Langsung ke konten utama

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Why Feeling Lost Can Be Part of Finding Yourself



Ada fase dalam hidup ketika Puan gak lagi gagal, tetapi juga belum ngerasa benar-benar ‘sampai’. Hidup berjalan seperti biasanya, rutinitas tetap dilakukan, tanggung jawab tetap dilaksanakan, namun di dalam diri muncul rasa gelisah yang sulit dijelaskan. Bukan karena hidup berantakan, melainkan karena Puan mulai mempertanyakan hal-hal yang dulu masih terasa pasti.

Fase ini sering kali gak disadari sebagai bagian penting dari pengembangan diri. Ia datang tanpa tanda dramatis, tanpa perubahan besar, namun pelan-pelan menggeser cara Puan memandang diri sendiri dan arah hidup. Feeling lost in the process of finding yourself, proses menjadi diri sendiri yang berjalan perlahan, namun membentuk fondasi yang kuat.

Dalam proses ini, ada beberapa pengalaman yang kerap dirasakan banyak orang, dan kemungkinan besar juga dirasakan oleh Puan.

• Muncul dorongan untuk mempertanyakan jati diri

Puan mulai bertanya tentang siapa diri Puan sebenarnya, bukan berdasarkan peran atau ekspektasi, tetapi berdasarkan apa yang rasanya selaras. Pertanyaan ini gak selalu menghasilkan jawaban cepat, namun kehadirannya itu menandakan kesadaran Puan yang semakin matang.

• Hidup terasa berjalan, tapi arah belum sepenuhnya jelas

Puan tetap ngejalanin hari, tetap produktif, namun ada perasaan seperti berjalan tanpa peta. Kondisi ini sering disalah artikan sebagai tersesat, padahal justru menunjukkan bahwa Puan tidak lagi hidup secara otomatis.

Muncul rasa gak nyaman terhadap definisi sukses yang lama

Hal-hal yang dulu kita kejar mulai terasa hambar. Puan mungkin mulai menyadari bahwa standar keberhasilan yang selama ini dipegang gak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan batin.

Feeling lost dalam proses menemukan diri sendiri bukan tentang berhenti untuk nunggu jawaban, melainkan tentang tetap bergerak di tengah ketidak pastian. Proses ini mengajarkan bahwa hidup gak harus selalu dipahami sepenuhnya untuk bisa kita jalani.

Puan tetap bisa melangkah meski belum yakin

Keyakinan gak selalu hadir di awal. Dalam banyak kasus, ia justru terbentuk setelah Puan berani menjalani pilihan-pilihan kecil dengan sadar.


Baca juga: Mindfulness Ketika Puan Belajar Hadir


• Identitas tidak harus dikunci terlalu cepat

Jati diri bukan sesuatu yang harus ditentukan sekali seumur hidup. Ia berkembang seiring pengalaman, refleksi, dan perubahan nilai.

• Kebingungan bukan tanda kegagalan

Kebingungan sering kali muncul ketika Puan sedang berada di titik transisi. Ia menandakan bahwa ada proses evaluasi yang sedang berlangsung, bukan kemunduran.

Dalam konteks self development, fase ini justru yang sangat krusial. Tanpa proses pelan ini, banyak orang membangun hidup di atas arah yang gak pernah benar-benar mereka pilih sendiri. The slow burn of feeling lost memberi ruang bagi Puan untuk membangun arah hidup yang lebih autentik, meski membutuhkan waktu lebih lama.

• Makna sering terbentuk setelah dijalani, bukan sebelum

Puan gak perlu memahami seluruh rencana hidup sekarang. Cukup hadir, jalani, dan biarkan pengalaman membentuk pemahaman secara bertahap.

• Pertumbuhan yang pelan sering kali lebih tahan lama

Karena gak dibangun dari impuls atau tekanan, tetapi dari kesadaran dan penerimaan diri.

Pada akhirnya, Feeling lost dalam proses menemukan diri sendiri adalah tentang keberanian untuk tetap hidup secara penuh, bahkan ketika gak semua hal bisa kita jelaskan. Tentang menerima bahwa gak tahu adalah bagian dari perjalanan. Dan tentang percaya bahwa selama Puan terus bergerak dengan sadar, arah itu sedang dibentuk secara perlahan, tapi nyata.


Referensi:




Author & Editor: Irda Adelina Dalimunthe


Puan Bisa merupakan komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dengan fokus: Mental Health, Karier, dan Self- Improvement.

Komentar

Rubik Puan Popular

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Lebih dari Sekedar Musik: Intip Pesan Harapan di Balik Lagu "1–800–273–8255"

  Image by @LinesofLogic ( https://x.com/LinesofLogic) Halo, Puan! Ada nggak nih dari kamu yang merupakan penikmat musik? Sini-sini, Priska mau kasih tahu kamu tentang satu lagu yang bukan sekedar lagu, tapi ada pesan harapan dan makna mendalam, lho! Lagu berjudul  “1–800–273–8255” merupakan sebuah lagu yang di populerkan oleh rapper logic dan berkolaborasi dengan penyanyi  Alessia Cara dan Khalid. Pastinya Puan udah nggak asing lagi kan dengan nama-nama musisi diatas? Menariknya, lagu ini dinamakan  berdasarkan nomor telepon untuk American National Suicide Prevention Lifeline (NSPL).  Logic memilih judul ini agar mudah diingat dan dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.  Lagu ini dimulai dari perspektif seseorang yang memanggil nomor National Suicide Prevention Lifeline dan memberi tahu bahwa mereka tidak ingin hidup lagi. Berikut beberapa liriknya:  I don’t wanna be alive, I don’t wanna be alive I just wanna die And let me tell yo...