Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...
Biasanya, kalau bicara soal manajemen waktu, yang terbayang adalah bagaimana caranya menyusun jadwal rapi atau membuat to-do list supaya semua tugas selesai tepat waktu. Namun sebenarnya, yang lebih penting dari waktu itu sendiri adalah energi yang Puan miliki saat mengerjakan sesuatu.
Setiap orang punya pola energi yang berbeda, ada yang paling produktif di pagi hari, ada yang justru semangatnya meledak di malam hari. Kalau Puan bisa memahami kapan energi sedang penuh dan kapan mulai menurun, Puan bisa mengatur aktivitas sesuai kondisi itu agar hasilnya maksimal dan tidak membuat stres.
Kenapa energi penting? Karena bekerja disaat capek dan pikiran tidak fokus justru membuat waktu terbuang sia-sia. Bayangkan Puan sedang mengantuk tapi memaksakan diri mengerjakan tugas berat, hasilnya justru lama selesai dan kualitasnya menurun. Sebaliknya, jika Puan bekerja saat energi sedang tinggi, meski waktunya singkat, hasilnya bisa jauh lebih optimal. Jadi, manajemen waktu terbaik sebenarnya adalah manajemen energi.
Tips Manajemen Waktu Berbasis Energi untuk Puan:
1. Kenali Ritme Energi Harian Puan: Catat kapan Puan merasa paling fokus dan penuh semangat. Gunakan waktu tersebut untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
2. Bagi Tugas Sesuai Level Energi: Kerjakan pekerjaan berat saat energi penuh, dan simpan tugas ringan saat energi mulai menurun, seperti membalas email atau rapat santai.
3. Manfaatkan Waktu Singkat untuk Recharge: Misalnya saat antre atau perjalanan, Puan bisa mendengarkan podcast, latihan pernapasan, atau sekadar istirahat sejenak.
4. Istirahat dengan Berkualitas: Jangan anggap rehat sebagai waktu terbuang, karena istirahat yang cukup menjaga fokus dan stamina Puan.
5. Jangan Paksakan Diri: Fleksibilitas itu kunci. Jika Puan merasa lelah, beri ruang untuk istirahat daripada memaksakan diri yang justru membuat produktivitas menurun.
6. Gunakan Alat Bantu yang Sesuai: Aplikasi atau jurnal yang membantu mencatat energi dan tugas bisa jadi alat ampuh untuk memaksimalkan waktu dan tenaga.
Selain itu, penting bagi Puan untuk mengubah mindset soal waktu itu sendiri. Waktu tidak selalu harus diisi dengan kerja nonstop agar terlihat produktif. Kadang, memberi jeda pada diri sendiri seperti berjalan-jalan sebentar atau meditasi justru meningkatkan kreativitas dan kemampuan problem solving. Jadi, manajemen waktu yang sesungguhnya adalah mengelola kapan dan bagaimana Puan memakai energi supaya bukan hanya kerja selesai, tapi juga badan dan pikiran tetap sehat dan bahagia.
Jika Puan mulai menerapkan manajemen waktu berbasis energi ini, Puan akan sadar bahwa bukan jam yang jadi musuh atau sahabat, tapi bagaimana Puan memperlakukan energi di balik jam tersebut. Produktivitas jadi lebih natural dan tidak membuat Puan merasa kelelahan atau burnout. Jadi, yuk mulai dengarkan tubuh dan pikiran Puan, atur waktu dan energi, bukan cuma mengatur jam!
Referensi:
Author & Editor: Irda Adelina D

Komentar
Posting Komentar