Langsung ke konten utama

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Kenapa Kita Memilih Diam Padahal Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Diam yang Dipelajari dari Internalized Stigma

 

Image by: aDDitude magazine

 “What is most personal is most universal.”  Carl Rogers

Puan pernah ngga sih merasa capek, tapi tetap bilang “nggak apa-apa”? Atau lagi butuh bantuan, tapi malah berpikir, “Ah, nanti dibilang lebay.” Akhirnya dipendam, keep saving, dikuat-kuatin sendiri. Diam seperti ini jarang terjadi begitu saja. Ia sering kali adalah hasil dari sesuatu yang kita pelajari pelan-pelan sepanjang hidup: internalized stigma.

Apa itu internalized stigma?

Internalized stigma adalah proses ketika seseorang menyerap stigma sosial yang ada di lingkungannya, lalu mengarahkannya ke diri sendiri. Seperti dijelaskan oleh Corrigan & Watson (2002), internalized stigma terjadi ketika individu “menerima stereotip negatif tentang kelompoknya dan menjadikannya bagian dari konsep diri.” Artinya, suara yang meremehkan kita sering kali bukan suara kita sendiri, namun suara-suara orang  sekitar yang terlalu lama kita dengar. Peneliti Livingston & Boyd (2010) juga menjelaskan bahwa internalized stigma berkaitan erat dengan penurunan harga diri, rasa malu, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Sederhananya, stigma tidak berhenti di luar. Ia masuk, menetap, lalu berbicara dari dalam.

Kenapa ini membuat kita memilih diam?

Dalam berbagai konteks kehidupan sekarang, diam sering terasa lebih aman daripada jujur. Kita hidup di budaya yang memuji “kuat”, “tahan banting”, dan “nggak baper”. Tanpa sadar, pesan itu membentuk aturan tak tertulis: jangan mengeluh, jangan merepotkan, jangan terlihat lemah. Internalized stigma bekerja di balik layar. Ia membuat kita percaya bahwa:

  1. perasaan kita berlebihan

  2. kebutuhan kita tidak sepenting orang lain

  3. luka kita seharusnya bisa diatasi sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan internalized stigma tinggi cenderung menghindari mencari bantuan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya (Corrigan et al., 2014). Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi karena merasa tidak pantas untuk dibantu. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan bebas, ia menjadi refleks. Silence culture dalam
kehidupan sehari-hari. Silence culture tidak selalu berupa larangan berbicara. Ia sering tampil lebih halus, misalnya terbiasa bilang “aku fine” padahal jelas tidak, menunda cerita sampai emosi keburu mati rasa, merasa bersalah setelah jujur soal perasaan. Saat berada di tempat kerja, ini terlihat dari orang-orang yang kelelahan tapi takut dicap tidak profesional. Pada acara keluarga, dari anak yang belajar bahwa menangis berarti lemah. Lingkungan pertemanan, dari kebiasaan menyembunyikan luka agar tetap “menyenangkan” Semua ini bukan kebetulan. Ini pola yang diwariskan.

Dampak jangka panjang dari diam yang dipelajari yakni diam yang terus dipelihara tidak membuat masalah hilang. Ia hanya mengubah bentuk. Penelitian Livingston & Boyd (2010) menemukan bahwa internalized stigma berkaitan dengan meningkatnya depresi, kecemasan, dan isolasi sosial. Ketika emosi tidak diberi ruang, ia sering muncul sebagai kelelahan kronis, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan. Yang melelahkan bukan hanya masalahnya, tapi usaha terus-menerus untuk terlihat “baik-baik saja”. Pelan-pelan keluar dari silence culture. Keluar dari pola ini tidak harus dramatis. Justru perubahan kecil yang konsisten lebih aman.

1. Sadari bahwa diam itu dipelajari

Kalau ini dipelajari, artinya bisa dipelajari ulang. Ini bukan cacat karakter.

2. Mulai dari kejujuran kecil

Tidak harus cerita panjang. Kalimat sederhana seperti “aku lagi capek hari ini” sudah cukup melawan stigma.

