Langsung ke konten utama

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Siap Berdampak? Puan Bisa Ajak Perempuan Muda dalam Ruang Kolaborasi “Remaja Berproses Bukan Berubah!”

 

Puan Bisa - Siap Berdampak? Puan Bisa Ajak Perempuan Muda dalam Ruang Kolaborasi “Remaja Berproses Bukan Berubah!”

“Dari Puan Bisa sebagai Wadah untuk Para Perempuan Muda Tumbuh dan Berdaya”


Jakarta, 8 Februari 2026Mengusung semangat pertumbuhan yang inklusif, Puan Bisa turut hadir meramaikan gelaran “Remaja Berproses, Bukan Berubah” yang diadakan di Melting Pot, M Bloc. Gelaran yang diinisiasikan oleh komunitas Terus Berdampak ini menciptakan sebuah safe space bagi generasi muda untuk bertumbuh sesuai ritme unik mereka masing-masing. Semangat ini pun kian kuat dengan sinergi lintas komunitas, mulai dari Perempuan Masa Depan Indonesia, ASEAN Youth Disability Network, PowHerful Project, hingga Rumah Disabilitas Jakarta.

Puan Bisa hadir sebagai sebuah komunitas pemberdayaan perempuan yang mengambil peran dalam memberikan ruang bagi para perempuan muda Indonesia untuk berkembang terutama dalam 3 fokus utamanya yaitu mental health, career development, dan self-improvement. Puan Bisa memperkenalkan profil komunitasnya di hadapan audiens untuk menunjukkan pemberdayaan bukan tentang kompetisi, melainkan tentang kolaborasi dan penerimaan diri. Melalui fokus mental health, Puan Bisa memberikan pemahaman tentang pentingnya mencintai diri sendiri dan menyediakan sistem pendukung agar remaja perempuan tidak merasa sendirian dalam menghadapi kecemasan masa depan. Dalam aspek career development, komunitas ini membekali para perempuan muda dengan wawasan dunia kerja dan persiapan profesional agar mampu mandiri secara finansial. Sementara itu, pada pilar self-improvement, Puan Bisa mendorong setiap individu untuk terus mengasah keterampilan unik mereka, membuktikan bahwa berproses adalah perjalanan seumur hidup untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.



Setelah menyelami dunia pemberdayaan pemuda, rangkaian acara beralih ke sesi berikutnya yang tidak kalah krusial. Sebab, kita menyadari bahwa pertumbuhan seorang remaja perempuan tidak terjadi di ruang hampa; ia tumbuh dalam sebuah ekosistem bernama keluarga. Seringkali, ambisi dan mimpi yang membumbung tinggi menemui hambatan bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena adanya jurang komunikasi yang lebar antara orang tua dan anak.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, komunitas Terus Berdampak menghadirkan narasumber pakar psikologi, Irma Gustiana M. Psi., Psikolog dalam Seminar Parenting bertajuk: "Bridge The Gap: Menyatukan Dunia Orang Tua dan Remaja”

Seminar ini menjadi pengingat kuat bahwa pemberdayaan perempuan muda akan jauh lebih akseleratif ketika ia mendapat dukungan penuh dari ekosistem keluarga. Dengan sinergi yang harmonis, rumah tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan menjadi pelabuhan pertama di mana kepercayaan diri seorang perempuan muda dipupuk sebelum ia akhirnya melangkah untuk terus berdampak bagi dunia.


Author: Yasmin Nailah
Editor: Putri Audia Divayanti


Puan Bisa merupakan komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dengan fokus: Mental Health, Karier, dan Self-Improvement.

Komentar

Rubik Puan Popular

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

4 Film yang Bisa Meningkatkan Kecerdasan Otak Kamu

  Source: (iStockphoto/JNemchinova) Siapa di sini yang gemar banget nonton film atau drama korea pas waktu luang? Banyak dong pastinya. Puan lebih senang nonton film atau drama korea dengan genre apa, nih? Terlepas dari apa genre yang Puan gemari, di sini ada beberapa rekomendasi film yang bisa kamu tonton ketika mengisi luangmu. Tidak hanya bersifat menghibur saja, tetapi film-film ini bisa meningkatkan kecerdasan otak kamu, lho , Puan! Apa saja film-film tersebut? Yuk, simak di bawah ini! 1. Murder on the Orient Express Film yang satu ini diangkat dari novel karangan Agatha Chrisie pada salah satu kasus Hercule Poirot miliknya. Berdurasi selama 1 jam 54 menit, Kennet Bragnagh (Sutradara) dan Michael Green (penulis naskah) menyematkan banyak perbedaan dari novelnya namun memang secara keseluruhan plot-nya tidak terlalu jauh melenceng. Di film ini, Puan diajak untuk memecah misteri mengenai pelaku pembunuhan seseorang di kereta. 2. Zodiac Siapa yang gemar menonton Iron Man di sini?...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...