Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

New Year Resolutions: Starting Point Untuk Tahun Baru

 


Image by: BBC.com


Tahun baru identik dengan awal yang baru. Salah satu tradisi yang paling populer adalah bikin resolusi tahun baru. Dari "tahun ini aku mau lebih sehat" sampai "tahun ini aku bakal lebih produktif,” resolusi jadi semacam komitmen personal untuk jadi versi yang lebih baik.

Tapi, apa sih resolusi tahun baru itu? Gimana cara bikinnya yang beneran jadi starting point yang baik untuk 2026, Puan?


Apa Itu New Year Resolutions?

New Year Resolutions atau resolusi tahun baru merupakan keputusan atau komitmen yang dibuat di awal tahun untuk mengubah atau meningkatkan sesuatu dalam hidup Puan. Fakultas Bahasa & Sastra UNESA menjelaskan bahwa New Year Resolutions adalah janji yang dibuat seseorang di awal tahun untuk meningkatkan diri atau mencapai tujuan tertentu. Bisa soal kesehatan, karir, relationship, keuangan, atau aspek hidup lainnya.

Resolusi ini biasanya berbentuk goals atau perubahan kebiasaan yang ingin dicapai sepanjang tahun. Misalnya, "aku mau olahraga rutin,” "aku mau belajar skill baru,” atau "aku mau lebih rajin menabung.”

Tradisi ini sudah ada sejak lama. Bahkan ribuan tahun lalu, orang Babilonia kuno udah bikin janji di awal tahun mereka (meskipun kalender mereka beda dari kita). Jadi ini bukan cuma tren modern, resolusi adalah cara manusia untuk refleksi dan merancang tujuan untuk masa depan.


Kenapa Orang Bikin Resolusi Tahun Baru?

Ada beberapa alasan kenapa resolusi tahun baru jadi tradisi yang bertahan sampai sekarang:

  • Fresh Start Mentality

Tahun baru kasih perasaan "clean slate,” kayak halaman kosong yang bisa diisi dengan apapun. Ini bikin orang merasa punya kesempatan untuk mulai dari awal, lepas dari kesalahan atau kegagalan tahun sebelumnya.

  • Momentum dan Motivasi

Energi awal tahun itu beda. Ada excitement, optimis, dan motivasi yang lebih tinggi. Moment ini cocok banget untuk commit ke perubahan karena Puan lagi dalam mode "siap untuk hal baru.”

  • Evaluasi Diri

Akhir tahun adalah waktu natural untuk ngeliat ke belakang, apa yang sudah tercapai, apa yang belum, apa yang mau diperbaiki. Resolusi jadi output dari refleksi ini, commitment untuk action di tahun depan.


Cara Membuat New Year Resolutions

Bikin resolusi ga harus ribet. Ini beberapa langkah yang bisa Puan ikuti:

  • Refleksi dulu

Sebelum bikin resolusi, luangin waktu untuk mikir, apa yang penting buat Puan? Area mana dari hidup Puan yang pengen ditingkatkan? Ga perlu banyak-banyak, fokus ke yang beneran penting.

  • Spesifik itu penting

Hindari resolusi yang terlalu umum kayak "aku mau lebih baik.” Bikin yang lebih konkret: "aku mau olahraga 3x seminggu" atau "aku mau baca 1 buku per bulan.” Makin spesifik, makin jelas langkahnya.

  • Realistis

Pengen punya goals yang ambisius itu bagus, tapi pastikan itu achievable. Kalau Puan ga pernah olahraga, jangan langsung target gym setiap hari. Mulai dari yang realistis: 2x seminggu dulu, nanti naik bertahap.

  • Tulis dan tempel

Jangan cuma simpan di kepala. Tulis resolusi Puan dan taruh di tempat yang sering Puan lihat. Bisa di notes HP, bisa di vision board, atau sticky notes di meja. 

  • Punya accountability

Bikin tracking system, bisa bullet journal, aplikasi, atau sekadar kalender. Accountability bikin Puan lebih committed sama resolusi yang udah Puan bikin. 


New Year Resolutions bisa jadi starting point yang efektif  untuk tahun 2026 Puan, kalau didekati dengan cara yang tepat. Bukan cuma janji kosong yang dibuat di malam tahun baru terus dilupakan di Februari. Resolusi yang baik adalah yang spesifik dan realistis buat Puan. Bukan karena orang lain bikin, bukan karena Puan "harusnya" punya resolusi, tapi karena Puan beneran pengen perubahan itu.

Tahun baru, starting point baru. Resolusi bisa jadi kompas yang bantu Puan menjalani 2026 dengan lebih terarah. Jadi, udah siap bikin resolusi tahun ini? 



Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi: Fakultas Bahasa dan Sastra UNESA. (2025, January 2). New Year Resolution. https://s1pbing.fbs.unesa.ac.id/post/new-year-resolution

Ready, Study, Go! Poland. (2024, December 29). The power of the New Year's resolution. https://study.gov.pl/news/power-new-years-resolution

The Editors of ProCon. (2025, December 16). New Year's resolutions: Are New Year's resolutions helpful? Britannica ProCon. https://www.britannica.com/procon/New-Years-resolutions-debate




Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...