Langsung ke konten utama

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

How to Stay Productive While Grieving

 

Source: https://pin.it/5b4AbRDlY 

Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka?


Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita.


Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"?


1. Redefine What "Productive" Means

Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari.


Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari sebelum rasa duka itu muncul. Karena itu, Puan dapat memilah apa yang benar-benar penting dan melepaskan hal-hal yang bisa ditunda (Massey, 2025).


Jadi, kalau biasanya Puan bisa menyelesaikan lima tugas dalam sehari, mungkin sekarang hanya satu atau dua yang sanggup dikerjakan; dan itu gapapa. Produktif bukan tentang menyelesaikan sebanyak mungkin, tetapi tentang melakukan apa yang memang mampu Puan lakukan saat ini.


2. Let It Grieve

Namun, bagaimana kalau hari itu Puan benar-benar nggak punya energi untuk melakukan apa pun? Ada kalanya rasa sedih datang begitu besar sampai rasanya fokus saja sudah terlalu berat. Kalau memang sedang berada di titik itu, Puan nggak harus memaksakan diri untuk tetap produktif. It’s okay to give yourself a day to grieve.


Menangislah kalau memang Puan ingin menangis. Tidur kalau tubuh terasa lelah. Dengarkan lagu bila ingin, journaling, curhat ke teman, atau bahkan hanya diam seharian juga nggak apa-apa, kok, Let it out, Puan. Memberi ruang untuk berduka kadangkala merupakan bagian dari proses untuk kembali menjalani hari-hari berikutnya. 


You are allowed to grieve. You are allowed to rest. And you are allowed to start again tomorrow.


3. Take Care of the Basics

Tetap jangan lupakan bahwa tubuh Puan juga membutuhkan perhatian. Tidur cukup, makan, bergerak sedikit, dan menjaga lingkungan tetap nyaman mungkin terdengar seperti hal kecil. Tapi justru hal-hal sederhana tersebut bisa membantu Puan tetap menjalani aktivitas sehari-hari.


Jessica Massey (2025) dalam blog-nya membagikan bahwa dirinya memilih untuk fokus pada kebutuhan dasar seperti tidur yang cukup, makanan yang membuat tubuh terasa lebih baik, serta aktivitas fisik ringan seperti berjalan dan stretching ketika berduka. Jadi, start small is enough.


Kalau hari ini Puan baru sanggup jalan kaki 10 menit, that counts. Kalau Puan baru sanggup mandi, makan, lalu kembali tidur, that counts too. Karena merawat diri bukan sesuatu yang harus menunggu sampai Puan merasa lebih baik. Justru, hal-hal kecil tersebut bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju hari yang sedikit lebih baik.


4. Create a Simple Routine

Ketika Puan sudah merasa sedikit lebih siap untuk kembali beraktivitas, Puan gak perlu langsung membuat rutinitas yang penuh. Bisa mulai dari hal-hal kecil dan lakukan secara bertahap


Cam Taylor (2026) membagikan bahwa rutinitas sederhana seperti berjalan kaki, makan tepat waktu, journaling, melakukan aktivitas yang disukai, dan tidur pada waktu yang relatif sama dapat membantu seseorang tetap bergerak melalui proses berduka.


Puan bisa membuat rutinitas sesederhana: Bangun - makan - kerjakan satu hal - istirahat - jalan sebentar - free time - tidur.


Tidak perlu sempurna, yang penting ada sedikit struktur yang membantu Puan melewati hari. Kalau hari ini baru sanggup menyelesaikan satu tugas, it's enough. Puan selalu bisa mencoba satu hal lagi esok hari.


Productivity Doesn't Have to Look Perfect


Pada akhirnya, tetap produktif saat berduka bukan tentang bagaimana Puan bisa kembali menjadi versi diri yang "normal" secepat mungkin, karena grief nggak punya timeline yang sama untuk setiap orang. Ada hari ketika Puan mungkin merasa cukup kuat untuk kembali menjalani banyak aktivitas, tetapi ada juga hari ketika bangun dan mandi saja sudah terasa seperti sebuah pencapaian. Both are valid (Massey, 2025).


Jadi, just take it one day at a time, Puan. Kalau hari ini bisa bekerja, kerjakan apa yang memang perlu dikerjakan. Kalau hari ini terasa terlalu berat, beri ruang untuk berhenti sejenak. Dan ketika sudah siap, mulai lagi dari hal-hal kecil.


Karena tetap melanjutkan hidup bukan berarti melupakan rasa kehilangan; it means learning to live with it, one day at a time.


"Pain is certain, but suffering is optional."

Kita nggak selalu bisa memilih rasa sakit yang datang kepada kita. Tapi, kita masih punya pilihan tentang bagaimana kita meresponsnya, bagaimana kita merawat diri, dan bagaimana kita perlahan melanjutkan hidup setelahnya.




Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi:

Messey, J. (2025, Maret 4). How to Get Things Done When Grief Leaves You Drained. Hustle Sanely. https://www.jessicamassey.com/blog/grievingandgettingthingsdone

Taylor, C. (2026, Maret 24). Three Ideas to Keep You Moving When Grieving. The Good Grief Journey. https://www.goodgriefjourney.com/grief-blog/keep-moving-through-grief


Author & Editor: Lilis Fadilah



Komentar

Rubik Puan Popular

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Lebih dari Sekedar Musik: Intip Pesan Harapan di Balik Lagu "1–800–273–8255"

  Image by @LinesofLogic ( https://x.com/LinesofLogic) Halo, Puan! Ada nggak nih dari kamu yang merupakan penikmat musik? Sini-sini, Priska mau kasih tahu kamu tentang satu lagu yang bukan sekedar lagu, tapi ada pesan harapan dan makna mendalam, lho! Lagu berjudul  “1–800–273–8255” merupakan sebuah lagu yang di populerkan oleh rapper logic dan berkolaborasi dengan penyanyi  Alessia Cara dan Khalid. Pastinya Puan udah nggak asing lagi kan dengan nama-nama musisi diatas? Menariknya, lagu ini dinamakan  berdasarkan nomor telepon untuk American National Suicide Prevention Lifeline (NSPL).  Logic memilih judul ini agar mudah diingat dan dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.  Lagu ini dimulai dari perspektif seseorang yang memanggil nomor National Suicide Prevention Lifeline dan memberi tahu bahwa mereka tidak ingin hidup lagi. Berikut beberapa liriknya:  I don’t wanna be alive, I don’t wanna be alive I just wanna die And let me tell yo...