Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Lagi Lelah Sama Hiruk Pikuk Dunia? Ini Dia 7 Aktivitas Simpel Biar Puan Tetap Waras di Tengah Kesibukan


Image by: dinkes.acehprov.go.id


Pernahkah Puan merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai?

Bangun pagi dengan niat ingin produktif, membuka laptop, lalu tanpa sadar berakhir pada scrolling Medsos. Waktu berjalan cepat, tugas belum tersentuh, dan rasa bersalah mulai datang perlahan. Tidak apa-apa, Puan, rasa lelah itu wajar. Hidup tidak selalu harus penuh semangat dan target. Ada masa ketika Puan hanya ingin berhenti sejenak, menarik napas, dan membiarkan diri tenang. November memang bulan transisi yang seringkali bikin burn out. Target belum kelar, tugas numpuk, tapi energi udah menipis duluan.

Sebagai seseorang yang juga pernah berada di titik itu, Priska ingin berbagi beberapa cara sederhana agar Puan tetap waras di tengah padatnya dunia. Yuk, baca artikel ini sampai akhir!
  1. Jalan kaki dan dengarkan lagu yang menenangkan
    Cobalah berjalan santai di sekitar lingkungan tempat tinggal Puan. Tidak perlu lama, cukup lima belas atau dua puluh menit sambil mendengarkan lagu yang disukai. Udara segar dan gerakan tubuh ringan dapat membantu Puan meredakan stres dan menata pikiran yang kusut. Kadang, solusi dari kelelahan justru muncul saat langkah kaki bergerak perlahan.

  2. Luangkan waktu untuk berkreasi
    Melukis, menulis, atau sekadar mencoret-coret di buku catatan dapat membantu Puan menyalurkan emosi dengan cara yang sehat. Tidak harus hasilnya indah, yang penting prosesnya jujur. Melalui kegiatan sederhana itu, Puan bisa mengenali diri sendiri lebih dalam.

  3. Coba memasak atau memanggang sesuatu
    Kegiatan memasak seringkali memberi rasa tenang. Dari menyiapkan bahan, mengaduk adonan, hingga melihat hasilnya matang, ada kepuasan kecil yang membuat hati hangat. Tidak perlu resep rumit. Roti pisang, cookies, atau sepiring mie dengan bumbu tambahan pun bisa jadi bentuk apresiasi untuk diri sendiri.

  4. Istirahat dari dunia digital
    Sesekali, lepaskan ponsel dan biarkan diri Puan terbebas dari notifikasi. Dunia tidak akan berhenti berjalan hanya karena Puan beristirahat sejenak. Terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial justru membuat pikiran semakin penuh. Tenangkan diri tanpa distraksi, dan rasakan perbedaan yang muncul setelahnya.

  5. Rawat tanaman atau bermain di alam sekitar
    Bagi Puan yang memiliki sedikit ruang di kamar atau halaman, coba tanam satu atau dua tanaman kecil. Merawat sesuatu yang tumbuh dengan perlahan mengajarkan kesabaran dan rasa syukur. Melihat daun baru muncul bisa menghadirkan kebahagiaan sederhana yang mungkin selama ini terlupakan.

  6. Cerita kepada teman atau diri sendiri
    Tidak semua hal harus disimpan sendirian. Kadang, berbagi cerita dengan teman bisa membantu Puan merasa lebih ringan. Jika sulit berbicara, Puan bisa menulis surat untuk diri sendiri. Kalimat sederhana seperti “hari ini aku sudah melakukan yang terbaik” sudah cukup berarti.

  7. Istirahat tanpa rasa bersalah
    Priska tahu, banyak dari kita merasa bersalah saat tidak produktif. Namun, istirahat juga bagian dari upaya bertahan. Rebahan, tidur siang, atau sekadar menatap langit tanpa melakukan apa pun tidak membuat Puan lemah. Justru dari jeda itulah energi baru akan muncul.
Sedikit pengingat dari Priska

Puan tidak harus selalu kuat setiap waktu. Tidak apa-apa merasa lelah, bingung, atau kehilangan arah. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling tulus menjalaninya. Jadi, ketika dunia terasa berat, berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat, tertawa, dan kembali menemukan makna. Karena pada akhirnya, keseimbangan bukan tentang melakukan banyak hal, tetapi tentang memahami kapan harus berhenti sejenak untuk memulai kembali dengan hati yang lebih tenang.



Referensi:

Robert Walters Australia. 2025. “How to Handle End-of-Year Burnout and Return Energised in 2026.” October 23 2025. Robert Walters Insights (blog). https://www.robertwalters.com.au/insights/career-advice/blog/how-to-handle-end-of-year-burnout-and-return-energised.html


Penulis dan Editor: Sarah Ardelia

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Image by : Grasindo Puan, pernah nggak sih ngerasa kalo hidup lagi di titik terendah? Nggak tau arah tujuan, motivasi hilang, overthinking berlebihan, dan rasanya pengen nyerah aja? Kalo Puan pernah atau lagi ada di posisi itu, tenang aja ya, Puan nggak sendirian kok. Apa yang Puan hadapi, persis banget kaya tokoh utama di buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna ini.  Pengertian Demotivasi Demotivasi yaitu suatu keadaan yang dialami seseorang ketika merasa kehilangan semangat, antusias, dan minat untuk melakukan aktivitas apa pun di dalam hidupnya. Pemicunya ada beberapa hal, seperti mental yang lelah, masalah hidup yang berat, keberadaan yang kurang dihargai, tekanan dari sekitar, atau merasa tidak percaya diri.   Hanya buku, tapi bisa jadi alasan bertahan hidup Dalam buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" ini bukan cuma cerita biasa, tokoh utama justru menemukan kembali alasan bertahan hidupny...