Langsung ke konten utama

Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!

Image by: Pinterest Puan, kalau dengar kata Ramadhan, biasanya yang langsung kepikiran apa? Kata sahur, buka, nahan lapar, nahan haus, dan nahan amarah ya?  Tapi pernah nggak kepikiran kalau Ramadhan itu sebenarnya lagi ngajarin kita tentang detox diri? Yup, nggak cuma detoks fisik aja, tapi juga detox pikiran. Karena kalau mau jujur, yang bikin capek di bulan puasa itu kadang bukan aktivitasnya. Bukan juga jadwal yang padat. Tapi isi kepala kita sendiri. Contohnya buka media sosial sebentar, tau-tau langsung insecure terus bilang “Kok dia udah sejauh itu ya?” Atau waktu lihat teman yang aktif, Puan malah mikir “Kenapa hidup aku kayaknya stuck ?”, “Orang lain keliatan produktif banget, aku kok gini-gini aja ya?”  Tanpa sadar, kita lebih sering membandingkan daripada menikmati proses. Padahal Ramadhan datang buat ngajarin kita hal penting: tentang pelan-pelan, sadar, dan kembali ke diri sendiri. Apa Sih Maksudnya “ Detox Pi...

Kenapa Kita Memilih Diam Padahal Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Diam yang Dipelajari dari Internalized Stigma

 

Image by: aDDitude magazine

 “What is most personal is most universal.”  Carl Rogers

Puan pernah ngga sih merasa capek, tapi tetap bilang “nggak apa-apa”? Atau lagi butuh bantuan, tapi malah berpikir, “Ah, nanti dibilang lebay.” Akhirnya dipendam, keep saving, dikuat-kuatin sendiri. Diam seperti ini jarang terjadi begitu saja. Ia sering kali adalah hasil dari sesuatu yang kita pelajari pelan-pelan sepanjang hidup: internalized stigma.

Apa itu internalized stigma?

Internalized stigma adalah proses ketika seseorang menyerap stigma sosial yang ada di lingkungannya, lalu mengarahkannya ke diri sendiri. Seperti dijelaskan oleh Corrigan & Watson (2002), internalized stigma terjadi ketika individu “menerima stereotip negatif tentang kelompoknya dan menjadikannya bagian dari konsep diri.” Artinya, suara yang meremehkan kita sering kali bukan suara kita sendiri, namun suara-suara orang  sekitar yang terlalu lama kita dengar. Peneliti Livingston & Boyd (2010) juga menjelaskan bahwa internalized stigma berkaitan erat dengan penurunan harga diri, rasa malu, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Sederhananya, stigma tidak berhenti di luar. Ia masuk, menetap, lalu berbicara dari dalam.

Kenapa ini membuat kita memilih diam?

Dalam berbagai konteks kehidupan sekarang, diam sering terasa lebih aman daripada jujur. Kita hidup di budaya yang memuji “kuat”, “tahan banting”, dan “nggak baper”. Tanpa sadar, pesan itu membentuk aturan tak tertulis: jangan mengeluh, jangan merepotkan, jangan terlihat lemah. Internalized stigma bekerja di balik layar. Ia membuat kita percaya bahwa:

  1. perasaan kita berlebihan

  2. kebutuhan kita tidak sepenting orang lain

  3. luka kita seharusnya bisa diatasi sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internalized stigma tinggi cenderung menghindari mencari bantuan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya (Corrigan et al., 2014). Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena merasa tidak pantas untuk dibantu. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan bebas, ia menjadi refleks. Silence culture dalam
kehidupan sehari-hari. Silence culture tidak selalu berupa larangan berbicara. Ia sering tampil lebih halus, misalnya terbiasa bilang “aku fine” padahal jelas tidak, menunda cerita sampai emosi keburu mati rasa, merasa bersalah setelah jujur soal perasaan. Saat berada di tempat kerja, ini terlihat dari orang-orang yang kelelahan tapi takut dicap tidak profesional. Pada acara keluarga, dari anak yang belajar bahwa menangis berarti lemah. Lingkungan pertemanan, dari kebiasaan menyembunyikan luka agar tetap “menyenangkan” Semua ini bukan kebetulan. Ini pola yang diwariskan.

Dampak jangka panjang dari diam yang dipelajari yakni diam yang terus dipelihara tidak membuat masalah hilang. Ia hanya mengubah bentuk. Penelitian Livingston & Boyd (2010) menemukan bahwa internalized stigma berkaitan dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan isolasi sosial. Ketika emosi tidak diberi ruang, ia sering muncul sebagai kelelahan kronis, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Yang melelahkan bukan hanya masalahnya, tapi usaha terus-menerus untuk terlihat “baik-baik saja”. Pelan-pelan keluar dari silence culture. Keluar dari pola ini tidak harus dramatis. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih aman.

1. Sadari bahwa diam itu dipelajari

Kalau ini dipelajari, artinya bisa dipelajari ulang. Ini bukan cacat karakter.

2. Mulai dari kejujuran kecil

Tidak harus cerita panjang. Kalimat sederhana seperti “aku lagi capek hari ini” sudah cukup melawan stigma.

3. Bedakan privasi dan penekanan

Menjaga batas itu sehat. Memendam karena takut dinilai, itu melelahkan.

4. Pilih ruang yang aman

Tidak semua orang perlu tahu. Satu orang yang bisa mendengar tanpa menghakimi sudah sangat berarti.

5. Periksa suara di kepala

Saat muncul pikiran “aku lebay”, Puan bisa tanya dengan “ini suaraku, atau suara stigma orang lain?

