Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Boundaries Lost: Bahaya Menjadi People Pleaser

 

Image by Washington Post


Memang, ketika melihat orang-orang di sekitar kita bahagia karena perbuatan kita kepada mereka, hal tersebut akan turut menularkan kebahagiaan itu ke diri kita sendiri. Namun, mengatakan “iya” ke semua hal dan orang sampai membuat diri kamu lupa dengan kemauanmu sendiri bukanlah hal yang baik.

People Pleaser, sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Baik itu dalam bentuk perbuatan atau perkataan. People Pleaser akan melakukan hal apa saja demi melihat orang-orang di sekitarnya bahagia walaupun bertentangan dengan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Hal ini ia lakukan agar orang-orang tidak kecewa pada dirinya. (Dr. Susan Newman)

Takut orang-orang kecewa pada dirinya, maka People Pleaser cenderung mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Saking mengutamakan kepentingan orang lain, ia menjadi tidak terlalu mengenal dirinya sendiri. Menjadi sulit merasa apa yang ia rasa karena terlalu sibuk memperhatikan perasaan orang lain dan memenuhi keinginan mereka. Merasa selalu bertanggungjawab atas perasaan orang-orang di sekitarnya, People Pleaser menjadi seorang yang sering minta maaf meskipun kesalahan bukan berasal dari mereka. Mereka meyakini bahwa ketika mereka memberikan segalanya kepada orang lain, mereka akan tetap dicintai dan orang-orang di sekitarnya tidak akan merasa kecewa kepada dirinya.

Tanda-Tanda People Pleaser

Contoh

1. Kamu tidak memedulikan kondisimu demi membantu orang lain.

“Walaupun aku sedang tidak enak badan tapi aku akan membantu dia”

“Tidak jadi istirahat deh, aku harus bantu dia ngerjain tugasnya”

2. Kamu merasa bertanggung jawab dengan kebahagiaan mereka.

“Dia kenapa tidak senang ya? aku harus melakukan sesuatu agar dia senang”

“Aku seharusnya tidak boleh begini, nanti dia akan kecewa kepadaku”

3. Kamu mudah ‘setuju’ dengan pendapat mereka yang tidak sejalan denganmu.

“Emm, boleh aku setuju dengan pendapat kamu”

“Aku ikut aja, setuju kok”

4. Kamu mudah meminta maaf

“Aku minta maaf ya..”

Padahal terkadang, kamu tidak perlu meminta maaf untuk menjadi dirimu sendiri.

5. Kamu selalu merasa tidak nyaman ketika seseorang marah kepadamu

“Jangan marah..”

“Kamu marah ya? aku minta maaf ya..”

Hentikan kebiasaan ini, tidak ada salahnya ketika kamu ingin beristirahat dan tidak membantu teman kamu. Sadari bahwa dengan mengatakan “tidak” bukan suatu masalah yang besar. Mulai dari mengatakan “tidak” pada hal-hal yang kecil, mungkin ketika temanmu meminta bantuan dan pada saat itu kondisi tubuhmu sedang tidak fit. Kamu bisa mengatakan “tidak” dan menjelaskan alasanmu kepadanya. Tentu mereka pun akan memahaminya.

Mungkin sulit untuk melawan perasaan “enggak enak” di dalam diri kamu, tapi tidak ada salahnya mencoba. Jangan biarkan diri kamu tersiksa karena selalu mengikuti perkataan orang lain. Mulai sekarang kamu bisa set boundaries, utamakan dirimu sendiri. Karena pada akhirnya walaupun hidup saling tolong menolong namun yang paling utama dimulai dari diri kita sendiri yang mampu membantu kita berdiri. Jadi, sayangilah dirimu Puan, you don’t have to be sorry for being you.


Author : Namratul Ulya
Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...