3. Bedakan privasi dan penekanan

Menjaga batas itu sehat. Memendam karena takut dinilai, itu melelahkan.

4. Pilih ruang yang aman

Tidak semua orang perlu tahu. Satu orang yang bisa mendengar tanpa menghakimi sudah sangat berarti.

5. Periksa suara di kepala

Saat muncul pikiran “aku lebay”, Puan bisa tanya dengan “ini suaraku, atau suara stigma orang lain?

Pada akhirnya, memilih diam saat tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan hasil dari pola yang kita serap sejak lama. Internalized stigma membuat banyak dari kita belajar bahwa bertahan lebih dihargai daripada jujur. Padahal, keberanian sejati seringkali justru dimulai dari mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dengan menyadari pola ini, Puan punya kesempatan untuk perlahan mengambil kembali suara sendiri tanpa harus berteriak, cukup dengan berhenti memendam.


Referensi

Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). The paradox of self-stigma and mental illness. Clinical Psychology: Science and Practice, 9(1), 35–53.

Corrigan, P. W., Druss, B. G., & Perlick, D. A. (2014). The impact of mental illness stigma on seeking and participating in mental health care. Psychological Science in the Public Interest, 15(2), 37–70.

Livingston, J. D., & Boyd, J. E. (2010). Correlates and consequences of internalized stigma for people living with mental illness: A systematic review and meta-analysis. Social Science & Medicine, 71(12), 2150–2161.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

“Aku Gak Kayak Cewek Lain…” Saatnya Kita Ngobrolin Tren Pick-Me Girl Tanpa Judging!

  Image by :  Ultimagz Kalau Puan sering scroll TikTok atau X, pasti Puan pernah dengar istilah “ pick me girl ” cewek yang seolah-olah bilang, “Aku beda dari cewek lain, lho.” Biasanya, ini untuk dapat perhatian cowok dengan cara menjelekkan sisi feminin, seperti bilang “Aku nggak suka dandan karena cewek itu ribet.” Apa Sih Pick‑Me Girl Itu? Menurut psikolog dari Universitas Airlangga, Dr. Ike Herdiana: Mengaku “aku berbeda dari cewek kebanyakan.” Sering merendahkan perempuan lain. Memperlihatkan sisi yang dianggap menarik bagi cowok   Kenapa Bisa Terjadi? Internalized Misogyny ! Tren ini bukan cuma gaya bicara. Ini soal patriarki dan misogini yang sudah tertanam , hingga perempuan juga menjelekkan sesamanya demi validasi laki-laki. Studi akademis juga mendukung bahwa tren TikTok tersebut memperkuat stereotip gender, rivalry,  dan memperlemah solidaritas antar perempuan. Dampak Negatifnya Lingkungan jadi gak nyaman Kalau perempuan saling merendah dan bersaing, nantinya...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Mengeluh: Cara Bijak Mengambil Manfaat Tanpa Terperangkap

Image by Greatmind   Puan, Siapa di dunia ini yang tidak pernah mengeluh? Tentunya kita semua pernah. Konon katanya, mengeluh adalah hobi dari kebanyakan orang. Dengan mengeluh, rasa stres memang bisa berkurang, tetapi apabila dilakukan terus-menerus, mengeluh bisa berubah menjadi kebiasaan marah yang serius. Kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak Puan dalam merespon hal-hal negatif. Keluhan-keluhan yang awalnya kecil bisa menjadi pembentuk kepribadian Puan. Jadi, boleh nggak sih kita ngeluh?  Nggak ada yang salah dengan mengekspresikan apa yang Puan rasakan, tentunya Puan tidak ingin mengubur perasaan Puan. Jika ada sesuatu yang pantas Puan keluhkan, lakukanlah. Namun, harus terus memantau perasaan Puan mengenai hal yang Puan keluhkan, apakah itu pantas untuk dikeluhkan atau hanya perasaan Puan saja? Menjaga sikap mengeluh pada batas wajar juga sangat penting agar Puan bisa tetap maju. Tahukah Puan, orang mengeluh juga ada macamnya loh, sini Priska ka...