Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Self-Love di Era Digital: Mencintai Diri Sendiri di Tengah Gempuran Filter Media Sosial

Ilustrasi perempuan yang menerapkan self-love (talktoangel.com)

Pernah nggak sih Puan lagi santai scrolling Instagram atau TikTok, terus tiba-tiba perasaan Puan berubah jadi down? Buka akun si A, dia baru aja keterima magang di perusahaan multinasional. Geser ke story si B, dia lagi liburan di Bali. Buka TikTok si C, dia lagi share rutinitas glow up yang badannya kelihatan sempurna.

Tanpa sadar, jari Puan berhenti bergerak, lalu muncul suara kecil di kepala: "Kok hidup orang lain sempurna banget ya? Kok aku gini-gini aja?"

Selamat datang di era digital, di mana membandingkan diri (social comparison) bisa dilakukan hanya dalam satu kedipan mata. Di sinilah kenapa self-love atau mencintai diri sendiri bukan lagi sekadar tren atau kutipan keren di Pinterest, tetapi menjadi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup secara mental.

Kenapa sih menerapkan self-love di zaman sekarang itu susahnya minta ampun? Karena kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di media sosial adalah highlight reels alias potongan-potongan momen terbaik dalam hidup orang lain, bukan kehidupan mereka yang sebenarnya.

Nggak ada orang yang bakal posting foto saat mereka lagi nangis karena tugas numpuk atau kerjaan yang banyak. Ketika Puan membandingkan proses internal Puan yang berantakan dengan hasil luar orang lain yang sudah dipoles filter, kita pasti bakal merasa kalah. Self-love adalah pengingat terbaik kalau Puan nggak lagi berlomba dengan siapa pun.

Baca juga: Mengatasi Perbandingan Sosial: Menggenggam Self-Acceptance di Era Media Sosial

Self-Love Bukan Cuma Soal "Bubble Bath" dan Belanja

Banyak orang salah arti berpikir kalau self-love itu bentuknya harus beli barang mahal, perawatan di salon, atau self-reward. Padahal, kalau setelah belanja Puan malah pusing mikirin biayanya, itu namanya bukan self-love.

Di era digital ini, self-love yang keren justru sering kali berbentuk ketegasan kita dalam membuat batasan (boundaries) dengan internet.

Cara Menerapkan Digital Self-Love

Kalau Puan pengen mulai belajar mencintai diri sendiri dengan lebih sehat di digital ini, coba deh beberapa langkah berikut:

Unfollow/Mute Akun Distraksi

Akun media sosial Puan adalah rumah digital Puan. Kalau ada akun yang setiap kali Puan lihat postingannya malah bikin Puan merasa minder, insecure, atau merasa "kurang", jangan ragu untuk klik tombol unfollow atau mute. Puan berhak menjaga mind peace sendiri.

Praktikkan "Digital Detox"

Coba sediakan waktu minimal 1–2 jam sebelum tidur tanpa menyentuh HP. Gunakan waktu itu untuk ngobrol sama keluarga, baca buku, atau sekadar membiarkan pikiran Puan beristirahat tanpa asupan informasi dari luar.

Ubah Kritik Jadi Evaluasi yang Ramah

Saat Puan melakukan kesalahan atau merasa tertinggal, jangan langsung memaki diri sendiri di dalam hati. Bayangkan kalau teman dekat Puan lagi curhat masalah yang sama ke Puan. Puan pasti bakal menyemangatinya, kan? Nah, perlakukan diri Puan sendiri dengan kelembutan yang sama.

Rayakan "Small Wins" Versi Puan!

Nggak usah nunggu dapet pencapaian besar baru merasa bangga. Berhasil bangun pagi tepat waktu, bisa nolak ajakan nongkrong saat lagi capek, atau sukses menyelesaikan satu tugas hari ini adalah kemenangan kecil yang layak Puan apresiasi.


Ingat ya, nilai diri Puan sebagai manusia itu nggak ditentukan oleh berapa jumlah likes di postingan, berapa banyak koneksi di LinkedIn, atau seberapa estetik feeds Instagram-mu. Puan itu berharga apa adanya, lengkap dengan segala proses dan ketidaksempurnaan Puan.

Mulai hari ini, yuk kurangi melihat ke layar orang lain dan mulai lebih banyak melihat ke dalam diri sendiri. Be kind to yourself, because you are the only 'you' you've got!


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Pentingnya Self-Love dan Cara Menerapkannya. (2024, December 30). Alodokter. https://www.alodokter.com/pentingnya-self-love-dan-cara-menerapkannya


Author & Editor: Zalfa Zahiyah


Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...