Langsung ke konten utama

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Empowering Future Leaders at Bloominar 2024 - A Journey of Career Mastery

[Jakarta, 11 Agustus 2024] – Bloominar 2024, sebuah webinar dari Bloomin Area yang bertujuan menginspirasi generasi muda untuk mempersiapkan masa depan karir mereka, telah sukses dilaksanakan pada Minggu, 11 Agustus 2024. Acara ini mengundang Amanda Nur Fadhillah—seorang ahli marketing dan content creator yang juga merupakan KOL (Key Opinion Leader) di Glints sejak Januari 2024—sebagai pembicara utama. Dengan tema "Career Mastery: Kuasai Kesempatan Karir Sejak Kuliah", acara ini dihadiri oleh lebih dari 15 peserta yang antusias untuk mendalami langkah-langkah mempersiapkan karir sejak dini.

Menyiapkan Karir dari Awal: Mengapa Lebih Cepat Lebih Baik

Amanda Nur Fadhillah membuka diskusi dengan menekankan pentingnya memulai persiapan karir sedini mungkin. Ia menggambarkan bahwa perjalanan karir tidak seharusnya dimulai setelah lulus, tetapi sejak awal masa perkuliahan, bahkan saat menjadi mahasiswa baru. “Persiapan karir itu adalah perjalanan, bukan sesuatu yang bisa disiapkan mendadak setelah lulus. Semakin cepat kita memulai, semakin besar peluang kita untuk sukses,” tegas Amanda.

'Golden Ticket' untuk Masa Depan: Privilege yang Diciptakan Sendiri

Salah satu konsep penting yang dibahas Amanda adalah persiapan karir sebagai ‘golden ticket’—sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan keistimewaan yang bisa didapatkan melalui usaha yang dilakukan sejak awal. Amanda menjelaskan bahwa privilege tidak hanya berasal dari latar belakang keluarga atau kekayaan, tetapi juga bisa dibangun melalui personal branding yang kuat. “Dengan mengikuti organisasi, magang, dan internship, kita sebenarnya sedang menciptakan privilege kita sendiri. Ini adalah tiket emas yang membuat kita lebih menonjol di dunia kerja,” ungkapnya.

Mengembangkan Soft Skills dan Hard Skills: Langkah Penting dalam Karir

Dalam sesi tersebut, Amanda juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara soft skills, hard skills, dan pengalaman (experience). Ia menggunakan analogi tangga, di mana setiap langkah melambangkan pengembangan keterampilan dan pengalaman yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan. Soft skills, seperti komunikasi, manajemen waktu, dan kepemimpinan, harus dikembangkan terlebih dahulu. “Setelah soft skills terbentuk, kita bisa mulai fokus pada hard skills yang spesifik sesuai dengan bidang yang kita minati. Semua ini harus dilakukan secara bertahap dan terus-menerus,” jelas Amanda.

CV dan Portofolio: Identitas Anda dalam Dunia Kerja

Amanda juga berbagi tips penting mengenai CV dan portofolio. Menurutnya, CV adalah pondasi yang menunjukkan riwayat pekerjaan, pendidikan, dan pencapaian seseorang, sementara portofolio lebih penting bagi mereka yang bekerja di industri kreatif. “Portofolio adalah bukti visual dari apa yang telah kita capai, dan ini sangat penting untuk menarik perhatian HR dalam proses rekrutmen,” kata Amanda.

Kiat Memasuki Industri Kreatif: Praktik dan Dokumentasi adalah Kunci

Pada sesi tanya jawab, Amanda memberikan panduan praktis untuk memasuki industri kreatif. Ia menyarankan peserta untuk tidak hanya belajar teori tetapi juga langsung mempraktikkan apa yang dipelajari dan mendokumentasikan hasilnya dalam bentuk portofolio. Amanda juga mengingatkan pentingnya memiliki mindset yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh pencapaian orang lain. “Bandingkan diri kalian dengan diri kalian di masa lalu, bukan dengan orang lain. Fokus pada progres kalian sendiri,” pesannya.

Menemukan Jalan Karir yang Tepat: Mengelola Waktu dengan Bijak

Amanda juga menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan organisasi. Ia menekankan pentingnya mengenali batasan diri dan fokus pada kegiatan yang memberikan kontribusi maksimal pada pengembangan diri. “Lebih baik ikut di beberapa kegiatan tapi totalitas, daripada banyak kegiatan tapi tidak maksimal,” ujarnya.

Penutup: Keluar dari Zona Nyaman

Amanda mengakhiri sesinya dengan menekankan pentingnya keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Menurutnya, zona nyaman bisa menjadi jebakan yang menghambat perkembangan diri. “Hidup yang terasa santai mungkin nyaman, tetapi itu tanda bahwa kita perlu mencari tantangan baru dan terus berkembang,” tutup Amanda.

Dengan terselenggaranya Bloominar 2024 ini, diharapkan para peserta dapat mengambil inspirasi dan langkah konkret dalam mempersiapkan karir mereka sejak dini, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...