Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Mengenali Inner Child: Menemukan Sisi Tersembunyi dalam Diri


Image by OSC Medcom.id


Inner child merupakan istilah psikologi yang akhir akhir ini dibicarakan semua orang. Pada dasarnya, inner child adalah sebuah konsep yang menggambarkan sifat dan sikap kekanak-kanakan yang dimiliki setiap orang. Namun, masing-masing individu tidaklah sama karena inner child terbentuk dari pengalaman saat masih anak-anak, Puan.

Bisa dibilang inner child merupakan sebagian dirimu yang tidak ikut tumbuh dewasa, menetap, dan bersembunyi menjadi anak-anak di dalam dirimu. Bagian ini terus menyimpan ingatan serta emosi yang pernah kamu alami saat masih kecil, memori baik ataupun buruk.

Banyak orang bahkan secara sadar maupun tidak sadar mengubur perasaan inner child-nya dan menyembunyikannya dengan alih-alih untuk melindungi diri sendiri. Namun, inner child ternyata bisa menyerap energi negatif ketika ia terluka loh. Lalu, sebenarnya apa menyebabkan bisa terluka ya, Puan?

Ada beberapa kejadian yang menjadi pemicu inner child seseorang terluka seperti:
- Kehilangan orang tua
- Terabaikan secara emosional
- Trauma masa kecil
- Kurangnya kasih sayang


Namun inner child dapat diatasi loh, Puan, dengan lima cara dibawah ini. Yuk disimak:

1. Identifikasi inner child kamu
Kamu bisa memulai identifikasi inner child-mu seperti melihat kembali kejadian kebelakang atau flashback seperti contoh; dulunya banyak dikritik, maka timbul rasa cemas ketika tidak mendapatkan dukungan atau kamu menjadi korban bullying.


2. Ucapkan permintaan maaf kepada inner child-mu
Katakanlah “Aku minta maaf yaa” kepada dirimu, hal ini bukan semata-mata kamu telah berbuat salah, tetapi kamu sudah memendam dan menyimpan emosi negatif yang cukup lama, sehingga menyebabkan luka dan kenangan buruk itu tertanam dalam dirimu. Permintaan maaf ini menjadi langkah awal untuk mencintai dirimu dan inner child-mu.


3. Perhatikan perasaan inner child
Penting untuk memperhatikan perasaan inner child-mu seperti; ketakukan, rasa tidak aman bahkan kegembiraan. Tanyakan lebih sering kapada inner child-mu Puan, sehingga kamu akan lebih tahu dan memperhatikan kebutuhan diri sendiri.


4. Menulis surat untuk inner child-mu
Tuliskan surat untuk inner child melalui secarik kertas, Puan. Kamu bisa menuliskan permintaan maaf jika selama ini menjalani hidup tanpa mempedulikan inner child-mu, tak hanya itu kamu juga bisa menuliskan ingin mengenal lebih jauh inner child agar dapat membangun hubungan lebih kuat untuk kehidupan yang saat ini kamu jalani.


5. Membuka diri
Setelah kamu memahami dan memperhatikan inner child pada dirimu, masuklah ke tahapan untuk membuka diri, Puan. Dalam menjalani selama proses ini, membuka diri menjadi langkah yang bisa dibilang sangat baik. Kamu akan perlahan lahan berdamai dengan masa lalu dan bersahabat dengan inner child-mu.


Dalam menjalani proses seperti di atas memanglah tidak mudah, Puan. Namun, dengan menjalaninya satu-persatu, kamu akan mencapai titik di mana dirimu akan merasa lega dan berdamai secara utuh. Akan tetapi, jika kamu mengalami kesulitan untuk memulai atau menjalaninya sendiri, kamu boleh banget meminta bantuan ahlinya.


Referensi :
tirto.id
satupersen.net
hellosehat.com


Author : Yuri Giantini
Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...