Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Lebih Mengenal Dress Well: Rahasia Tampil Percaya Diri Setiap Hari



Puan, pernah nggak sih merasa hari jadi berantakan banget hanya karena merasa salah pilih baju? Atau sebaliknya, saat lagi pakai outfit andalan yang cocok, rasanya Puan seolah menjadi karakter utama dalam film perjalanan hidup Puan. Nah, perasaan itu bukan sekadar sugesti aja. Itu adalah efek nyata dari dress well.

Banyak yang masih salah arti nih soal dress well. Beberapa menganggap dress well adalah harus flexing barang-barang branded dari atas sampai bawah, atau ngikutin tren fashion yang setiap minggu ganti. Padahal, bukan seperti itu. Esensi dari dress well sebenarnya adalah seberapa bisa Puan menghargai diri sendiri lewat apa yang dikenakan.


Baju yang Puan Kenakan Berpengaruh ke Pikiran Lho!

Nah, di psikologi ada istilah keren namanya Enclothed Cognition. Fenomena di mana pakaian yang kita pakai memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang secara sistematis. 

Simpelnya gini, apa yang Puan pakai akan berpengaruh pada mood dan cara kerja otak. Pernah kan ngerasa males banget ngapa-ngapain waktu masih pake baju tidur seharian? Tapi begitu ganti baju rapi, rasanya langsung jadi produktif.

Pas Puan usaha buat tampil rapi dan bersih, secara gak sadar Puan lagi ngasih sinyal ke otak sendiri: "Oke, aku siap, aku kompeten, dan aku berharga." Jadi, dress well itu semacam cheat code untuk naikin level kepercayaan diri sebelum Puan ketemu orang lain.


Bukan Soal Merek, Tapi Soal Fit

Rahasia orang yang terlihat keren itu sebenarnya simpel: Fit is Everything. Agar Puan bisa mulai dress well tanpa bikin dompet nangis, coba perhatiin ini:

  1. Kenali Bentuk Badan Puan

Nggak semua tren cocok buat semua orang, dan itu wajar banget. Cari model yang bikin Puan ngerasa pede dan nyaman. Tonjolkan kelebihan Puan, jangan fokus nutupin kekurangan terus.

  1. Jangan Sampai Kusut

Percaya deh, baju mahal kalau lecek bakal kalah sama baju biasa yang licin sehabis disetrika. Kerapian itu kunci utama agar terlihat polite dan nyaman.

  1. Nyaman Itu Kuncinya! 

Percuma outfit Puan keren banget kalau Puan sibuk nahan napas karena celana kekecilan atau sibuk benerin kerah yang berantakan. Kalau nggak nyaman, aura percaya diri Puan akan ketutup sama ekspresi menahan derita.


First Impression Itu Penting!

Suka nggak suka, orang lain akan menilai kita dalam hitungan detik pertama cuma dari penampilan. Ini namanya first impression. Dengan dress well, Puan sedang menunjukkan kalau Puan adalah perempuan yang menghargai diri sendiri, dan otomatis orang lain juga bakal lebih segan dan respect sama Puan.

Jadi, dress well itu sebenarnya bentuk lain dari self-love. Bukan buat pamer atau jadi orang lain, tapi buat nampilin versi terbaik dari diri Puan. 

Mulai sekarang, coba luangkan waktu sedikit untuk memilih baju yang membuat Puan tersenyum waktu ngaca. Nggak perlu heboh, yang penting rapi, wangi, dan pas di badan. Ingat, outfit yang tepat bisa bikin mood bagus seharian, dan mood yang bagus adalah kunci kesuksesan hari-harinya Puan!


Referensi:

Enclothed Cognition

Tips Dress Well Untuk First Impression

Tips OOTD


Author and Editor: Zalfa Zahiyah P.W

Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...