Langsung ke konten utama

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...

Kenapa Kita Memilih Diam Padahal Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Diam yang Dipelajari dari Internalized Stigma

 

Image by: aDDitude magazine

 “What is most personal is most universal.”  Carl Rogers

Puan pernah ngga sih merasa capek, tapi tetap bilang “nggak apa-apa”? Atau lagi butuh bantuan, tapi malah berpikir, “Ah, nanti dibilang lebay.” Akhirnya dipendam, keep saving, dikuat-kuatin sendiri. Diam seperti ini jarang terjadi begitu saja. Ia sering kali adalah hasil dari sesuatu yang kita pelajari pelan-pelan sepanjang hidup: internalized stigma.

Apa itu internalized stigma?

Internalized stigma adalah proses ketika seseorang menyerap stigma sosial yang ada di lingkungannya, lalu mengarahkannya ke diri sendiri. Seperti dijelaskan oleh Corrigan & Watson (2002), internalized stigma terjadi ketika individu “menerima stereotip negatif tentang kelompoknya dan menjadikannya bagian dari konsep diri.” Artinya, suara yang meremehkan kita sering kali bukan suara kita sendiri, namun suara-suara orang  sekitar yang terlalu lama kita dengar. Peneliti Livingston & Boyd (2010) juga menjelaskan bahwa internalized stigma berkaitan erat dengan penurunan harga diri, rasa malu, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Sederhananya, stigma tidak berhenti di luar. Ia masuk, menetap, lalu berbicara dari dalam.

Kenapa ini membuat kita memilih diam?

Dalam berbagai konteks kehidupan sekarang, diam sering terasa lebih aman daripada jujur. Kita hidup di budaya yang memuji “kuat”, “tahan banting”, dan “nggak baper”. Tanpa sadar, pesan itu membentuk aturan tak tertulis: jangan mengeluh, jangan merepotkan, jangan terlihat lemah. Internalized stigma bekerja di balik layar. Ia membuat kita percaya bahwa:

  1. perasaan kita berlebihan

  2. kebutuhan kita tidak sepenting orang lain

  3. luka kita seharusnya bisa diatasi sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internalized stigma tinggi cenderung menghindari mencari bantuan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya (Corrigan et al., 2014). Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena merasa tidak pantas untuk dibantu. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan bebas, ia menjadi refleks. Silence culture dalam
kehidupan sehari-hari. Silence culture tidak selalu berupa larangan berbicara. Ia sering tampil lebih halus, misalnya terbiasa bilang “aku fine” padahal jelas tidak, menunda cerita sampai emosi keburu mati rasa, merasa bersalah setelah jujur soal perasaan. Saat berada di tempat kerja, ini terlihat dari orang-orang yang kelelahan tapi takut dicap tidak profesional. Pada acara keluarga, dari anak yang belajar bahwa menangis berarti lemah. Lingkungan pertemanan, dari kebiasaan menyembunyikan luka agar tetap “menyenangkan” Semua ini bukan kebetulan. Ini pola yang diwariskan.

Dampak jangka panjang dari diam yang dipelajari yakni diam yang terus dipelihara tidak membuat masalah hilang. Ia hanya mengubah bentuk. Penelitian Livingston & Boyd (2010) menemukan bahwa internalized stigma berkaitan dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan isolasi sosial. Ketika emosi tidak diberi ruang, ia sering muncul sebagai kelelahan kronis, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Yang melelahkan bukan hanya masalahnya, tapi usaha terus-menerus untuk terlihat “baik-baik saja”. Pelan-pelan keluar dari silence culture. Keluar dari pola ini tidak harus dramatis. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih aman.

1. Sadari bahwa diam itu dipelajari

Kalau ini dipelajari, artinya bisa dipelajari ulang. Ini bukan cacat karakter.

2. Mulai dari kejujuran kecil

Tidak harus cerita panjang. Kalimat sederhana seperti “aku lagi capek hari ini” sudah cukup melawan stigma.

3. Bedakan privasi dan penekanan

Menjaga batas itu sehat. Memendam karena takut dinilai, itu melelahkan.

4. Pilih ruang yang aman

Tidak semua orang perlu tahu. Satu orang yang bisa mendengar tanpa menghakimi sudah sangat berarti.

5. Periksa suara di kepala

Saat muncul pikiran “aku lebay”, Puan bisa tanya dengan “ini suaraku, atau suara stigma orang lain?

