Langsung ke konten utama

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Menggaet Ribuan Views, Inilah Perjalanan Puan Bisa Ambassador #4


Jakarta, 14 Februari 2026 - Komunitas Puan Bisa resmi membuka program tahunan, Puan Bisa Ambassador #4 melalui acara Warm Greeting yang diselenggarakan pada Kamis, 3 Juli 2025. Kegiatan Puan Bisa Ambassador dilaksanakan full secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh lebih dari 100 orang perempuan dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan visi dan misi komunitas, rangkaian program, serta sistem seleksi terbaru yang kini terdiri dari dua tahap, termasuk penambahan Group Project sebagai bentuk komitmen terhadap nilai Empowerment yang diusung Puan Bisa. Dalam seleksi Puan Bisa Ambassador, Tahap pertama adalah seleksi administratif, dan tahap kedua adalah penilaian melalui partisipasi dalam tiga sesi bootcamp yang terdiri dari topik Mental Health, Career, dan Self Improvement.

Menelisik Rangkaian Puan Bisa Ambassador

Program Puan Bisa Ambassador (PBA) menghadirkan tiga bootcamp tematik untuk meningkatkan kapasitas peserta sebagai calon duta Puan Bisa.

1. Bootcamp 1: Mental Health

Bertema “Quarter Life Chaos: When You’re 20s and Clueless”, sesi ini dibawakan oleh Kak Niswah Azizah, S.Psi. Materi membahas fase Quarter Life Crisis (QLC) yang umum dialami di usia 20-an. QLC dijelaskan bukan sebagai gangguan mental, melainkan fase perkembangan dengan tantangan emosional, sosial, dan karier. Peserta diajak untuk mengenali diri, membangun self-awareness, serta menyikapi krisis dengan sehat.

Sesi ditutup dengan tugas video reflektif bertema “A Day in My Life – Handle The Chaos” dan “Quarter Life Crisis Compass – Tell Your Story”.

2. Bootcamp 2: Career

Bertema “Finding Your Career Path: What To Do When You Feel Stuck and Uninspired”, dipandu oleh Kak Utari Widya Ardana. Materi berfokus pada penyebab stagnasi karier dan strategi menemukan kembali arah serta motivasi, seperti membangun rutinitas kecil, memberi ruang istirahat, dan fokus pada progres dibanding kesempurnaan.

Tugas akhir berupa video storytelling bertema “My Roller Coaster Ride of Career Journey” dengan format bebas.

3. Bootcamp 3: Self Improvement

Mengusung tema “Build Your Vibe: Personal Brand & Creative Confidence”, Kak Lucyana Natasya membahas pentingnya personal branding di era digital. Peserta didorong membangun citra diri positif, mengelola media sosial sebagai ruang peluang, dan memperkuat kepercayaan diri.

Tugas akhir berupa Personal Trailer – My Vibe, My Identity, video 2–3 menit tentang karakter, nilai, dan aspirasi peserta.

Next Level Puan Bisa Ambassador

Tahap 2 berlangsung pada 3 September 2025 hingga 31 Januari 2026, diikuti oleh 41 peserta terpilih yang dibagi ke dalam 8 kelompok untuk mengerjakan Group Project bertema Social Impact Campaign.

Mengangkat isu kesehatan mental di era digital, pengembangan diri dan karier, serta personal branding, peserta menjalankan kampanye melalui Live Instagram atau Webinar Edukasi yang didukung konten promosi di media sosial masing-masing. Puan Bisa Ambassador berhasil menggaet total 86.000+ views dari kedelapan tim.

Penilaian dilakukan oleh fasilitator dan jajaran C-Level Puan Bisa berdasarkan kreativitas, kejelasan pesan, dampak audiens, dan kualitas visual. Setelah menyelesaikan proyek, peserta resmi dikukuhkan sebagai Puan Bisa Ambassador dan aktif berkontribusi selama lima bulan sebagai representasi komunitas.

Graduation Puan Bisa Ambassador

Program ditutup dengan Graduation pada 31 Januari 2026 yang diisi dengan sharing session dan apresiasi Best Ambassador, yaitu Kak Revi Riski Putri, serta sesi feedback dan dokumentasi.

Keberhasilan Puan Bisa Ambassador #4 menjadi bukti komitmen Puan Bisa dalam memberdayakan perempuan muda untuk tumbuh sebagai agen perubahan. Melalui rangkaian inspiratif dan interaktif, peserta tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi diri dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.



Author: Zahara Nur'ain Fathin Bahiyati
Editor: Putri Audia Divayanti


Puan Bisa merupakan komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dengan fokus: Mental Health, Karier, dan Self-Improvement.

Komentar

Rubik Puan Popular

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

4 Film yang Bisa Meningkatkan Kecerdasan Otak Kamu

  Source: (iStockphoto/JNemchinova) Siapa di sini yang gemar banget nonton film atau drama korea pas waktu luang? Banyak dong pastinya. Puan lebih senang nonton film atau drama korea dengan genre apa, nih? Terlepas dari apa genre yang Puan gemari, di sini ada beberapa rekomendasi film yang bisa kamu tonton ketika mengisi luangmu. Tidak hanya bersifat menghibur saja, tetapi film-film ini bisa meningkatkan kecerdasan otak kamu, lho , Puan! Apa saja film-film tersebut? Yuk, simak di bawah ini! 1. Murder on the Orient Express Film yang satu ini diangkat dari novel karangan Agatha Chrisie pada salah satu kasus Hercule Poirot miliknya. Berdurasi selama 1 jam 54 menit, Kennet Bragnagh (Sutradara) dan Michael Green (penulis naskah) menyematkan banyak perbedaan dari novelnya namun memang secara keseluruhan plot-nya tidak terlalu jauh melenceng. Di film ini, Puan diajak untuk memecah misteri mengenai pelaku pembunuhan seseorang di kereta. 2. Zodiac Siapa yang gemar menonton Iron Man di sini?...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...