapa di sini yang gemar banget nonton film atau drama korea pas waktu luang? Banyak dong pastinya. Puan lebih senang nonton film atau drama korea dengan genre apa, nih? Terlepas dari apa genre yang Puan gemari, di sini ada beberapa rekomendasi film yang bisa kamu tonton ketika mengisi luangmu. Tidak hanya bersifat menghibur saja, tetapi film-film ini bisa meningkatkan kecerdasan otak kamu, lho , Puan! Apa saja film-film tersebut? Yuk, simak di bawah ini! 1. Murder on the Orient Express Film yang satu ini diangkat dari novel karangan Agatha Chrisie pada salah satu kasus Hercule Poirot miliknya. Berdurasi selama 1 jam 54 menit, Kennet Bragnagh (Sutradara) dan Michael Green (penulis naskah) menyematkan banyak perbedaan dari novelnya namun memang secara keseluruhan plot-nya tidak terlalu jauh melenceng. Di film ini, Puan diajak untuk memecah misteri mengenai pelaku pembunuhan seseorang di kereta. 2. Zodiac Siapa yang gemar menonton Iron Man di sini?...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...