Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Kenali Crab Mentality: Susah Lihat Orang Senang, Senang Lihat Orang Susah?

 

image by iStock

Puan relate sama istilah tersebut?

Crab Mentality merupakan metafora dari perilaku kepiting yang tidak akan membiarkan di antara mereka berhasil lolos dari suatu ember yang sama. Ketika ada yang mencoba melarikan diri, yang lain menariknya ke bawah. Bentuk solidaritas karena tidak ingin temannya dimakan. Namun, ketika dilihat dengan seksama, dibanding bertahan hidup atau melarikan diri dari kawanannya, kepiting memilih untuk mati bersama, berbagi kebahagiaan dalam kesengsaraan.

Perilaku tersebut merupakan analogi dari pola pikir egois, iri dan dengki terhadap kesuksesan orang lain. Maka dari itu, bisa kita lihat ketika seekor kepiting mecoba melarikan diri, kepiting lainnya berusaha menariknya ke bawah.

Tidak hanya dialami oleh sekelompok kepiting, perilaku ini kerap kita lihat di sekitar kita. Pernahkah Puan merasa teman-teman Puan iri dengan kemajuan Puan? Apakah Puan terkadang merasa keluarga Puan menyabotase Puan? Apakah Puan sering menjumpai rekan kerja yang tidak ramah ketika tampaknya Puan baru saja membuat presentasi terbaik?

“Ngapain sih terlalu buru-buru ngerjain tugasnya, udah kita barengan aja, tungguin aku dong!” 

Alih-alih menenangkan seorang teman, namun kalimat ini bisa menjadi salah satu bentuk ego dikarenakan tidak ingin didahului orang temannya. Akibatnya yang mendengar kalimat tersebut merasa bingung dan berpikir bahwa ia adalah teman yang egois. Padahal belum tentu, bisa saja yang mengatakan kalimat tersebut yang egois.

Memang, sih, tidak dapat dipungkiri kita pun terkadang memiliki rasa iri dengan pencapaian orang lain. Rasa kompetitif sebetulnya wajar dimiliki oleh semua orang. Namun, ketika hal ini diawali dengan perasaan negatif maka akan memberikan dampak negatif pula baik kepada orang lain maupun diri kita. Jadinya, ketika mendengar orang lain lebih baik daripada kita, kita jadi kesal, iri, nyinyir dan gak bisa bahagia mendengar kesuksesannya.

Lalu, bagaimana sih cara mengatasi crab mentality ini?

  1. Dorong, jangan tarik.
    Kamu tidak harus menjadi seekor kepiting yang menarik rekannya ke bawah untuk tetap bersama kamu, kamu bisa menjadi salah satu yang mendorong mereka ke atas. Tanamkan mindset bahwa dengan membantu mereka, kebaikan yang sama pun akan datang kepadamu.
  2. Lihat kesuksesan seseorang sebagai inspirasi kalian.
    Daripada merasa iri dengan kesuksesan, lihat kesuksesan mereka sebagai salah satu inspirasi kalian.
  3. Stop membandingkan diri.
    Hanya bandingkan diri kamu dengan diri kamu sebelumnya, kemajuan yang kamu alami, progress yang kamu lewatin atau lainnya. Tentu, it’s easier said than done. Namun , ketika melihat kesuksesan orang lain sebagai inspirasi, jangan lupa membuat arti “sukses” bagi dirimu sendiri.
  4. Besyukur adalah kuncinya.
    Kalau mau berpikir realistis, tentu akan selalu ada orang yang lebih baik dari kita. Seperti kutipan “di atas langit masih langit”. Kalau kita terus-menerus untuk menarik orang lain untuk berada di ember yang sama dengan kita, kita pun akan lelah sendiri dan tentunya tidak bisa berkembang. Syukuri apa yang telah kamu lakukan sampai hari ini, karena setiap orang pun memiliki jalannya masing-masing.

REFRENSI:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/your-neurochemical-self/201903/when-others-hold-you-back#:~:text=Crab%20mentality%20is%20a%20metaphor,humans%2C%20although%20in%20varied%20circumstances.

AUTHOR: Namratul Ulya

EDITOR: Putri Lestari

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...