Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Mengenal Apa Itu Emotional Numbness atau Mati Rasa

 



Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan ini, semakin banyak orang yang melaporkan merasa terisolasi dan kehilangan keterhubungan dengan emosi mereka. Fenomena ini dikenal sebagai emotional numbness atau mati rasa. Ketika seseorang mengalami emotional numbness atau mati rasa, mereka cenderung merasa tidak mampu mengakses, mengenali, atau merasakan emosi mereka dengan sepenuhnya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi apa yang dimaksud dengan mati rasa atau emotional numbness, gejala yang terkait, faktor-faktor penyebabnya, dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi kondisi tersebut.


Apa itu emotional numbness?

Emotional numbness atau mati rasa adalah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan, mengenali, atau mengalami emosi dengan intensitas yang seharusnya. Individu yang mengalami mati rasa emosional seringkali menggambarkan perasaan kosong, atau merasa tidak berdaya untuk mengekspresikan emosi mereka. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hubungan interpersonal, kepuasan hidup, dan kesejahteraan secara keseluruhan.


Gejala emotional numbness

Beberapa gejala yang mungkin muncul pada seseorang yang mengalami mati rasa emosional meliputi:

  1. Ketidakmampuan untuk merasakan kebahagiaan atau kegembiraan.

  2. Perasaan kosong, hampa, atau tidak ada emosi yang muncul.

  3. Kesulitan untuk mengekspresikan atau mengenali emosi pada diri sendiri dan orang lain.

  4. Penurunan minat pada aktivitas yang sebelumnya diminatii.

  5. Kesulitan membangkitkan motivasi dan semangat.

Seseorang yang mati rasa juga cenderung menghindari situasi di mana dirinya perlu mengungkapkan emosi yang muncul. Akibatnya, penderita sering menghindari interaksi dengan orang lain atau menghindari beberapa orang di dalam situasi tertentu sebagai mekanisme pertahanan diri.


Penyebab emotional numbness

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya mati rasa emosional, antara lain:

  1. Trauma Emosional: Pengalaman traumatis, seperti kehilangan yang mendalam atau kekerasan fisik atau seksual, dapat memicu mati rasa emosional sebagai mekanisme perlindungan.

  2. Stres Kronis: Paparan terus-menerus terhadap stres fisik atau psikologis yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merasakan emosi secara penuh.

  3. Penggunaan Zat: Penyalahgunaan zat seperti alkohol atau obat-obatan terlarang juga dapat menyebabkan mati rasa emosional.

  4. Mengalami gangguan stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, atau kecemasan dapat menyebabkan mati rasa emosional.

  5. Merasa lelah secara fisik dan mental atau burnout


Cara mengatasi emotional numbness

Meskipun emotional numbness bisa melindungi diri dari perasaan atau pengalaman negatif, kondisi ini bisa mengurangi kemampuan untuk merasa bahagia, dan interaksi atau aktivitas yang positif, termasuk hubungan intim.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi mati rasa emosional dan memulihkan keterhubungan dengan emosi kita:

  1. Mencari Bantuan Profesional: Jika mati rasa emosional berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari-hari, penting untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental seperti Psikolog atau Psikiater.

  2. Mengelola Stres: Menjaga gaya hidup yang sehat, seperti berolahraga secara teratur, beristirahat yang cukup sekitar 7-9 jam perhari, dan mengadopsi teknik relaksasi, dapat membantu mengurangi tingkat stres dan memulihkan koneksi emosional.

  3. Terlibat dalam Aktivitas Kreatif: Mengeksplorasi seni, musik, menulis, atau hobi lainnya dapat membantu menghidupkan kembali emosi dan mengungkapkan diri dengan cara yang bermakna.

  4. Mendukung Sosial: Membangun dan memelihara hubungan sosial yang sehat dengan orang-orang yang peduli dapat memberikan dukungan emosional yang penting dalam proses pemulihan.


Mati rasa emosional adalah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan dan mengenali emosi dengan intensitas yang seharusnya. Dalam usaha mengatasi mati rasa emosional, penting untuk mencari bantuan profesional, mengelola stres, terlibat dalam aktivitas kreatif, dan membangun hubungan sosial yang mendukung. Dengan upaya yang konsisten dan dukungan yang tepat, kita dapat memulihkan keterhubungan dengan emosi kita dan mengalami kehidupan yang lebih berarti dari sebelumnya. Memahami apa itu emotional numbness sangat penting karena kondisi ini tidak bersifat permanen dan bisa disembuhkan dengan mengubah kebiasaan.



Referensi

KOMPAS.com. 2023. Mengenal Apa Itu Emotional Numbness, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi. Diakses 1/07/2023 https://health.kompas.com/read/23E23220000668/mengenal-apa-itu-emotional-numbness-gejala-penyebab-cara-mengatasi?page=all#:~:text=Dilansir%20dari%20Verywell%20Mind%2C%20mati,baik%20secara%20mental%20dan%20fisik

ALODOKTER. 2022. Mengenal Istilah Emotional Numbness atau Mati Rasa Emosional. Diakses 2/07/2023 https://www.alodokter.com/mengenal-istilah-emotional-numbness-atau-mati-rasa-emosional 

halodoc. 2022. Merasa Hampa dan Mati Rasa, Waspada Emotional Numbness. Diakses 02/07/2023

https://www.halodoc.com/artikel/merasa-hampa-dan-mati-rasa-waspada-emotional-numbness



Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...