Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Pertama Kali Magang? Tenang Aja, Priska Punya Survival Guide-nya!

 





Image by: deepseanews.com


Puan, magang bisa jadi pengalaman pertama yang membentuk karir kedepannya. Namun, buat kebanyakan orang, masa magang juga bisa jadi periode penuh tekanan, takut bikin salah, takut nggak dianggap serius, ataupun bingung harus mulai dari mana.

Tenang aja, Puan. Semua orang pernah ada di fase itu kok. Yang penting adalah Puan tahu kalau Puan nggak sendirian, dan Puan nggak harus perfect dari awal.

Dunia Kerja Itu Arena Baru

Kalau Puan merasa "shock" di minggu-minggu pertama, wajar banget kok karena dunia kerja punya ritme dan etika yang beda dari kampus. Misalnya, komunikasi di kantor cenderung lebih formal dan langsung. Selain itu, Puan nggak selalu dapet arahan detail, yang mana kadang Puan dituntut untuk inisiatif.

Puan Nggak Harus Tahu Semua, Tapi Harus Mau Belajar

Kadang Puan merasa harus terlihat pintar sejak hari pertama, tapi mindset seperti itu justru bisa bikin stres sendiri. Padahal, rasa ingin tahu seringkali jauh lebih penting daripada terlihat sempurna. Artinya, daripada sok tahu, lebih baik Puan aktif bertanya dan terbuka terhadap feedback yang ada.

Fokus ke Soft Skill, Nggak Cuma Hard Skill

Magang bukan soal ‘bisa Excel atau enggak’. Tapi juga:

  • Gimana Puan menjelaskan ide tanpa bikin orang bingung.

  • Gimana Puan respon tekanan, revisi, dan kritik.

  • Gimana Puan mengambil peran, bukan nunggu disuruh.

Menurut World Economic Forum (2020), skill yang paling dibutuhkan dunia kerja hari ini adalah emotional intelligence, problem solving, dan resilience.
Jadi jangan remehkan hal-hal kayak belajar ngomong dengan tenang saat deg-degan, atau latihan dengerin masukan tanpa defensif. Itu semua investasi jangka panjang buat Puan.

Set Boundaries Itu Bentuk Self-Respect

Ingin terlihat rajin itu sah-sah aja kok. Tapi hati-hati kalau Puan jadi nggak bisa bilang “cukup”. Kalau udah kewalahan, bisa sampaikan dengan cara yang sopan dan jelas. Boundary bukan hal egois, dan penting banget buat jangka panjang. Puan bisa lho bilang: “Gue lagi fokus kerjaan A nih, boleh ga kerjaan B disusul nanti?”

Respons seperti itu justru menunjukkan Puan profesional dan tahu mana yang prioritas.

Jangan Remehkan Relasi Kecil

Puan nggak harus langsung akrab sama semua orang kok, tapi boleh dicoba mulai dari hal kecil, seperti ngucapin terima kasih, balas email dengan sopan, dan sekali-sekali ikut nongkrong. Banyak kesempatan kerja datang bukan dari CV, tapi dari koneksi yang Puan bangun pelan-pelan.

Puan, magang bukan tempat buat unjuk kesempurnaan, justru ruang untuk bertumbuh. Puan nggak harus bisa langsung semua hal, tapi bisa terus belajar, satu tantangan, satu langkah kecil tiap hari itu sudah cukup.


Sumber

The Future of Jobs Report 2020
Mental health at work

Author & Editor: Diinaar F. Berlian



Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...