Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga!


Biasanya, kalau bicara soal manajemen waktu, yang terbayang adalah bagaimana caranya menyusun jadwal rapi atau membuat to-do list supaya semua tugas selesai tepat waktu. Namun sebenarnya, yang lebih penting dari waktu itu sendiri adalah energi yang Puan miliki saat mengerjakan sesuatu. 

Setiap orang punya pola energi yang berbeda, ada yang paling produktif di pagi hari, ada yang justru semangatnya meledak di malam hari. Kalau Puan bisa memahami kapan energi sedang penuh dan kapan mulai menurun, Puan bisa mengatur aktivitas sesuai kondisi itu agar hasilnya maksimal dan tidak membuat stres. 

Kenapa energi penting? Karena bekerja disaat capek dan pikiran tidak fokus justru membuat waktu terbuang sia-sia. Bayangkan Puan sedang mengantuk tapi memaksakan diri mengerjakan tugas berat, hasilnya justru lama selesai dan kualitasnya menurun. Sebaliknya, jika Puan bekerja saat energi sedang tinggi, meski waktunya singkat, hasilnya bisa jauh lebih optimal. Jadi, manajemen waktu terbaik sebenarnya adalah manajemen energi. 

Tips Manajemen Waktu Berbasis Energi untuk Puan: 

1. Kenali Ritme Energi Harian Puan: Catat kapan Puan merasa paling fokus dan penuh semangat. Gunakan waktu tersebut untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. 

2. Bagi Tugas Sesuai Level Energi: Kerjakan pekerjaan berat saat energi penuh, dan simpan tugas ringan saat energi mulai menurun, seperti membalas email atau rapat santai. 

3. Manfaatkan Waktu Singkat untuk Recharge: Misalnya saat antre atau perjalanan, Puan bisa mendengarkan podcast, latihan pernapasan, atau sekadar istirahat sejenak. 

4. Istirahat dengan Berkualitas: Jangan anggap rehat sebagai waktu terbuang, karena istirahat yang cukup menjaga fokus dan stamina Puan. 

5. Jangan Paksakan Diri: Fleksibilitas itu kunci. Jika Puan merasa lelah, beri ruang untuk istirahat daripada memaksakan diri yang justru membuat produktivitas menurun. 

6. Gunakan Alat Bantu yang Sesuai: Aplikasi atau jurnal yang membantu mencatat energi dan tugas bisa jadi alat ampuh untuk memaksimalkan waktu dan tenaga. 

Selain itu, penting bagi Puan untuk mengubah mindset soal waktu itu sendiri. Waktu tidak selalu harus diisi dengan kerja nonstop agar terlihat produktif. Kadang, memberi jeda pada diri sendiri seperti berjalan-jalan sebentar atau meditasi justru meningkatkan kreativitas dan kemampuan problem solving. Jadi, manajemen waktu yang sesungguhnya adalah mengelola kapan dan bagaimana Puan memakai energi supaya bukan hanya kerja selesai, tapi juga badan dan pikiran tetap sehat dan bahagia.

Jika Puan mulai menerapkan manajemen waktu berbasis energi ini, Puan akan sadar bahwa bukan jam yang jadi musuh atau sahabat, tapi bagaimana Puan memperlakukan energi di balik jam tersebut. Produktivitas jadi lebih natural dan tidak membuat Puan merasa kelelahan atau burnout. Jadi, yuk mulai dengarkan tubuh dan pikiran Puan, atur waktu dan energi, bukan cuma mengatur jam!


Referensi:




Author & Editor: Irda Adelina D 


Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...