Langsung ke konten utama

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

Kenapa Kita Memilih Diam Padahal Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Diam yang Dipelajari dari Internalized Stigma

 

Image by: aDDitude magazine

 “What is most personal is most universal.”  Carl Rogers

Puan pernah ngga sih merasa capek, tapi tetap bilang “nggak apa-apa”? Atau lagi butuh bantuan, tapi malah berpikir, “Ah, nanti dibilang lebay.” Akhirnya dipendam, keep saving, dikuat-kuatin sendiri. Diam seperti ini jarang terjadi begitu saja. Ia sering kali adalah hasil dari sesuatu yang kita pelajari pelan-pelan sepanjang hidup: internalized stigma.

Apa itu internalized stigma?

Internalized stigma adalah proses ketika seseorang menyerap stigma sosial yang ada di lingkungannya, lalu mengarahkannya ke diri sendiri. Seperti dijelaskan oleh Corrigan & Watson (2002), internalized stigma terjadi ketika individu “menerima stereotip negatif tentang kelompoknya dan menjadikannya bagian dari konsep diri.” Artinya, suara yang meremehkan kita sering kali bukan suara kita sendiri, namun suara-suara orang  sekitar yang terlalu lama kita dengar. Peneliti Livingston & Boyd (2010) juga menjelaskan bahwa internalized stigma berkaitan erat dengan penurunan harga diri, rasa malu, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Sederhananya, stigma tidak berhenti di luar. Ia masuk, menetap, lalu berbicara dari dalam.

Kenapa ini membuat kita memilih diam?

Dalam berbagai konteks kehidupan sekarang, diam sering terasa lebih aman daripada jujur. Kita hidup di budaya yang memuji “kuat”, “tahan banting”, dan “nggak baper”. Tanpa sadar, pesan itu membentuk aturan tak tertulis: jangan mengeluh, jangan merepotkan, jangan terlihat lemah. Internalized stigma bekerja di balik layar. Ia membuat kita percaya bahwa:

  1. perasaan kita berlebihan

  2. kebutuhan kita tidak sepenting orang lain

  3. luka kita seharusnya bisa diatasi sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internalized stigma tinggi cenderung menghindari mencari bantuan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya (Corrigan et al., 2014). Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena merasa tidak pantas untuk dibantu. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan bebas, ia menjadi refleks. Silence culture dalam
kehidupan sehari-hari. Silence culture tidak selalu berupa larangan berbicara. Ia sering tampil lebih halus, misalnya terbiasa bilang “aku fine” padahal jelas tidak, menunda cerita sampai emosi keburu mati rasa, merasa bersalah setelah jujur soal perasaan. Saat berada di tempat kerja, ini terlihat dari orang-orang yang kelelahan tapi takut dicap tidak profesional. Pada acara keluarga, dari anak yang belajar bahwa menangis berarti lemah. Lingkungan pertemanan, dari kebiasaan menyembunyikan luka agar tetap “menyenangkan” Semua ini bukan kebetulan. Ini pola yang diwariskan.

Dampak jangka panjang dari diam yang dipelajari yakni diam yang terus dipelihara tidak membuat masalah hilang. Ia hanya mengubah bentuk. Penelitian Livingston & Boyd (2010) menemukan bahwa internalized stigma berkaitan dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan isolasi sosial. Ketika emosi tidak diberi ruang, ia sering muncul sebagai kelelahan kronis, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Yang melelahkan bukan hanya masalahnya, tapi usaha terus-menerus untuk terlihat “baik-baik saja”. Pelan-pelan keluar dari silence culture. Keluar dari pola ini tidak harus dramatis. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih aman.

1. Sadari bahwa diam itu dipelajari

Kalau ini dipelajari, artinya bisa dipelajari ulang. Ini bukan cacat karakter.

2. Mulai dari kejujuran kecil

Tidak harus cerita panjang. Kalimat sederhana seperti “aku lagi capek hari ini” sudah cukup melawan stigma.

3. Bedakan privasi dan penekanan

Menjaga batas itu sehat. Memendam karena takut dinilai, itu melelahkan.

4. Pilih ruang yang aman

Tidak semua orang perlu tahu. Satu orang yang bisa mendengar tanpa menghakimi sudah sangat berarti.

5. Periksa suara di kepala

Saat muncul pikiran “aku lebay”, Puan bisa tanya dengan “ini suaraku, atau suara stigma orang lain?

Pada akhirnya, memilih diam saat tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan hasil dari pola yang kita serap sejak lama. Internalized stigma membuat banyak dari kita belajar bahwa bertahan lebih dihargai daripada jujur. Padahal, keberanian sejati seringkali justru dimulai dari mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dengan menyadari pola ini, Puan punya kesempatan untuk perlahan mengambil kembali suara sendiri tanpa harus berteriak, cukup dengan berhenti memendam.


Referensi

Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). The paradox of self-stigma and mental illness. Clinical Psychology: Science and Practice, 9(1), 35–53.

Corrigan, P. W., Druss, B. G., & Perlick, D. A. (2014). The impact of mental illness stigma on seeking and participating in mental health care. Psychological Science in the Public Interest, 15(2), 37–70.

Livingston, J. D., & Boyd, J. E. (2010). Correlates and consequences of internalized stigma for people living with mental illness: A systematic review and meta-analysis. Social Science & Medicine, 71(12), 2150–2161.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...