Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Terlanjur Oversharing? How to Deal With It?


psicologoarmandoarafat.co

Pada abad ke-21 ini, tak jarang kita menemukan orang yang suka oversharing kehidupannya di media sosial. Terkadang kita sendiri juga sering ingin tahu bagaimana kehidupan pribadi orang lain. Ketika melihat teman sebaya atau teman yang kita ikuti di media sosial berbagi kegiatan dan kehidupan pribadinya, mendorong kita untuk bertindak demikian juga. Namun, terkadang kita berada di titik yang terlalu menunjukan segala kehidupan kita di dunia maya. Ini lah yang disebut oversharing, Puan. Oversharing merupakan keadaan saat seorang individu pengguna media sosial terlalu sering membagi konten melalui akunnya sehingga mencapai level berlebihan. Oversharing sering dikaitkan dengan kecanduan media sosial.

Mungkin tujuan kita untuk menunjukan kegiatan atau aktivitas ke media sosial sebagai tempat untuk mengabadikan momen dan berbagi cerita kan, Puan. Namun tidak semua orang yang melihat aktivitas kita memiliki niat yang baik. Maraknya pelaku cyber crime membuat kita harus aware dalam menggunakan media sosial Puan. 

Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik kan, Puan? Nah, jika Puan sudah terlanjur atau nggak sengaja oversharing, mari simak beberapa tips dan trik yang bisa membantu Puan agar lebih bijak lagi kedepannya dalam menggunakan media sosial.

1. Berbagi hanya dengan teman yang sesungguhnya
Salah satu fitur yang disediakan oleh media sosial seperti Instagram, Facebook, WhatsApp, dan lain sebagainya, yaitu kita bisa memilih siapa saja yang bisa melihat story yang sudah kita upload. Kalau di Instagram kita mengenal fitur close friend kan, Puan? Hal ini bisa kita manfaatkan dalam membagikan aktivitas ataupun perasaan yang sedang Puan alami kala itu. Pilihlah teman-teman yang bisa dipercaya saat kita ingin menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi.

2. Menonaktifkan aplikasi berbasis lokasi
Beberapa media sosial memiliki fitur yang menunjukan lokasi keberadaan kita saat menggunakannya. Matikanlah fitur tersebut agar Puan tetap memiliki ruang aman dan privasi dalam menjalani aktivitas.

3. Teliti dengan fitur instant sharing di media sosial
Selain ada fitur berbagi lokasi yang berjalan otomatis, media sosial juga dilengkapi dengan fitur instan sharing. Misalnya seperti riwayat video apa saja yang sudah kita lihat di Youtube. Apa saja musik yang sedang kita dengarkan di Spotify. Jika Puan sudah merasa risih ketika banyak yang mengetahui kegiatan kita dalam media sosial, kita bisa matikan saja fitur tersebut.

4. Perbarui setting media sosial
Beberapa setting akun pada media sosial seperti nama, alamat email, dan password sebaiknya diperbaharui sekurang-kurangnya 3 bulan sekali. Dengan memperbarui setting media sosial, Puan bisa meminimalkan data Puan yang mengalami kebocoran loh.

Tips di atas bisa Puan terapkan agar kita menjadi pribadi yang modern dan bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan jadikan media sosial sebagai celah untuk orang lain bisa mencuri informasi pribadi kita ya, Puan.
 . . . . . . .

REFERENSI:

Majid. M. (2014). Tips Agar Tidak Oversharing di Media Sosial. Maxmanore.com. https://www.maxmanroe.com/tips-agar-tidak-oversharing-di-media-sosial.html

Murniaseh. E. (2020). Mengenal Oversharing di Medsos dan Cara Mencegah Efek Negatifnya. Tirto.id. https://tirto.id/mengenal-oversharing-di-medsos-dan-cara-mencegah-efek-negatifnya-f8eM

Adamo. N. Oversharing Attacks: Why They Happen & How To Stop Them. Natasha Adamo. https://natashaadamo.com/oversharing/


Author: Annisa Zahwatul Ummi
Editor: Maya Zahwa Aulia










Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...