Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Cara Mengelola Stres: Teknik Sederhana yang Bisa Membantu Saat Pikiran Penuh

Puan Bisa - Cara Mengelola Stres: Teknik Sederhana yang Bisa Membantu Saat Pikiran Penuh
image by freepik
 

Puan pernah merasa capek, tapi nggak tau kenapa?

Ada momen ketika tubuh sebenarnya nggak terlalu lelah, tetapi pikiran terasa penuh dan sulit berhenti. Hal-hal kecil tiba-tiba terasa berat, dan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru dipenuhi overthinking. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa kewalahan tanpa benar-benar tau penyebabnya.

Sering kali kita menganggap stres sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Padahal, stres adalah respon alami tubuh. Ketika Puan berada di bawah tekanan, tubuh melepaskan hormon seperti Kortisol (stress hormone) yang meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, “ancaman” sering kali berasal dari pikiran sendiri—bukan situasi nyata—sehingga tubuh terus berada dalam keadaan siaga.

Teknik Sederhana untuk Mengelola Stres

Berbagai teknik seperti pernapasan, olahraga, dan meditasi sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara kita menerapkannya.

  1. Mengatur Pernapasan

Teknik pernapasan seperti pola 4-7-8 dapat membantu menenangkan sistem saraf. Dengan menarik napas selama empat detik, menahan tujuh detik, dan menghembuskan delapan detik, tubuh didorong untuk beralih ke kondisi yang lebih rileks.

Namun, penting untuk memahami bahwa teknik ini tidak selalu langsung efektif, terutama saat kecemasan sudah tinggi. Penelitian oleh Brown dan Gerbarg (2005) menunjukkan bahwa latihan pernapasan bekerja lebih baik jika dilakukan secara rutin.

Yang perlu diingat: lakukan secara konsisten, bukan hanya saat panik, dan jangan berharap efek instan

  1. Melakukan Aktivitas Fisik Ringan

Olahraga tidak harus selalu intens. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 10–20 menit sudah cukup membantu menurunkan kadar Kortisol dan memperbaiki suasana hati.

Menurut American Psychological Association, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam mengurangi stres. Pendekatan yang realistis seperti mulai dari ringan dan dilakukan secara rutin akan lebih efektif dibandingkan target yang terlalu tinggi di awal.

  1. Menerapkan Meditasi dan Mindfulness

Meditasi sering dianggap sebagai cara untuk mengosongkan pikiran, padahal tidak demikian. Konsep mindfulness yang diperkenalkan oleh Jon Kabat-Zinn justru menekankan kesadaran terhadap pikiran tanpa menghakimi.

Artinya, pikiran tetap akan muncul, tetapi kita belajar untuk tidak langsung larut di dalamnya. Hal ini membantu mengurangi overthinking dan meningkatkan kontrol terhadap emosi.

Kenapa Teknik Ini Sering Tidak Berhasil?

Banyak orang merasa teknik-teknik ini tidak efektif karena menggunakannya hanya saat stres sudah memuncak. Selain itu, harapan akan hasil yang instan juga membuat seseorang cepat menyerah.

Menurut National Institute of Mental Health, pengelolaan stres membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan solusi cepat yang digunakan sesekali.

Baca Juga: Tips agar Tetap Tenang di Bawah Tekanan 

Mencoba Mengelola, Bukan Menghilangkan

Stres tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi bisa dikelola. Dengan memahami cara kerja tubuh dan menerapkan teknik sederhana secara konsisten, Puan bisa membangun kemampuan untuk kembali tenang setelah menghadapi tekanan.

Pada akhirnya, keberhasilan bukan diukur dari seberapa jarang Puan merasa stres, tetapi dari seberapa baik Puan mampu meresponsnya.

Author & Editor: Daru Sekar Arum


Referensi: 

  • American Psychological Association. (2020). Stress effects on the body. https://www.apa.org
  • Brown, R. P., & Gerbarg, P. L. (2005). Sudarshan kriya yogic breathing in the treatment of stress, anxiety, and depression: Part I—Neurophysiologic model. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 11(1), 189–201. https://doi.org/10.1089/acm.2005.11.189

  • National Institute of Mental Health. (2021). 5 things you should know about stress. https://www.nimh.nih.gov

  • Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156. https://doi.org/10.1093/clipsy.bpg016


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...