Pada akhirnya, memilih diam saat tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan hasil dari pola yang kita serap sejak lama. Internalized stigma membuat banyak dari kita belajar bahwa bertahan lebih dihargai daripada jujur. Padahal, keberanian sejati seringkali justru dimulai dari mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dengan menyadari pola ini, Puan punya kesempatan untuk perlahan mengambil kembali suara sendiri tanpa harus berteriak, cukup dengan berhenti memendam.


Referensi

Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). The paradox of self-stigma and mental illness. Clinical Psychology: Science and Practice, 9(1), 35–53.

Corrigan, P. W., Druss, B. G., & Perlick, D. A. (2014). The impact of mental illness stigma on seeking and participating in mental health care. Psychological Science in the Public Interest, 15(2), 37–70.

Livingston, J. D., & Boyd, J. E. (2010). Correlates and consequences of internalized stigma for people living with mental illness: A systematic review and meta-analysis. Social Science & Medicine, 71(12), 2150–2161.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

Dua Peran, Satu Energi: Memahami ROLE STRAIN pada Mahasiswa Profesional

Image by: Marketivate “You can do anything, but not everything” - David Allen Puan pernah nggak sih merasa seperti hidup dalam dua mode aktif sekaligus? Siang sampai sore harus mode profesional dan dituntut untuk akademik, malam mode ambis yang harus nyelesaiin semua deadline kerjaan.  Terkadang rasanya bukan soal capek secara fisik, melainkan malah kelelahan secara pikiran dan batin yang terus memikikirkan “mau ngejar apa sih di dunia ini?” “mau jadi siapa sih?” Inilah yang dinamakan role strain. Apa Itu Role Strain? Psikologi sosial menjelaskan bahwa kondisi ini dikenal sebagai role strain atau ketegangan peran. Istilah ini diperkenalkan oleh sosiolog Willian J. Goode (1960), yang menjelaskan bahwa setiap individu memiliki berbagai peran sosial, dan setiap peran membawa tuntutan yang bisa saling bertabrakan. Role strain terjadi ketika tuntutan dari satu peran melebihi kapasitas individu untuk memenuhinya, atau ketika dua peran berbeda menuntut energi pada waktu yang bersamaan....

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!

Image by: Pinterest Puan, kalau dengar kata Ramadhan, biasanya yang langsung kepikiran apa? Kata sahur, buka, nahan lapar, nahan haus, dan nahan amarah ya?  Tapi pernah nggak kepikiran kalau Ramadhan itu sebenarnya lagi ngajarin kita tentang detox diri? Yup, nggak cuma detoks fisik aja, tapi juga detox pikiran. Karena kalau mau jujur, yang bikin capek di bulan puasa itu kadang bukan aktivitasnya. Bukan juga jadwal yang padat. Tapi isi kepala kita sendiri. Contohnya buka media sosial sebentar, tau-tau langsung insecure terus bilang “Kok dia udah sejauh itu ya?” Atau waktu lihat teman yang aktif, Puan malah mikir “Kenapa hidup aku kayaknya stuck ?”, “Orang lain keliatan produktif banget, aku kok gini-gini aja ya?”  Tanpa sadar, kita lebih sering membandingkan daripada menikmati proses. Padahal Ramadhan datang buat ngajarin kita hal penting: tentang pelan-pelan, sadar, dan kembali ke diri sendiri. Apa Sih Maksudnya “ Detox Pi...

Selalu Menunda Pekerjaan? Hati-hati Prokrastinasi!

  Image by:  Psychological Science Tugas deadline besok tapi Puan malah scroll TikTok? Sudah tahu harus mulai mengerjakan proyek penting tapi malah bersih-bersih kamar dulu? Tenang, Puan tidak sendirian. Prokrastinasi adalah musuh bersama hampir semua orang. Apa Itu Prokrastinasi? Prokrastinasi adalah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau tugas yang seharusnya dikerjakan, meskipun Puan tahu akan ada konsekuensi negatifnya. Menurut Johns Hopkins University Academic Support (n.d.), semua orang pernah menunda tugas penting sesekali waktu. Masalah muncul ketika kita terus-menerus menunda dan tidak menyadari bahwa hal ini sudah menjadi kebiasaan buruk. Kenapa Puan Suka Menunda? Meskipun ada konsekuensi negatif jika tidak menyelesaikan suatu tugas, ada banyak alasan mengapa kita menunda-nunda, termasuk: Takut gagal atau tidak sempurna Puan menunda karena takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Daripada mengerjakan dan hasilnya mengecewakan, lebih baik tidak mulai sama sekali. Tugas...

Fashion Designer Bukan Sekedar Mendesain Baju, Yuk Ketahui Tanggung Jawab dari Profesi Ini!

  Source: Freepik Siapakah di antara Puan yang pecinta fashion ? Tentunya pakaian indah yang Puan kenakan nggak asal jadi, pastinya ada proses pembuatan dan campur tangan seorang fashion designer . Tahukah Puan seorang fashion designer bukan cuma mendesain aja, lho !  Banyak keahlian yang harus dimiliki seorang fashion designer demi menciptakan suatu pakaian. Fashion designer adalah seseorang yang menciptakan suatu pakaian dari nol . Seorang fashion designer biasanya mempunyai kreativitas dan daya imajinasi yang tinggi. Meskipun banyak yang bilang seorang fashion designer semata-mata hanya menciptakan “busana”, tetapi seiring berjalannya waktu seorang fashion designer akan berpengaruh terhadap dunia mode. Jadi, fashion designer adalah profesi yang sangat berpengaruh loh, Puan. Seorang fashion designer juga harus memiliki pengetahuan yang tinggi tentang sejarah fashion . Dengan begitu, seorang fashion designer bisa memahami fashion cycle dari waktu ke waktu. Namun, itu...