Langsung ke konten utama

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...

Kenapa Kita Memilih Diam Padahal Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Diam yang Dipelajari dari Internalized Stigma

 

Image by: aDDitude magazine

 “What is most personal is most universal.”  Carl Rogers

Puan pernah ngga sih merasa capek, tapi tetap bilang “nggak apa-apa”? Atau lagi butuh bantuan, tapi malah berpikir, “Ah, nanti dibilang lebay.” Akhirnya dipendam, keep saving, dikuat-kuatin sendiri. Diam seperti ini jarang terjadi begitu saja. Ia sering kali adalah hasil dari sesuatu yang kita pelajari pelan-pelan sepanjang hidup: internalized stigma.

Apa itu internalized stigma?

Internalized stigma adalah proses ketika seseorang menyerap stigma sosial yang ada di lingkungannya, lalu mengarahkannya ke diri sendiri. Seperti dijelaskan oleh Corrigan & Watson (2002), internalized stigma terjadi ketika individu “menerima stereotip negatif tentang kelompoknya dan menjadikannya bagian dari konsep diri.” Artinya, suara yang meremehkan kita sering kali bukan suara kita sendiri, namun suara-suara orang  sekitar yang terlalu lama kita dengar. Peneliti Livingston & Boyd (2010) juga menjelaskan bahwa internalized stigma berkaitan erat dengan penurunan harga diri, rasa malu, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Sederhananya, stigma tidak berhenti di luar. Ia masuk, menetap, lalu berbicara dari dalam.

Kenapa ini membuat kita memilih diam?

Dalam berbagai konteks kehidupan sekarang, diam sering terasa lebih aman daripada jujur. Kita hidup di budaya yang memuji “kuat”, “tahan banting”, dan “nggak baper”. Tanpa sadar, pesan itu membentuk aturan tak tertulis: jangan mengeluh, jangan merepotkan, jangan terlihat lemah. Internalized stigma bekerja di balik layar. Ia membuat kita percaya bahwa:

  1. perasaan kita berlebihan

  2. kebutuhan kita tidak sepenting orang lain

  3. luka kita seharusnya bisa diatasi sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internalized stigma tinggi cenderung menghindari mencari bantuan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya (Corrigan et al., 2014). Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena merasa tidak pantas untuk dibantu. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan bebas, ia menjadi refleks. Silence culture dalam
kehidupan sehari-hari. Silence culture tidak selalu berupa larangan berbicara. Ia sering tampil lebih halus, misalnya terbiasa bilang “aku fine” padahal jelas tidak, menunda cerita sampai emosi keburu mati rasa, merasa bersalah setelah jujur soal perasaan. Saat berada di tempat kerja, ini terlihat dari orang-orang yang kelelahan tapi takut dicap tidak profesional. Pada acara keluarga, dari anak yang belajar bahwa menangis berarti lemah. Lingkungan pertemanan, dari kebiasaan menyembunyikan luka agar tetap “menyenangkan” Semua ini bukan kebetulan. Ini pola yang diwariskan.

Dampak jangka panjang dari diam yang dipelajari yakni diam yang terus dipelihara tidak membuat masalah hilang. Ia hanya mengubah bentuk. Penelitian Livingston & Boyd (2010) menemukan bahwa internalized stigma berkaitan dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan isolasi sosial. Ketika emosi tidak diberi ruang, ia sering muncul sebagai kelelahan kronis, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Yang melelahkan bukan hanya masalahnya, tapi usaha terus-menerus untuk terlihat “baik-baik saja”. Pelan-pelan keluar dari silence culture. Keluar dari pola ini tidak harus dramatis. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih aman.

1. Sadari bahwa diam itu dipelajari

Kalau ini dipelajari, artinya bisa dipelajari ulang. Ini bukan cacat karakter.

2. Mulai dari kejujuran kecil

Tidak harus cerita panjang. Kalimat sederhana seperti “aku lagi capek hari ini” sudah cukup melawan stigma.

3. Bedakan privasi dan penekanan

Menjaga batas itu sehat. Memendam karena takut dinilai, itu melelahkan.

