Puan, pernahkah terpikir bahwa hidup akan terasa lebih bermakna jika setiap hari kita bangun bukan hanya untuk rutinitas, melainkan karena memiliki alasan yang membuat kita bersemangat?
Itulah yang disebut ikigai, sebuah filosofi hidup dari Jepang yang berarti ‘alasan untuk hidup’.
Ikigai mengajak kita menemukan titik temu antara apa yang kita cintai, kuasai, yang dibutuhkan dunia, dan yang bisa mendukung hidup kita. Kalau keempat hal ini ketemu, hidup nggak hanya berjalan, tetapi jadi lebih terarah dan bermakna.
Apa Itu Ikigai?
Secara sederhana, ikigai adalah pertemuan empat aspek penting dalam hidup:
Apa yang kamu cintai (what you love)
Apa yang kamu kuasai (what you’re good at)
Apa yang dibutuhkan dunia (what the world needs)
Apa yang bisa jadi sumber penghidupan (what you can be paid for)
Persimpangan dari empat elemen inilah yang jadi inti dari ikigai. Hal ini tidak hanya membuat hidup lebih terarah, tetapi juga memberi kepuasan batin terhadap diri kita sendiri.
Kenapa Ikigai Relevan untuk Kita?
Banyak sekali alasan mengapa Ikigai sangat relevan untuk kita khususnya gen z, berikut adalah beberapa alasan yang wajib Puan catat!
Alasan untuk bangun pagi. Ikigai memberi semangat baru dalam keseharian. Kita jadi sadar ada hal-hal sederhana yang bikin hidup lebih berarti.
Baik untuk kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa hidupnya punya makna lebih jarang mengalami depresi, demensia, atau masalah kesehatan lain.
Mengurangi rasa hampa dan FOMO. Di era media sosial ini, kita pasti mudah merasa tertinggal. Namun, Ikigai membantu kita untuk fokus terhadap hal kecil yang penuh makna, bukan sekadar perbandingan dengan orang lain.
Cara Menemukan Ikigai
Setelah kita tahu apa itu ikigai dan kenapa penting, sekarang saatnya Priska spill tips biar Puan bisa nemuin ikigai versi diri sendiri. Yuk siapin catatan, kita tulis bareng-bareng!
Mulai dari refleksi kecil. Tanyakan pada diri sendiri “hal sederhana apa yang bikin hati Puan tenang?” Bisa sesederhana jalan pagi, merawat tanaman, skincare-an, atau secangkir kopi hangat. Catat hal-hal itu sebagai titik awal.
Sambungkan passion dengan keahlian. Setelah tahu apa yang bikin hati tenang, coba gali lagi dengan pertanyaan “apa yang Puan suka dan kuasai?” Ketika keduanya ketemu, benih ikigai biasanya mulai terasa tumbuh.
Pikirkan apa yang dibutuhkan dunia atau lingkungan sekitar. Lanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang bisa aku berikan untuk orang lain?” Jawabannya bisa lewat karya, cerita, atau kontribusi. Dari situ, Puan akan melihat bahwa ikigai bukan hanya soal diri sendiri, melainkan tentang berdampak untuk sekitar.
Buat berkelanjutan. Kalau passion itu mau terus dijalani, pikirkan cara agar ia juga bisa mendukung finansial Puan. Nggak harus langsung besar, tapi cukup realistis dan bisa dijalani pelan-pelan.
Latih rasa syukur. Jangan lupa, ikigai juga muncul dari menikmati hal-hal kecil, seperti senyum, obrolan ringan bersama teman, atau rutinitas sederhana yang bikin hati tenang.
Ilustrasi Ikigai dalam Kehidupan Sehari-hari
Supaya Puan lebih gampang memahami konsep ikigai, Priska mau kasih contoh narasi sederhana. Yuk, perhatikan cerita di bawah ini:
“Setiap pagi aku bikin teh hangat sambil baca buku. Dari momen kecil itu aku merasa tenang dan jadi lebih ‘dekat dengan diriku sendiri.’ Lama-lama aku mulai menulis cerita pendek tentang pengalaman ini di blog pribadi. Nggak disangka, banyak teman yang membaca dan ikut merasa terinspirasi. Dari situ aku sadar, menulis bukan hanya passion dan skill, melainkan juga cara untuk berbagi sekaligus membuka peluang baru bagiku, dan inilah ikigai-ku.”
Narasi ini nunjukin bahwa ikigai nggak selalu harus berupa pencapaian besar. Justru sering muncul dari hal-hal kecil yang konsisten kita jalani setiap hari.
Ikigai bukan teori rumit, melainkan cara hidup yang bikin hari-hari kita lebih bernilai. Jadi, yuk Puan mulai gali “alasan bangun pagi” versi diri sendiri. Mulailah dari hal sederhana, rawat dengan konsistensi, lalu bagikan untuk jadi inspirasi. Karena sering kali, hidup yang bermakna, lahir dari momen kecil yang kita cintai, kuasai, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Author & Editor: Sarah Ardelia

Komentar
Posting Komentar