Pada akhirnya, memilih diam saat tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan hasil dari pola yang kita serap sejak lama. Internalized stigma membuat banyak dari kita belajar bahwa bertahan lebih dihargai daripada jujur. Padahal, keberanian sejati seringkali justru dimulai dari mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dengan menyadari pola ini, Puan punya kesempatan untuk perlahan mengambil kembali suara sendiri tanpa harus berteriak, cukup dengan berhenti memendam.


Referensi

Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). The paradox of self-stigma and mental illness. Clinical Psychology: Science and Practice, 9(1), 35–53.

Corrigan, P. W., Druss, B. G., & Perlick, D. A. (2014). The impact of mental illness stigma on seeking and participating in mental health care. Psychological Science in the Public Interest, 15(2), 37–70.

Livingston, J. D., & Boyd, J. E. (2010). Correlates and consequences of internalized stigma for people living with mental illness: A systematic review and meta-analysis. Social Science & Medicine, 71(12), 2150–2161.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

Tanpa Validasi Sana-Sini, 'Be of Service' Ternyata Kunci Pede yang Paling Slay!

Image by: Roxie Nafousi Pernah nggak sih, Puan ngerasa insecure gara-gara kelamaan scrolling TikTok? Lihat si A glow up maksimal, si B punya bisnis sendiri, sementara kita? Masih sibuk berantem sama jerawat atau pusing mikirin tugas kuliah yang nggak habis-habis. Rasanya pengen banget punya rasa pede buat tampil atau mulai sesuatu, tapi kok susah ya?  Baca juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/10/cara-membangun-kepercayaan-diri-untuk.html   Nah, kalau Puan terus-terusan fokus pada diri sendiri, ending -nya malah makin insecure karena manusia cenderung lebih mampu melihat kekurangannya sendiri dibanding kelebihannya. Menurut buku Confidence karya manifesting queen Roxie Nafousi, rahasia buat tampil pede itu justru adalah dengan mengalihkan fokus kita keluar, yaitu dengan membantu orang lain. Iya, Roxie bilang salah satu cara paling ampuh buat bangun rasa pede adalah dengan being of service alias jadi sosok yang bermanfaat buat orang lain. Kedengarannya berat ya, Puan? Pa...

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...

Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan!

Kenapa Sih Penting untuk Percaya Diri? Self development atau pengembangan diri adalah proses sadar untuk terus memperbaiki diri, baik dari segi cara berpikir, kebiasaan, maupun keahlian. Salah satu aspek terpenting dalam pengembangan diri adalah percaya diri. Tanpa kepercayaan diri, semua potensi yang Puan miliki bisa “terkunci”. Padahal, percaya diri bukan bawaan lahir, tapi ia bisa dilatih lewat pengalaman dan pola pikir yang tepat. Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA), orang yang memiliki self-confidence tinggi lebih mudah mengambil keputusan, berani mencoba hal baru, dan punya tingkat stres lebih rendah. Kenapa Perempuan Muda Masih Sering Ragu? Puan, nggak sedikit perempuan muda yang merasa “nggak cukup baik”. Apalagi di era media sosial, di mana kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai “comparison trap” dan sering jadi penghalang utama kepercayaan diri. Kabar baiknya, dengan growth mindset, rasa ragu itu bisa beru...

Hidup Tanpa FOPO: Rahasia Menjadi Lebih Percaya Diri

      Image by  pngtree.com Puan pernah enggak sih saat ketika sudah rapi lalu berdiri di depan cermin sambil bertanya ke diri sendiri, seperti “Penampilan aku udah OK belum ya?”, “Make up aku berlebihan enggak ya?”, atau “Aku kelihatan aneh enggak ya pakai baju ini?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena Puan khawatir dengan pandangan orang lain? Kalau iya, bisa saja Puan sedang mengalami FOPO atau Fear of Other People’s Opinions. Apa itu FOPO? Mengutip dari laman Harvard Business Review , Fear of Other People’s Opinions atau FOPO merupakan istilah yang mengarah pada perasaan cemas yang berlebihan terhadap pandangan orang lain. Alasan timbulnya perasaan cemas, takut, atau tegang ketika akan melakukan suatu aktivitas yang melibatkan banyak orang ialah karena khawatir terhadap ketidaksetujuan sosial pada diri sendiri. Istilah FOPO dicetuskan oleh Michael Gervais, PhD - seorang psikolog sekaligus penulis, yang memiliki pandangan bahwa rasa ketakutan ini merupa...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...