Langsung ke konten utama

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Lagi Lelah Sama Hiruk Pikuk Dunia? Ini Dia 7 Aktivitas Simpel Biar Puan Tetap Waras di Tengah Kesibukan


Image by: dinkes.acehprov.go.id


Pernahkah Puan merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai?

Bangun pagi dengan niat ingin produktif, membuka laptop, lalu tanpa sadar berakhir pada scrolling Medsos. Waktu berjalan cepat, tugas belum tersentuh, dan rasa bersalah mulai datang perlahan. Tidak apa-apa, Puan, rasa lelah itu wajar. Hidup tidak selalu harus penuh semangat dan target. Ada masa ketika Puan hanya ingin berhenti sejenak, menarik napas, dan membiarkan diri tenang. November memang bulan transisi yang seringkali bikin burn out. Target belum kelar, tugas numpuk, tapi energi udah menipis duluan.

Sebagai seseorang yang juga pernah berada di titik itu, Priska ingin berbagi beberapa cara sederhana agar Puan tetap waras di tengah padatnya dunia. Yuk, baca artikel ini sampai akhir!
  1. Jalan kaki dan dengarkan lagu yang menenangkan
    Cobalah berjalan santai di sekitar lingkungan tempat tinggal Puan. Tidak perlu lama, cukup lima belas atau dua puluh menit sambil mendengarkan lagu yang disukai. Udara segar dan gerakan tubuh ringan dapat membantu Puan meredakan stres dan menata pikiran yang kusut. Kadang, solusi dari kelelahan justru muncul saat langkah kaki bergerak perlahan.

  2. Luangkan waktu untuk berkreasi
    Melukis, menulis, atau sekadar mencoret-coret di buku catatan dapat membantu Puan menyalurkan emosi dengan cara yang sehat. Tidak harus hasilnya indah, yang penting prosesnya jujur. Melalui kegiatan sederhana itu, Puan bisa mengenali diri sendiri lebih dalam.

  3. Coba memasak atau memanggang sesuatu
    Kegiatan memasak seringkali memberi rasa tenang. Dari menyiapkan bahan, mengaduk adonan, hingga melihat hasilnya matang, ada kepuasan kecil yang membuat hati hangat. Tidak perlu resep rumit. Roti pisang, cookies, atau sepiring mie dengan bumbu tambahan pun bisa jadi bentuk apresiasi untuk diri sendiri.

  4. Istirahat dari dunia digital
    Sesekali, lepaskan ponsel dan biarkan diri Puan terbebas dari notifikasi. Dunia tidak akan berhenti berjalan hanya karena Puan beristirahat sejenak. Terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial justru membuat pikiran semakin penuh. Tenangkan diri tanpa distraksi, dan rasakan perbedaan yang muncul setelahnya.

  5. Rawat tanaman atau bermain di alam sekitar
    Bagi Puan yang memiliki sedikit ruang di kamar atau halaman, coba tanam satu atau dua tanaman kecil. Merawat sesuatu yang tumbuh dengan perlahan mengajarkan kesabaran dan rasa syukur. Melihat daun baru muncul bisa menghadirkan kebahagiaan sederhana yang mungkin selama ini terlupakan.

  6. Cerita kepada teman atau diri sendiri
    Tidak semua hal harus disimpan sendirian. Kadang, berbagi cerita dengan teman bisa membantu Puan merasa lebih ringan. Jika sulit berbicara, Puan bisa menulis surat untuk diri sendiri. Kalimat sederhana seperti “hari ini aku sudah melakukan yang terbaik” sudah cukup berarti.

  7. Istirahat tanpa rasa bersalah
    Priska tahu, banyak dari kita merasa bersalah saat tidak produktif. Namun, istirahat juga bagian dari upaya bertahan. Rebahan, tidur siang, atau sekadar menatap langit tanpa melakukan apa pun tidak membuat Puan lemah. Justru dari jeda itulah energi baru akan muncul.
Sedikit pengingat dari Priska

Puan tidak harus selalu kuat setiap waktu. Tidak apa-apa merasa lelah, bingung, atau kehilangan arah. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling tulus menjalaninya. Jadi, ketika dunia terasa berat, berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat, tertawa, dan kembali menemukan makna. Karena pada akhirnya, keseimbangan bukan tentang melakukan banyak hal, tetapi tentang memahami kapan harus berhenti sejenak untuk memulai kembali dengan hati yang lebih tenang.



Referensi:

Robert Walters Australia. 2025. “How to Handle End-of-Year Burnout and Return Energised in 2026.” October 23 2025. Robert Walters Insights (blog). https://www.robertwalters.com.au/insights/career-advice/blog/how-to-handle-end-of-year-burnout-and-return-energised.html


Penulis dan Editor: Sarah Ardelia

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...