4. Pilih ruang yang aman

Tidak semua orang perlu tahu. Satu orang yang bisa mendengar tanpa menghakimi sudah sangat berarti.

5. Periksa suara di kepala

Saat muncul pikiran “aku lebay”, Puan bisa tanya dengan “ini suaraku, atau suara stigma orang lain?

Pada akhirnya, memilih diam saat tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan hasil dari pola yang kita serap sejak lama. Internalized stigma membuat banyak dari kita belajar bahwa bertahan lebih dihargai daripada jujur. Padahal, keberanian sejati seringkali justru dimulai dari mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dengan menyadari pola ini, Puan punya kesempatan untuk perlahan mengambil kembali suara sendiri tanpa harus berteriak, cukup dengan berhenti memendam.


Referensi

Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). The paradox of self-stigma and mental illness. Clinical Psychology: Science and Practice, 9(1), 35–53.

Corrigan, P. W., Druss, B. G., & Perlick, D. A. (2014). The impact of mental illness stigma on seeking and participating in mental health care. Psychological Science in the Public Interest, 15(2), 37–70.

Livingston, J. D., & Boyd, J. E. (2010). Correlates and consequences of internalized stigma for people living with mental illness: A systematic review and meta-analysis. Social Science & Medicine, 71(12), 2150–2161.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending

Puan, pernah dengar kalimat ini? " Most people don't have a money problem, they have an emotional problem. " Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah. Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kadang yang Puan beli bukan barangnya Coba deh, Puan ingat-ingat. Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop ? Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward ." Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi? Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian. Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan...

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

Bicara pada Diri Sendiri: Bermanfaat atau Berbahaya?

  Photo by Tara Winstead Tanpa sadar, kita terkadang mendapati diri sedang berbicara sendirian. Pernah tiba-tiba bergumam, "Oke, waktunya kita makan," atau bertanya seolah ada orang lain di dalam diri kita, "Eh, ini lokasinya benar gak, ya?" Entah itu bergumam saat kebingungan, memberikan motivasi saat kesulitan, atau menyuarakan isi pikiran seperti sedang berada di acara podcast , semua itu sangat wajar dan normal . Berbicara pada diri sendiri bisa menjadi alat komunikasi internal yang kuat. Kebiasaan ini juga dikenal dengan istilah self-talk dalam psikologi. Menariknya, seiring bertambah dewasa, frekuensi berbicara pada diri sendiri cenderung berkurang, tidak seintens saat kita masih kecil. Apa itu self-talk? Self-talk atau bicara sendirian adalah cara kita berkomunikasi pada diri sendiri, baik itu dalam hati atau diucapkan dengan keras. Kebiasaan ini punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Oleh karena itu, penting sekali untu...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Kenapa Kita Sering Bertindak Tanpa Berpikir Panjang? Yuk Kenalan Sama Perilaku Impulsif!

  Image by:  Headspace.com Puan pernah nggak sih tiba-tiba beli sesuatu yang sebenernya nggak butuh-butuh amat cuma karena lagi diskon? Atau mungkin langsung nge-reply chat dengan emosi tanpa mikir dulu bakal nyakitin orang atau nggak? Nah, perilaku kayak gini namanya impulsif. Meskipun kadang terlihat spontan dan fun , kalau terlalu sering, impulsif bisa bikin hidup kita berantakan, dari keuangan sampai hubungan dengan orang lain. Baca Juga:  Why Feeling Lost Can Be Part of Finding Yourself Apa Itu Perilaku Impulsif? Menurut Verywell Mind, impulsivitas atau perilaku impulsif didefinisikan secara luas sebagai tindakan tanpa perencanaan yang kurang dipikirkan matang, diekspresikan secara prematur, terlalu berisiko, dan tidak sesuai dengan situasinya. Perilaku impulsif ini dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan, bukan yang diharapkan. Jadi orang yang impulsif ini sering bertindak berdasarkan keinginan atau emosi sesaat, tanpa jeda untuk mikir konsekuensinya. Kenapa O...