Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Let Them Theory: Rahasia Hidup Lebih Ringan Tanpa Validasi Berlebihan - Puan Bisa Improvement


Image by: mariashriversundaypaper.com



Puan, pernah nggak merasa hidup ini melelahkan karena terlalu banyak suara dari luar?
Entah itu komentar pedas, perbandingan dengan pencapaian orang lain, atau ekspektasi yang terasa nggak realistis. Rasanya energi kita habis hanya untuk menyesuaikan diri dengan apa kata orang.

Nah, inilah yang coba dijawab oleh Let Them Theory, sebuah prinsip sederhana yang dikenalkan oleh Mel Robbins. Sederhananya, teori ini bilang kalau ada hal-hal di luar kendali kita, seperti pikiran, ucapan, atau tindakan orang lain, jawab saja dalam hati, “Let them.” Biarkan saja.

Kenapa? Karena nggak semua hal harus kita bawa masuk ke hati. Dengan berkata let them, kita sedang melatih diri untuk melepaskan kontrol palsu yang sebenarnya nggak pernah kita miliki.

Bagaimana Let Them Theory Membuat Hidup Lebih Ringan?

  1. Berdamai dengan Perbandingan 
    Di era media sosial, wajar kalau kita sering terpapar pencapaian orang lain. Tiba-tiba muncul rasa capek, minder, bahkan FOMO karena takut ketinggalan. Saat rasa itu muncul, puan coba ingat “Let them.”
    Perjalanan hidup kita berbeda.Pencapaian orang lain bukan tanda kita gagal, melainkan sinyal bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Fokuslah ke langkah kita sendiri.

  2. Mengikhlaskan yang Pergi
    Kadang pertemanan berubah, ada orang yang memilih pergi, dan kita merasa kehilangan. Sedih itu manusiawi, tapi jangan sampai membuat kita terjebak di masa lalu. Katakan pada diri Puan, “Let them go.” Jika ada yang pergi, berarti ruang kita sedang disiapkan untuk orang-orang yang lebih tepat.

  3. Membebaskan Diri dari Penghakiman
    Takut dinilai, takut gagal kita terlihat orang lain, atau takut dicap “sok”. Puan, sadarkah bahwa semua itu bisa jadi penjara yang tak kasatmata untuk diri. Kita jadi hidup hanya untuk validasi orang lain. Di sini Let Them Theory membantu kita untuk membiarkan mereka menilai, karena yang penting adalah kita tahu apa yang menjadi tujuan.

Penerapan Let Them Theory dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Tubuh & Kesehatan   
    Orang mungkin berkomentar soal penampilan Puan. Let them. Fokuslah ke pola makan sehat, olahraga, dan yang tidur cukup.

  2. Mental & Emosional
    Ada gosip atau kritik yang bikin gelisah? Let them talk.Pilih damai dengan journaling, meditasi, atau self-reflection.

  3. Sosial & Relasi
    Di media sosial, nggak semua orang harus suka sama Puan, dan itu normal. Let them disagree.Fokus kepada orang-orang yang benar-benar mendukungmu.

  4. Karier & Pekerjaan
    Pilihan profesimu mungkin diragukan orang lain. Let them doubt.Yang penting Puan bekerja keras dan berkembang.

  5. Spiritual & Makna Hidup
    Orang lain bisa saja berbeda keyakinan atau prinsip dengan kita. Let them believe what they want. Pegang teguh apa yang penting bagimu.


Let Them Theory bukan berarti kita cuek total, melainkan cara sehat untuk berhenti mengikat diri pada opini, perbandingan, dan ekspektasi orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.


Jadi, Puan, mari berdamai dengan perbandingan, penolakan, persetujuan, penghakiman, dan ekspektasi. Fokuslah pada hal-hal yang bisa Puan kontrol, yakni dirimu sendiri.

Ketika kritik, komentar, atau sorotan datang, cukup ingat satu kalimat sederhana “Let them”. 
Maka hidup jadi lebih ringan ketika kita berani memilih diri sendiri.







Referensi:


Eurekawoman.com. (2025, 8 Februari). Teori Let Them dari Mel Robbins: Rahasia untuk peduli lebih sedikit tentang omongan orang lain terhadap diri kita di tahun 2025. Diakses pada 30 September 2025, dari https://www.eurekawoman.com/self-development/154930589/teori-let-them-dari-mel-robbins-rahasia-untuk-peduli-lebih-sedikit-tentang-omongan-orang-lain-terhadap-diri-kita-di-tahun-2025


Maudy Ayunda’s Booklist. (2025). The Let Them Theory [Video]. YouTube. Diakses pada 30 September 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=3-vufBhLyZA


Author: Sarah Ardelia
Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...